Teknologi

Indonesia Mau Jadi Pusat Industri Mobil Listrik? Tunggu Dulu

Ray Muhammad — Asumsi.co

featured image
Antara Foto

Pemerintah Indonesia berambisi menjadi negara industri produsen mobil listrik. Terlihat dari komitmen Indonesia dan pernyataan Presiden Joko Widodo ketika memberikan dukungan dan pengembangan ekosistem industri baterai dan kendaraan listrik.

Baru-baru ini, Presiden Joko Widodo juga melakukan groundbreaking pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik pertama di Indonesia. Mengutip laman presidenri.go.id, groundbreaking di Karawang itu berlangsung pada Rabu lalu (15/9/21).

Namun, misi pemerintah Indonesia untuk bersaing di level global dinilai terlalu muluk. Tak lepas dari biaya industri yang mahal serta keterbatasan teknologi dalam mengembangkan mobil listrik.

Misi dan Upaya Realisasi

Keinginan Indonesia menjadi pusat industri mobil listrik disampaikan Presiden Jokowi pada 2019. Jokowi mengungkapkan, langkah awal yang dilakukan adalah memproduksi baterai lithium yang merupakan bahan bbakar mobil listrik.

“Strategi bisnis negara yang sedang kita rancang agar Indonesia bisa jadi ‘hub’ (pusat) besar bagi industri mobil elektrik, arahnya ke sana,” kata Presiden Joko Widodo saat sambutan Pembukaan Kompas 100 CEO Forum 2019 seperti dikutip dari Antara.

Jokowi lantas menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan pada 8 Agustus 2019.

Perpres tersebut berisi soal aturan tingkat komponen dalam negeri untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, pemberian insentif percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai untuk transportasi jalan, hingga penyediaan infrastruktur pengisian tenaga listrik.

“Indonesia punya cadangan nikel terbesar nomor 1 di dunia. Strategi ini kita harus pakai untuk membangun industri mobil listrik, kita sudah kirim menteri mendekati industri-industri besar mobil di Jepang dan Jerman dalam rangka pengembangan lithium,” kata Jokowi.

Presiden menargetkan, dalam 2 sampai 3 tahun ada turunan nikel yang mampu diolah menjadi baterai lithium. Selain nikel, Jokowi yakin Indonesia juga mampu menjadi pemasok potensial kobalt, mangan, dan bahan baku lain yang bisa dipakai oleh industri mobil listrik.

Terbaru, Jokowi meresmikan dimulainya pembangunan pabrik milik PT HKML Battery Indonesia yang berlokasi di Kompleks Karawang New Industrial City.

“Kita patut bersyukur hari ini bisa menyaksikan groundbreaking pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik pertama di Indonesia dan bahkan yang pertama di Asia Tenggara,” ujar Presiden Jokowi saat peresmian pada 15 September lalu.

Indonesia pun telah menyiapkan kawasan industri khusus untuk produksi baterai kendaraan yakni di Halmahera, Maluku bernama bernama Weda Bay Nickel dan di Morowali, yakni Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

Bakal Sulit Bersaing

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai Indonesia sulit bersaing di sektor produksi mobil listrik. Dia berkaca dari kemampuan Indonesia.

Tauhid mengatakan saat ini Indonesia belum mampu mengembangkan industri mobil konvensional secara optimal. Atas dasar itu, dia menganggap Indonesia sulit jika ingin bersaing di sektor mobil listrik yang segmennya masih terbilang eksklusif.

“Sementara itu di negara kita, jangankan mobil listrik, industri mobil biasa saja belum bisa berkembang. Jadi menurut saya, cenderung ke depan di dalam negeri akan menjadi industri manufaktur saja,” kata dia kepada Asumsi.co.

Menurut Tauhid, negara menengah ke bawah seperti Indonesia agak berat untuk membangun industri mobil listrik. Apalagi jika ingin bersaing dengan negara lain yang notabene lebih siap dari segi teknologi.

Di sisi yang lain, Indonesia pun masih membutuhkan mobil konvensional. Alasannya, Indonesia merupakan negara produsen migas. Apabila benar-benar meninggalkan mobil konvensional, maka Indonesia berpotensi merugi, karena sektor migas merupakan penyumbang pendapatan negara yang besar.

“Ini kan relatif tinggi biayanya dibandingkan mobil konvensional, kemudian kita juga masih tetap membutuhkan mobil konvensional karena kita negara produsen migas. Menurut saya masih jauh kalau dibilang Indoenesia mau menguasai pasar mobil listrik karena membangunnya juga berat,” kata dia.

Jika memang Indonesia ingin bersaing, di level Asia Tenggara pun bakal menghadapi persaingan yang sulit. Tauhid menyebut Vietnam dan Malaysia lebih berpeluang unggul membangun industri mobil listrik ketimbang Indonesia dan Thailand. 

“Malaysia bahkan kita ketahui sampai sudah punya produk mobil nasional. Negara lain di Asia Tenggara saya kira belum berkembang dan cukup untuk bisa membangun industri mobil listrik,” kata dia.

Tauhid lalu mengatakan pemimpin pasar mobil listrik global saat ini adalah Jepang dan China. Keduanya pun bisa dibilang pemasok teknologi otomotif terbaik di dunia saat ini.Indonesia, menurut Tauhid, sangat sulit jika bercita-cita menyaingi kedua negara tersebut dalam produksi mobil listrik.

“Dari segi desain, property rights, kemudian macam-macam tetap yang unggul Jepang dan Cina,” ujar Tauhid.

Thailand Tak Mau Kalah

Di sisi lain, ada negara lain di Asia Tenggara yang juga berambisi menjadi pusat industri mobil listrik, yakni Thailand. Melansir Bangkok Post, pemerintah Negeri Gajah Putih tak mau kalah unggul menjadi negara penggerak industri mobil listrik terbaik. 

Thailand menargetkan seluruh mobil listrik yang dijual di sana merupakan produksi lokal mulai 2035. Ada permintaan yang tinggi terhadap kendaraan ini di sektor swasta, sehingga target mulai dicanangkan.

Target tersebut mendapatkan dukungan penuh dari The National New Generation Vehicle Commite yang dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri dan Menteri Energi Thailand, Supattanapong Punmeechaow.

Supattanapong menargetkan 50 persen kendaraan listrik yang ada di Thailand buatan lokal mulai tahun 2030. Tak hanya itu, Supattanapong pun ingin Thailand menjadi produksi motor elektrik sebagai bagian dari pemenuhan produksi kendaraan listrik di dalam negeri. Dia berharap negaranya menjadi pusat produksi kendaraan listrik global dalam jangka waktu 15 tahun.

Presiden Federations of Thai Industries (FTI) Supant Mongkolsuthree menyatakan siap membantu pemerintah Thailand untuk memproduksi 1,051 juta unit kendaraan listrik pada 2025. 

“Produksi ini terdiri dari 400 ribu unit mobil dan pikap, 620 ribu unit sepeda motor, serta 31 ribu bus dan truk,” kata Supant melalui pernyataan resminya.

Share: Indonesia Mau Jadi Pusat Industri Mobil Listrik? Tunggu Dulu