Teknologi

TNI AL Jadi Target Hacker China

OlehIrfan Muhammad

featured image
Pixabay

Angkatan Laut Indonesia disebut menjadi target dari peretasan hacker China. Selain TNI AL, peretas dari negeri tirai bambu itu juga disebut melancarkan operasinya untuk menjebol banyak organisasi pemerintah lain dan banyak sektor swasta di Asia Tenggara.

Mengutip Taipei Times, secara umum, Indonesia menjadi satu dari tiga target utama peretasan China di Asia Tenggara, selain Malaysian dan Vietnam.

Belum jelas apakah para peretas ini disponsori negara atau tidak. Namun berdasarkan laporan yang diungkan Insikt Group, perusahaan keamanan siber swasta yang berbasis di Massachusetts, serangan ini menyasar organisasi militer dan pemerintahan kelas atas di Asia Tenggara.

Gunakan Malware: Diperkirakan, peretasan ini telah berlangsung selama sembilan bulan dengan menggunakan malware seperti FunnyDream dan Chinoxy. Perangkat kustom ini tidak dimiliki secara publik tapi sering digunakan di banyak kelompok yang dipercaya disponsori oleh China. Targetnya juga berhubungan dengan kepentingan politik dan ekonomi China.

"Kami percaya aktivitas ini sangat mungkin dilakukan oleh aktor negara, sebagai hasil observasi jangka panjang bahwa peretasan ini mentargetkan banyak lembaga pemerintah kelas atas dan politik," kata Insikt.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri China tidak segera menanggapi permintaan komentar atas tuduhan tersebut.

Di masa lalu, otoritas China secara konsisten membantah segala bentuk peretasan yang disponsori negara. Alih-alih mengaku, China justru menyebut pihaknya sebagai serangan utama siber.

Pemberitahuan: Insikt sendiri telah memberi notifikasi pada sejumlah negara yang diduga jadi target peretasan pada bulan Oktober. Sepanjang tahun 2021, Insikt Group juga melacak kampanye spionase siber yang terus-menerus menargetkan kantor perdana menteri, entitas militer, dan departemen pemerintah dari pesaing klaim Laut China Selatan seperti Vietnam, Malaysia, dan Filipina.

"Korban tambahan selama periode yang sama termasuk organisasi di Indonesia dan Thailand," ucap dia.

Sebagian besar kampanye itu dikaitkan dengan kelompok yang dilacak di bawah pengidentifikasi sementara Kelompok Aktivitas Ancaman 16, atau TAG-16, kata Insikt Group.

"Kami juga mengidentifikasi bukti yang menunjukkan bahwa TAG-16 berbagi kemampuan khusus dengan kelompok aktivitas yang terkait dengan Tentara Pembebasan Rakyat [China] RedFoxtrot," kata kelompok itu.

Secara keseluruhan, Insikt Group mengatakan telah mengidentifikasi lebih dari 400 server unik di Asia Tenggara yang berkomunikasi dengan malware, tetapi tidak jelas informasi apa yang telah diretas.

Baca Juga

Share: TNI AL Jadi Target Hacker China