Isu Terkini

Erupsi Gunung Semeru Terkait Curah Hujan Tinggi

Ray Muhammad — Asumsi.co

featured image
ANTARA/HO-Diskominfo Lumajang

Aktivitas Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur telah lama dipantau sebelum mengalami erupsi dan memuntahkan awan panas, Sabtu (4/12/2021) sore. Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Eko Budi Lelono, mengatakan aktivitas gunung ini telah diamati sejak bulan lalu.

Terjadi Embusan Gas

Eko menjelaskan, Gunung Semeru merupakan gunung merapi yang memiliki tipe strato dengan kubah lava yang puncak tertingginya berada di Mahameru dengan ketinggian 3.676 di atas permukaan laut.

“Aktivitas Gunung Semeru saat ini terdapat di kawah Jonggring Seloko yang terletak di sebelah tenggara puncak Mahameru yang terbentuk sejak 1913,” katanya dalam keterangan pers yang ditayangkan kanal YouTube BNPB.

Letusan Gunung Semeru, lanjut dia, umumnya bertipe vulkanian dan strombolian berupa penghancuran kubah atau lidah lava, serta pembentukan kubah lava atau lidah lava baru.

Penghancuran kubah atau lidah lava ini menyebabkan pembentukan awan panas guguran yang merupakan karakteristik dari Gunung Semeru.

“Jadi pengamatan hari ini, secara visual standar I hingga 30 November 2021 sebelum kejadian ini, gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut teramati embusan gas dari kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal tingginya lebih kurang 100 sampai 600 meter dari puncak.

Kolam Erupsi

Eko menuturkan sejauh ini cuaca di sekitar Gunung Semeru cerah dengan sesekali turun hujan yang anginnya lemah dan suhu udara berkisar antara 20 sampai 32 derajat celcius.

Erupsi yang terjadi terus menerus menghasilkan kolam erupsi berwarna kelabu dengan tinggi maksimum 300 hingga 600 meter di atas puncak kawah.

Pada saat erupsi, diketahui terjadi awan panas dengan luncuran 1.700 meter dari puncak atau 700 meter dari ujung aliran lava dengan arah luncuran ke Tenggara.

“Pasca kejadian awan panas guguran terjadi, guguran lava dengan jarak dan arah luncuran tidak teramati. Kemudian pada tanggal 4 Desember 2021 mulai pukul 13.30 WIB terekam getaran banjir pada seismogram,” ungkapnya.

Jenis Gempa

Adapun pada pukul 14.50 WIB, teramati awan panas guguran dengan jarak luncur 4 km dari puncak atau 2 km dari ujung aliran lava ke arah Tenggara, mengarah ke sungai Besuk Kobokan.

Dari segi kegempaan, Eko menerangkan jenis gempa yang terekam selama tanggal 1 sampai 30 November 2021 didominasi oleh gempa letusan dengan rata-rata 50 kejadian per hari.

Sedangkan pada tanggal 1 sampai 3 Desember 2021 terekam gempa guguran dengan masing-masing empat kali gempa. Eko mengatakan pihaknya juga mengamati adanya gempa vulkanik dalam, dangkal, dan tremor terekam dengan jumlah sangat rendah.

“Dari hasil pengamatan visual ini, menunjukkan pemunculan guguran dan awan panas guguran diakibatkan oleh ketidakstabilan endapan lidah lava dan interaksi batuan yang bersuhu relatif tinggi dengan air hujan,” terangnya.

Ia memastikan, aktivitas gunung yang terjadi dari tanggal 1 sampai tanggal 4 Desember merupakan aktivitas yang terjadi di permukaannya yang tidak menunjukan adanya kenaikan gempa-gempa yang berasosiasi dengan suplai magma ke permukaan.

Potensi Ancaman

Sementara itu, dari sisi potensi ancaman erupsi Gunung Semeru berupa lontaran batu pijar di sekitar puncak, sedangkan material lontaran berukuran abu dan tersebar lebih jauh tergantung arah dan kecepatan angin.

“Potensi ancaman bahaya lainnya, berupa awan panas guguran dan guguran batuan dari kubah atau ujung lidah lava ke sektor tenggara dan  selatan dari puncak,” imbuhnya.

Menurutnya, jika hujan maka dapat terjadi lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di daerah puncak. Maka, berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental disimpulkan tingkat aktivitas Gunung Semeru masih ditetapkan di Level II atau waspada.

Sebagai rekomendasi dalam status level II atau waspada, kata dia masyarakat, pengunjung, dan wisatawan diminta tidak beraktivitas dalam radius 1 km dari kawah atau puncak Gunung Semeru.

“Serta jarak 5 km arah bukaan kawah di sektor Selatan dan Tenggara. Serta mewaspadai awan panas guguran lava dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru,” ujarnya.

Terus Dipantau

Eko menyebut rekomendasi radius ini akan dievaluasi untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya. Sebab, terjadinya ketidakstabilan endapan atau lidah lava ini kemungkinan besar disebabkan curah hujan tinggi yang memicu lava mengalami erupsi.

“Tapi dari sisi kegempaan ini relatif rendah dan tidak berasosiasi dengan peningkatan suplai magma. Tim pengamat bekerja 24 jam untuk mengamati kalau sewaktu-waktu ada peningkatan aktivitas Gunung Semeru,” kata dia.

Bila terjadi peningkatan aktivitas Gunung Semeru, Eko memastikan akan seger mengkoordinasikannya dengan pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dan Pemerintah Daerah setempat.

“Nanti kami bisa mengantisipasi tindakan selanjutnya, menyiapkan  langkah-langkah menghadapi bahaya yang terjadi. Tim di lapangan masih memantau, tapi kelihatannya ada kemunginan curah hujan tinggi memicu awan panas guguran. Kami pantau terus aktivitasnya,” tandasnya.

Baca Juga

Share: Erupsi Gunung Semeru Terkait Curah Hujan Tinggi