featured

Pixabay

Bisnis

14 Sep 2021

Pemerintah Bakal Gantikan Batubara dengan Nuklir, Bagaimana Potensinya?

Ilham Anugrah

Pemerintah berkeinginan untuk memanfaatkan tenaga nuklir untuk pembangkit tenaga listrik. Ini disampaikan Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddindalam Webinar "Mineral for Energy".

“Cukup relevan bicara energi berbasis nuklir karena ini akan jadi potensi pengganti energi berbasis batu bara atau fosil," paparnya dalam webinar tersebut, Jumat (10/9/2021) malam.

Perkiraan Dibangun 2035

Direktur Panas Bumi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (BTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Harris pernah menyampaikan bahwa nuklir sudah dimasukkan ke dalam GSEN ([Grand Strategi Energi Nasional) yang nanti akan jadi bagian yang dipertimbangkan dalam melakukan penyempurnaan RUEN [Rencana Umum Energi Nasional].

“Nuklir sudah masuk setidaknya-tidaknya sampai rentang waktu 2035," ujar Harris. Namun, pemerintah dalam pengembangan PLTN dalam strategi besar tersebut masih dalam skala kecil, sekitar 100—200 megawatt (MW).

Seberapa Besar Potensinya?

Associate Professor dari Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Jakarta, yaitu Anwar Ilmar Ramadhan menyampaikan bahwa potensi energi nuklir sebagai pengganti batu bara sangat besar.

“Pertama, jumlah cadangan energi fosil seperti minyak bumi dan batu bara sangat terbatas. untuk batu bara diperkirakan jumlah cadangannya 28 miliar ton. Untuk itu diperlukan energi pengganti,” katanya saat dihubungi Asumsi.co, Selasa (14/9/2021).

Menurutnya jika dilihat dari beberapa energi terbarukan yang sedang dikembangkan di Indonesia seperti angin, hidro, surya dan panas bumi. Energi Nuklir mampu memberikan energi listrik yang besar.

Baca Juga: Bakal Dipajaki Sri Mulyani Mulai 2022, Apa Itu Pajak Karbon?

Energi nuklir yang teknologi terbaru adalah PLTN Generasi ke- 4, dapat membuat energi mencapai 100-200 MWe. “Jika ini dibuat, maka jauh lebih murah listrik yang dihasilkan dibandingkan membuat pembangkit energi listrik lain untuk jangka panjang tentunya,” katanya.

Ia menambahkan memang investasinya untuk satu pembangkit tenaga nuklir terbaru seperti Generasi ke-4 tidaklah murah. Namun, secara potensi dan keamanan lebih baik.

Kelebihan teknologi nuklir dibanding dengan energi lainnya, misalnya dari 1 gram uranium dapat diperoleh energi yang setara dari sekitar 112 kg batu bara. Efisiensi juga dapat dilihat dari tempo siklus daur bahan bakar nuklir yang berkisar antara 1,5 tahun.

Biaya untuk membangkitkan 1 KWh listrik adalah Rp. 350, jauh lebih murah daripada biaya pembangkit listrik konvensional yang paling murah yaitu dengan bahan bakar batu bara sebesar Rp. 600.

Nuklir Sebagai Primer Atau Diversifikasi Energi?

Beliau menyarankan apabila memang pemerintah serius membuat PLTN (Pembangkit Listik Tenaga Nuklir), sebaiknya tidak menjadi pembangkit utama, tapi sebagai penyuplai dari energi yang ada saat ini.

“Namun, apabila ingin serius dibuatnya PLTN, tentunya dibutuhkan political will dari Pemerintah yang kuat. Mengingat investasi yang dibutuhkan bisa mencapai triliunan rupiah,” katanya.

Menurutnya langkah terbaik dibangunnya PLTN adalah dengan menggunakan konsorsium, baik itu dari BUMN atau pihak swasta yang berminat untuk berinvestasi energi di Indonesia.

Sumber Daya Manusia dan Keamanan

Indonesia telah memiliki tiga reaktor nuklir riset, yaitu reaktor nuklir yang pergunakan untuk kepentingan penelitian, sehingga yang diambil adalah reaksi samping atau radioisotope dari reaksi fisi nuklir di reaktor nuklir.

