Politik

Mengeker Potensi Para Tokoh di Pilpres 2024

Irfan — Asumsi.co

featured image
ANTARA FOTO/Novrian Arbi

Perhelatan
Pemilihan Presiden 2024 boleh jadi masih akan berlangsung dua tahun lagi.
Tetapi meski penyelenggaraannya masih terbilang panjang, sejumlah partai
politik telah memanaskan mesin politiknya masing-masing.

Bukan
hanya partai, sejumlah tokoh yang dianggap potensial juga semakin santer
digadang-gadang untuk maju dalam kompetisi itu. Meski belum ada yang menyatakan
diri secara langsung untuk maju, sejauh ini sejumlah tokoh yang disorot nampak ke permukaan.

Beberapa
nama yang paling sering muncul di sejumlah survei di antaranya tiga Gubernur
yakni Ganjar Pranowo dari Jawa Tengah, Ridwan Kamil dari Jawa Barat, dan Anies
Baswedan yang memimpin DKI Jakarta. Selain itu ada juga Ketua Umum Gerindra
yang juga Menteri Pertahanan Prabowo Subianto serta Ketua Umum Partai Demokrat
Agus Harimurti Yudhoyono.

Semua
tokoh ini saling bersaing dengan elektabilitas dan popularitasnya
masing-masing. Namun bagaimana dengan latar belakang dan potensi kepemimpinan
mereka?

Kepada
Asumsi.co, pengamat politik dari Exposit Strategic Arif Susanto menyebut
agak sulit sebenarnya mengurung elektabilitas dan popularitas para kandidat ini
jika ingin melihat potensi kepemimpinan mereka ke depan. Soalnya, semua posisi
mereka menentukan potensinya kelak.

Prabowo
dan AHY misalnya, unggul karena bisa menjadi penentu. Sebagai ketua parpol, dua
tokoh ini mampu menentukan pilihan siapa yang akan diusung dan kemana koalisi
akan diarahkan. Seperti diketahui, dukungan partai politik masih menjadi pemain
dominan dalam menentukan kandidat yang akan maju kelak.

Sementara,
Anies dan Ridwan Kamil, meski popularitas dan elektabilitasnya tinggi, cukup
sulit karena bukan kader dari salah satu partai politik.

Namun,
hal ini juga tidak lantas membuat dominasi tunggal ada di parpol. Melihat peta
politik kekinian, hampir kecil kemungkinan ada partai yang bisa mengusung
kandidatnya sendiri. Sehingga koalisi amatlah diperlukan.

“Kalau
sudah koalisi partai, yang dipertimbangkan adalah elektabilitas dan popularitas
tadi. Makanya sulit untuk kita mengunci popularitas dan elektabilitas untuk
menakar kepemimpinan para tokoh potensial ini,” kata Arif.

Arif
menyebut dalam kondisi partai mengeker tokoh yang punya popularitas dan
elektabilitas baik untuk diusung, tokoh yang bukan kader seperti Anies dan
Ridwan Kamil lebih punya peluang. Penerimaan partai kepada sosok independen
seperti ini bisa jadi lebih cair ketimbang menerima kader dari partai lain
untuk diusung seperti Prabowo atau AHY tadi.

“Tapi
kembali, fakta yang bisa mencalonkan Capres-Cawapres hanya partai
politik,” ucap dia.

Kuasa
pemilih muda

Arif
juga menakar kalau Pemilu 2024 akan didominasi oleh para pemilih muda. Mungkin
60 persennya akan diisi oleh pemilih dari rentang usia itu.

Menurut
Arif, fakta ini tentu harus jadi pertimbangan lain bagi parpol dan kandidat
yang hendak maju. Model komunikasi politiknya mesti diubah apalagi buat
kandidat yang gaya komunikasinya sudah bisa ditebak seperti Prabowo karena
sudah dua kali maju di ajang Pilpres.

“Jadi
harus bisa menawarkan alternatif. Kesuksesan Jokowi di 2014 itu kan membawa
gaya baru komunikasi yang lebih segar dibanding lima dan 10 tahun sebelumnya.
Ini terbuka peluang mulai dari Ganjar sampai AHY,” kata Arif.

Selain
itu, perlu diukur juga masa jabatan politik seorang calon kandidat. Menurut
dia, yang kerap menarik perhatian bagi pemberitaan adalah orang yang menjabat
sebagai pejabat publik. Faktor ini mungkin akan sulit buat Anies karena ia akan
mengakhiri masa jabatannya di DKI sebentar lagi.

Sementara
buat kandidat lain yang masih menjabat setidaknya sampai dekat 2024, tentu
menjadi lebih diuntungkan.

“Anies
berhenti di 2022. Bisa enggak dia menjaga energi politik buat dapat coverage
tadi. Sementara Ridwan Kamil dan Ganjar unggul di sini. Hanya saja keduanya
masih belum begitu tandang di politik nasional. Jadi tantangan juga buat mereka
agar bisa memperluas basis dukungan ini. Minimal di Jawa, tetapi penerimaan
relatif wilayah luar Jawa harus jadi perhitungan juga,” ucap dia.

