Isu Terkini

Mengenal Gejala Omicron yang Sudah Terdeteksi di Indonesia

Tesa– Asumsi.co

featured image
ANTARA FOTO/Jojon

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin telah menyampaikan kasus varian Omicron masuk ke Indonesia pada Kamis (16/12/21). 

Keberadaan varian Omicron diketahui berdasarkan hasil sampel secara rutin yang diambil oleh tim Wisma Atlet pada Rabu (8/12/2021). Sampel tersebut menunjukkan tiga orang positif COVID-19 dan satu diantaranya terpapar varian Omicron.

Badan Litbangkes Kemenkes melakukan Whole Genome Sequencing (WGS) dari hasil sampel yang diterima untuk memastikan terkait kemunculan varian Omicron. Hasilnya, pasien berinisial N yang merupakan pekerja pembersih di Wisma Atlet terjangkit virus tersebut. 

Pemerintah meminta supaya masyarakat tetap tenang menghadapi varian baru yang telah masuk ke Indonesia. 

Selain Indonesia, kasus varian Omicron terdapat di sejumlah negara ASEAN, seperti Malaysia, Singapura, Kamboja, Thailand, dan Filipina. 

Omicron bermutasi: Melansir NBC News, kasus infeksi Omicron telah berkembang. Varian ini diketahui menampilkan lebih dari 30 mutasi pada protein lonjakan virus.

Protein lonjakan virus merupakan bagian yang menutupi bagian luar virus dan sebagai target utama vaksin serta perawatan seperti antibodi dan monoklonal.

Diprediksi mutasi akan membantu varian tersebut menyebar lebih mudah. Sehingga memungkinkannya untuk menghindari antibodi pelindung yang dihasilkan oleh vaksin sebelumnya. 

Penyebaran lebih cepat dan ancaman negara: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap Omicron menyebar lebih cepat daripada jenis virus Corona yang terdeteksi sebelumnya. Varian ini dikhawatirkan menjadi ancaman terbesar setiap negara.

Melansir NBC Chicago, Direktur CDC Rochelle Walensky senada dengan WHO yang menyebutkan varian Omicron menular lebih cepat daripada Delta. Penyebaran terjadi dalam waktu dua kali lipat atau sekitar dua hari.

Gejala Omicron: CDC melihat gejala yang dialami oleh 43 orang yang terinfeksi Omicron, yakni batuk, kelelahan, dan hidung tersumbat atau pilek. Padahal, lebih dari tiga perempat peserta telah divaksinasi penuh hingga mendapatkan suntikan booster. 

Di samping itu, para ahli juga memperingatkan akan terjadinya lonjakan besar dari varian baru tersebut. Lonjakan kasus dapat membanjiri sistem perawatan kesehatan di negara-negara yang terkena dampak parah. Meskipun, varian Omicron tidak menjadi penyakit yang begitu parah.

Ditambahkan Ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan Angelique Coetzee, terdapat sedikit perbedaan dari Omicron dengan Delta. Pasien Omicron mengalami gatal di bagian tenggorokan, bukan sakit. Selain itu, pasien tidak mengalami hilang rasa atau bau.

Jangan lengah, tetap waspada: Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah dengan varian baru ini. Dia meminta supaya tidak meremehkan Omicron walaupun tingkat rawat inap masih rendah jika dibandingkan pasien Delta.

Khususnya untuk masyarakat yang belum divaksinasi akan lebih rentan terhadap COVID-19 terutama varian Omicron. Komisioner Departemen Kesehatan Masyarakat Chicago Allison Arwady mengantisipasi penularan ini terhadap mereka yang belum divaksin karena berdampak pada peningkatan jumlah rawat inap.

Fenomena yang dikhawatirkan sejumlah ahli apabila gelombang Delta dan Omicron meningkat secara bersamaan. Mereka khawatir rumah sakit dan staf akan kewalahan menahan peningkatan rawat inap.

Keefektifan vaksin: Para ahli saat ini menduga Omicron agak resisten terhadap vaksin. Namun, administrator kesehatan terbesar di Afrika Selatan menemukan dua suntikan vaksin Pfizer-BioNTech 70 persen efektif melindungi diri terhadap potensi rawat inap dari infeksi varian Omicron, dibandingkan dengan 90 persen perlindungan terhadap rawat inap dari Delta.

Di sisi lain, penelitian menunjukan vaksin AstraZaneca dan Pfizer kurang efektif dalam mencegah infeksi simtomatik pada orang yang terpapar Omicron. Meskipun data awal menunjukkan efektivitas tersebut meningkat antara 70 persen dan 75 persen setelah dosis booster ketiga.

Belum diketahui dampak untuk anak-anak: WHO mengatakan kasus Omicron telah terdeteksi di lebih dari 70 negara. Saat ini belum diketahui apakah varian tersebut memiliki risiko lebih tinggi pada bayi dan anak-anak dibandingkan varian sebelumnya. Para ilmuwan juga masih memantau dengan cermat wilayah di dunia yang terdampak varian Omicron.

Patuhi protokol kesehatan: Pemerintah Indonesia memastikan akan terus mempercepat vaksinasi. Namun, masyarakat juga harus mendukung kebijakan tersebut dengan tetap menaati protokol kesehatan.

Selain itu, Ketua Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 Letnan Jenderal TNI Suharyanto meminta masyarakat untuk tidak bepergian ke luar negeri untuk sementara waktu hingga keadaan pulih.

Keadaan yang memaksa perjalanan ke luar negeri meliputi keperluan pekerjaan, masalah kesehatan, kedukaan, atau urusan penting lainnya. Ketika itu terjadi, Suharyanto meminta masyarakat untuk mematuhi Surat Edaran Satgas Nomor 25 dan 26 Tahun 2021.


Baca Juga:


Share: Mengenal Gejala Omicron yang Sudah Terdeteksi di Indonesia