Ketiga reaktor itu adalah:

(1) Reaktor TRIGA 2000 di Bandung, Jawa Barat,

(2) Reaktor Kartini di Yogyakarta

(3) Reaktor Serbaguna GA Siwabessy di PUSPIPTEK Serpong, Banten

Ketiga reaktor nuklir tersebut dioperasikan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Apabila menyinggung sisi sumber daya manusia, Indonesia juga sudah mumpuni untuk mendesain dan memodifikasi serta mengoperasikan reaktor nuklir.

“Kalau sumber daya manusia sudah ada dan tersedia. Apalagi Indonesia memiliki sumber daya manusia yang fokus dibidang teknologi nuklir dan ilmu yang mendukungnya. Diantaranya lulusan dari: STTN-BATAN, UGM, ITB, University of Tokyo, Tokyo Institute of Technology, KAIST, dan banyak lagi dari kampus dalam dan luar negeri lainnya.

Mengenai keamanan, ia memisalkan dengan keamanan mobil. Semakin harga mobil itu mahal, maka teknologinya juga semakin tinggi. “Begitu juga teknologi nuklir, semakin tinggi generasi tenaga nuklir yang digunakan, maka semakin canggih keamanannya,” katanya.

Apabila ditanyakan dengan kasus di Jepang, menurutnya dikarenakan pengaruh dari gempa yang menyebabkan sistem pendingin bermasalah. Hanya saja masih dalam koridor yang aman dan masuk ke dalam ambang batas standar keselamatan.

“Kalau kejadian di sana bukan karena faktor manusianya. Secara teknologi sebetulnya sudah aman. Hanya saja, gempa menjadi pemicunya,” katanya.

Negara Lain Sudah Lebih Dulu

Anwar mengatakan bahwa PLTN sudah urgen karena saat ini kita melihat fossil semakin menipis, kalau kita tanam saat ini akan lama. “Tetangga-tetangga kita sudah membuat PLTN seperti Bangladesh, dan Korea Selatan, Jepang dan lainnya.

Contohnya Korea Selatan, saat itu mereka sempat terkena dampak krisis 1997 dan membuat PLTN untuk mendukung industri dan rakyat mereka. Kalau tidak sekarang tidak akan dapat mengejar negara maju.” Kata Lulusan STTN-BATAN ini.

Ia optimis PLTN akan dibuat di Indonesia, kembali kepada pemerintah yang akan menentukan arah energi saat ini dan masa yang akan datang. Kalau teknologi dan sumberdaya manusia kita sudah mampu.

Perlu Dipikirkan Ulang

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira menilai  pengembangan energi nuklir selain investasinya mahal, kalau mau mengejar 2035 tidak akan terkejar.

“Karena dari tahap perencanaan butuh waktu 10-15 tahun. Apalagi mempertimbangkan faktor keselamatan setelah bencana di jepang. Nuklir ini dipandang emisi karbonnya tapi perlu kehati-hatian. Jadi perlu dipikirkan ulang,” katanya saat dihubungi Asumsi.co, Selasa (14/9/2021).

Menurut lulusan dari Universitas Bradford ini,Indonesia memiliki banyak alternatif lain seperti, solar panel. “Sekarang biaya instalasi solar panel lebih murah dan cepat,  paling nggak bisa mengaliri listrik untuk kebutuhan rumah tangga dulu,” katanya.

Ia menambahkan dari industri lainnya seperti hidro skala besar, maupun mini juga banyak. Angin beberapa tempat mulai di develop. Harga EBT (Energi Baru Terbarukan), selain nuklir juga semakin murah.

“Jadi kalau ingin masuk ke dalam investasi terjangkau? Menurut saya jangan nuklir. Nanti kalau menerbitkan surat utang susah di internasional. Karena banyak menghindari nuklir yang dianggap dampaknya cukup kecil. Meski jarang terjadi tapi resikonya lebih tinggi,” katanya.

Share: Pemerintah Bakal Gantikan Batubara dengan Nuklir, Bagaimana Potensinya?