Tokoh
lain

Sementara
itu, selain beberapa nama yang bisa dibilang top five, muncul juga
sejumlah nama lain yang dianggap punya potensi. Menteri Maritim dan Investasi
Luhut Binsar Panjaitan atau bahkan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI
Andika Perkasa.

Menakar
potensi dua kandidat ini, Arif menyebut agak sulit buat tokoh militer untuk
jadi nomor satu di Republik Indonesia saat ini. Menurut dia, potensi yang
mungkin masih bisa terbuka luas adalah posisi Calon Wakil Presiden. Hal ini
disebabkan karena sudah bergesernya dominasi pemilih ke pemilih muda tadi.

“Mereka
kan enggak punya pengalaman yang sama dengan katakanlah generasi saya akan
pemimpin dengan latar belakang militer,” kata Arif.

Kendati
begitu, kalau pun hendak maju, perlu ada keluwesan politik juga bagi orang
dengan latar belakang militer yang hendak maju. Luhut, di sini tentu lebih
punya pengalaman karena selain besar di Golkar juga punya fleksibilitas politik
yang baik. Belum lagi pengalaman internasionalnya sebagai Duta Besar Indonesia
untuk Singapura dan pengalaman bisnis.

“Namun
Luhut mungkin lemah di elemen psikologis pemilih karena non-Jawa. Sementara
Andika teruji dari sisi militer, tapi dari politik belum. Penerimaan parpol
dari karir militernya bagus, dia bahkan ada di level tertinggi. Tapi karir
politik akan jadi lain,” ucap Arif. 

Untuk
itu yang bisa dilakukan dalam jangka dua tahun ke depan adalah membangun relasi
politik yang baik. “Dan ingat membangun relasi politik ke pemilih yang
usianya makin muda dengan orientasinya yang makin berbeda. Jalannya masih
panjang,” ucap dia.

Sementara
itu, pengamat Politik dari Universitas Jenderal Ahmad Yani Arlan Siddha
menyebut terlalu dini untuk melihat bagaimana peluang mereka di 2024 mengingat
dinamika politik di Indonesia mudah sekali berubah. Namun, ia mencatat di
berbagai survei nama mereka sudah mulai terekam di kepala masyarakat Indonesia.
Apalagi beberapa nama tersebut memegang jabatan gubernur dan menteri.

“Jelas
ini sebuah keuntungan untuk terus diingat oleh masyarakat,” kata Arlan.

Menurut
Arlan, Ganjar misalnya memiliki keunggulan sebagai gubernur Jateng yang sangat
rajin mendatangi warganya dan tidak segan untuk berdiskusi langsung. Penggunaan
media sosial seperti IG dimaksimalkan oleh Ganjar untuk menonjolkan kesan humble
dan dekat dengan masyarakat.

Ini
menjadi keunggulan tersendiri ditambah sudah mulai banyak relawan yang
menganggap Ganjar layak di 2024,

Sementara
hal yang tak kalah potensial dilakukan juga oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan
Kamil. Ridwan dianggap inovatif dan sangat milenial dalam berinteraksi dengan
warganya. Ini tentunya menjadi keunggulan tersendiri ditambah prestasi Jabar
pada PON turut mengangkat namanya di tingkat nasional

Sedangkan
Anies, citranya sudah terbentuk sejak awal mencalonkan diri menjadi gubernur.
Anies yang sejak awal dicitrakan membela Islam terus mendapat tempat di
beberapa kelompok Islam di Jakarta. Pendekatan Anies agak berbeda kepada
warganya kerap muncul dengan ide-ide baru.

“Dari
nama di atas, satu yang muncul dari menteri ya Pak Prabowo. Ia muncul dan mudah
diingat masyarakat selain di awal menjadi pesaing Jokowi hingga akhirnya
partner kerja, kebijakannya membuat masyarakat percaya beliau bisa memimpin
kebijakan bela negara dan alutsista sebagai kebijakan yang dianggap
berhasil,” ujar dia.

Sementara
nama lain yang mungkin saja muncul seperti Andika sebagai KASAD bukan tidak
mungkin bisa saja menjadi perhatian publik. Meskipun sampai sekarang belum
terlihat masif menunjukkan keinginannya di 2024, sosok Andika bisa saja
dirindukan oleh sebagian masyarakat Indonesia yang menginginkan pemimpin
militer

Namun,
kata Arlan, kehadiran beberapa nama di atas belum bisa ditarik sebagai
pengganti Jokowi karena posisi saat ini masih belum banyak partai politik yang
mengambil sikap di 2024.

“Saya
yakin semua partai masih terus berhitung dan berstrategi mengingat tahun 2024
adalah real battle untuk pemimpin muda unjuk gigi di pentas
nasional,” ujar Arlan.


Baca
Juga:

Share: Mengeker Potensi Para Tokoh di Pilpres 2024