Bisnis

BBCA Stock Split, Investor Bakal Untung?

Ilham — Asumsi.co

featured image
bca.co.id

BBCA berencana untuk melakukan stock split di Oktober mendatang. Aksi korporasi stock split tersebut memiliki rasio 1:5, artinya satu saham yang ada saat ini dipecah menjadi lima saham baru.

Jumlah saham BBCA yang sebelum stock split berjumlah 24,65 miliar saham, akan menjadi 123,27 miliar saham. Sementara itu, nilai nominal saham BBCA yang sebelum stock split sebesar Rp62,5 per lembar saham, akan menjadi Rp12,5 per lembar.

Stock split adalah aksi korporasi yang dilakukan untuk memecah harga saham dengan rasio tertentu.

Menggaet Investor Milenial

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, menjelaskan bahwa tujuan melakukan stock split adalah untuk menggaet investor milenial yang tertarik dengan saham BBCA. Di samping itu, dengan adanya aksi ini, harga saham BCA dapat lebih terjangkau oleh investor retail.

“Aksi korporasi pemecahan saham tersebut dilandasi juga oleh komitmen BCA dalam mendukung perkembangan pasar modal Indonesia,” ujar Jahja dalam keterangan resmi.

Baca Juga: FOMO Saham Bukalapak, dari Protes ke Aplikasi Hingga Lelang Saham

Meskipun harga saham setelah dilakukan stock split menjadi lebih kecil, jumlah lot sahamnya menjadi lima kali lebih besar. Jadi, bagi yang sudah memiliki saham BBCA sebelum dilakukan stock split, jumlah lot kepemilikan sahamnya akan bertambah lima kali lipat setelah stock split dilakukan.

Keuntungan Investor?

Pengamat Pasar Modal, Cheril Tanuwijaya, berpendapat dengan dilakukannya stock split ini, investor mendapat keuntungan dari harga saham yang terjangkau dan porsi kepemilikan saham menjadi lebih banyak.

“Sedangkan, emiten mendapat keuntungan dari saham yang menjadi lebih likuid dan frekuensi transaksi yang dilakukan oleh para pelaku pasar menjadi meningkat,” katanya saat dihubungi Asumsi.co, Senin (27/9/2021).

Selain itu, harga saham BBCA akan bersaing dengan harga bank besar lainnya, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang diperdagangkan di kisaran harga Rp3.750 per lembar saham, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang diperdagangkan di kisaran harga Rp5.925 per lemba, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang diperdagangkan di kisaran harga Rp5.050 per lembar.

Prospek BCA

Secara kinerja, sepanjang semester I-2021, BBCA dan entitas anakmencatatkan laba bersih senilai Rp14,45 triliun sepanjang semester I-2021, tumbuh 18,1% secara Year on Year (YoY) dibandingkan posisi yang sama senilai Rp 12,24 triliun per akhir Juni 2020.

Pendapatan BBCA juga tumbuh sebesar 2,4% secara YoY, dari Rp37,57 triliun menjadi Rp38,48 triliun. Begitu juga dengan pendapatan bunga bersih yang naik 8,8% secara YoY, dari Rp27,24 triliun menjadi Rp28,27 triliun. Sedangkan, pendapatan non-bunga terkoreksi 1,2% secara YoY, dari Rp10,32 triliun menjadi Rp10,21 triliun.

Menurut Cheril dengan pertumbuhan laba yang masih bagus, prospek saham BBCA masih bisa diandalkan meski sudah melakukan stock split. 

Baca Juga: Mulai Banyak Bermunculan, Bagaimana Bank Digital Berkembang di Indonesia?

 “Seperti yang diketahui perbankan adalah sektor defensif yang bisa diandalkan baik dalam ekonomi turun ataupun bertumbuh. Selain itu dalam hal laba, BBCA labanya terus meningkat meski di masa sulit spt pandemi ini. memang ada tantangan dari merebaknya bank digital, namun BBCA juga terus berinovasi dan sudah launching BCA digital yang bernama ‘Blu’ dan sukses menarik puluhan ribu nasabah dengan promosi yang minim,” katanya.

Akan Seperti Unilever Setelah Stock Split?

Cheril menjelaskan bahwa BBCA berbeda dengan saham Unilever (UNVR). Dalam sector bisnis juga berbeda, BBCA perbankan sedangkan UNVR manufaktur. “Jika dilihat secara fundamental, kinerja keuangan BBCA profit meski pandemi. Berbeda dengan UNVR yang labanya mengalami penurunan tiap tahun,” katanya.

Pada tahun 2020 laba bersih UNVR sebesar Rp7,1 triliun atau turun 2,7 persen dibanding tahun 2019 Rp 7,3 triliun.

Secara historis, kata Cheril, BBCA pernah melakukan stock split pada tahun 2001, 2004, dan 2008. Jika berdasarkan data tersebut bisa diartikan bahwa stock split BBCA tidak akan mempengaruhikinerja maupun prospek ke depannya.

“Jika melihat data historis, setelah stock split harganya justru cenderung naik. Berbeda dengan UNVR yang setelah stock plit pada tahun 2019 malah turun sahamnya.”

Share: BBCA Stock Split, Investor Bakal Untung?