Internasional

Tuduh Bakal Ada Kudeta, Presiden Ukraina Tegaskan Siap Perang dengan Rusia

OlehIrfan Muhammad

featured image
theweek.in

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengatakan bahwa Rusia mengirim sinyal "sangat berbahaya" dengan pergerakan pasukan di perbatasan. Zelensky juga memperingatkan bahwa militernya siap untuk melawan serangan apapun.

Mengutip AFP, Zelensky menyebut Kiev telah mengungkap plot kudeta yang melibatkan warga Rusia, tetapi tidak memberikan rincian lengkap. Peringatan itu datang ketika pemerintah Barat meningkatkan kekhawatiran atas pergerakan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina.

Washington pun mengeluarkan pernyataan yang menyebut pihaknya memiliki "keprihatinan nyata" atas penambahan pasukan di sana. "Kami percaya bahwa retorika yang sangat berbahaya akan keluar dari Rusia. Ini adalah sinyal bahwa mungkin ada eskalasi," kata Zelensky.

Zelensky mengatakan Ukraina siap menghadapi Rusia jika Moskow memutuskan untuk memindahkan pasukan melintasi perbatasan. "Ada ancaman hari ini bahwa akan ada perang besok," katanya, seraya menambahkan bahwa tentara "kuat" Kiev "sepenuhnya siap".

Dia meminta Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menyangkal bahwa dia merencanakan invasi. Moskow sendiri telah menolak tuduhan itu dan menyalahkan tudingAn Washington yang meningkatkan soal ketegangan di wilayah tersebut.

 Kremlin juga menuduh Kiev melakukan "provokasi" dalam konflik selama bertahun-tahun dengan separatis pro-Rusia di dua wilayah timur yang memisahkan diri.

Kepala NATO, Jens Stoltenberg, menyebut kekhawatiran Barat tentang peningkatan suhu konflik di perbatasan Rusia-Ukraina akan menimbulkan biaya. “Itu akan memiliki konsekuensi,” ucap dia.

Plot Kudeta

Zelensky mengatakan Kiev memiliki informasi tentang "perwakilan Rusia" yang mencoba melibatkan oligarki berpengaruh Ukraina Rinat Akhmetov dalam plot kudeta.

Dia mengatakan Ukraina memiliki rekaman audio sebagai bukti plot, dengan Rusia "membahas" peran Akhmetov dalam kudeta "untuk satu miliar dolar."

Zelensky juga mengatakan hal tersebut direncanakan untuk awal Desember dengan tujuan "mengguncang situasi di dalam negara kita."

Ditanya tentang klaim tersebut, Kremlin mengatakan "Rusia tidak pernah melakukan kegiatan seperti itu." Pekan ini Kiev memperingatkan Moskow bahwa mereka akan "membayar mahal" untuk setiap agresi terhadapnya.

Sementara itu, Putin telah menyuarakan keprihatinan atas latihan militer pimpinan AS di Laut Hitam -- wilayah sensitif bagi Rusia, yang mengontrol semenanjung Krimea sejak mencaploknya dari Kiev.

Dia juga mengkritik Kiev karena menggunakan pesawat tak berawak buatan Turki untuk melawan separatis, dengan mengatakan langkah itu melanggar perjanjian damai.

Dalam panggilan telepon dengan Presiden Dewan Eropa, Charles Michel, Putin mengatakan dia khawatir bahwa "provokasi" oleh Kiev akan mengobarkan ketegangan di Ukraina timur.

Konflik di wilayah perbatasan Ukraina-Rusia memang telah berlangsung lama. Konflik itu telah merenggut lebih dari 13.000 nyawa sejak dimulai pada 2014.

Sejak Krimea dicaplok Rusia, Ukraina telah mengumpulkan pengalaman tempur dan menerima senjata dan perangkat keras dari sekutu Barat, terutama Amerika Serikat yang telah berkomitmen $2,5 miliar untuk mendukung pasukan Ukraina sejak 2014.

Baca Juga

Share: Tuduh Bakal Ada Kudeta, Presiden Ukraina Tegaskan Siap Perang dengan Rusia