Kesehatan

Cacar Monyet Mulai Serbu Amerika, Pernah Mengancam Indonesia

OlehRay

featured image
Foto: SPL

Di tengah pandemi COVID-19 yang masih melanda berbagai belahan dunia saat ini, dilaporkan muncul wabah cacar monyet yang menjadi momok baru berskala global. Seberapa besar kemungkinan wabah ini mengancam Indonesia?

Dibawa Warga Texas dari Nigeria

Dilaporkan BBC, kasus cacar monyet ditemukan di Amerika Serikat. Sebanyak 200 orang lebih di 27 negara bagian di Amerika Serikat diduga terpapar cacar monyet, menyusul adanya seorang pria asal Texas yang membawa penyakit itu dari Nigeria awal bulan ini. Penelusuran kontak terhadap pria tersebut pun dilakukan otoritas kesehatan dan aparat AS.

Centers for Disease Control and Prevention atau Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) setempat menyampaikan, orang-orang yang dilacak adalah para penumpang yang menumpangi pesawat yang sama dengan pria yang diketahui bertolak dari Lagos, Nigeria menuju Atlanta, Negara Bagian Georgia, AS pada 9 Juli lalu.

"Kami mengkhawatirkan mereka terpapar penyakit cacar monyet. Ada potensi risiko pada mereka yang mungkin berkontak dekat dengan si pria. Pihak maskapai turut memeriksa risiko ini," ucap pernyataan resmi juru bicara CDC. 

Namun, kemungkinan virusnya menyebar di dalam pesawat terbilang kecil. Pasalnya, seluruh penumpang mengenakan masker. Maka, para penumpang serta awak pesawat yang berinterksi dengan pria yang tak disebutkan namanya ini yang paling dicemaskan tertular. 

Saat ini, pria yang juga diketahui melanjutkan penerbangannya dari Atlanta ke tempatnya tinggal di Dallas, Texas telah menjalani perawatan di rumah sakit dan kondisinya sudah mulai stabil.

"Kami bekerja sama dengan dinas kesehatan negara bagian dan daerah setempat untuk menelusuri para individu yang mungkin terpapar cacar monyet. Risiko terhadap masyarakat umum ditengarai rendah. Tidak ada satu pun dari 200 orang yang diduga terpapar masuk dalam risiko tinggi," imbuh pihak CDC.

Ditularkan Lewat Binatang 

Pihak CDC Amerika Serikat  mengatakan cacar monyet pernah melanda AS pada tahun 2003. Kala itu, 47 orang terkonfirmasi terpapar penyakit ini. Penyebab penularannya karena tikus-tikus yang didatangkan dari luar negeri.

Cacar monyet dikategorikan sebagai penyakit langka yang disebabkan oleh virus yang bisa menjadikan binatang sebagai inang mereka. Virus monkeypox dari golongan Orthopoxvirus yang menjadi pemicunya, masuk dalam keluarga yang sama dengan cacar air. Akan tetapi, sifat patogennya relatif tidak terlalu ganas dibandingkan cacar air.

Penyakit ini, umumnya menular di sejumlah kawasan tengah dan barat Afrika, khususnya yang berada di dekat hutan tropis. Adapun gejala-gejala penyakit ini antara lain demam, pusing, ruam dan bengkak, nyeri punggung dan otot, serta merasakan tubuh kurang bergairah.

"Ruam kerap muncul setekah demam pada bagian wajah, kemudian menyebar ke bagian lain tubuh, biasanya pada telapak tangan dan telapak kaki," jelas pihak CDC.

Baca Juga: Diprediksi Jadi Endemi, COVID-19 Bakal Jadi Penyakit Musiman, Bersiaplah!

Rasa gatal yang teramat sangat pada ruam membuat penderitanya tak tahan untuk menggaruknya. Maka penderitanya diusahakan tidak menyentuh memarnya sama sekali dan segera dilakukan pengobatan. Saat dilakukan pengobatan selama beberapa saat, ruam-ruam tersebut akan menjelma jadi kapalan hingga bisa menimbulkan bekas luka pada kulit, apalagi jika digaruk bisa bernanah.

Penyakit ini disebut CDC memang cukup membahayakan, namun bisa sembuh sendiri melalui pengobatan yang tepat. Meski demikian, risiko kematian akibat penyakit ini tetap ada "1 dari 100 kasus menyebabkan kematian," ucapnya.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman membenarkan bahwa virus yang memicu penyakit cacar monyet ini memang bisa ditularkan oleh binatang. Kasus penularan penyakit ini dari monyet ke manusia tercatat pertama kali terjadi pada tahun 1970 di Kongo, Afrika Selatan.

"Memang sebenarnya bukan cuma cacar monyet. Beberapa penyakit menular lain juga pernah terjadi karena penularan binatang. COVID-19 ini kan, juga isunya penularan diduga dari kelelawar. Intinya begini, semakin rawannya kondisi lingkungan yang tidak sehat inilah yang menyebabkan ancaman kesehatan antara manusia dan hewan dan lingkungan," jelas Dicky kepada Asumsi.co, Sabtu (24/7/21).

Pernah Mengancam Indonesia 

Dicky Budiman mengungkapkan wabah cacar monyet ini belum pernah terjadi di Indonesia. Namun sempat menjadi ancaman kesehatan ketika kasusnya ditemukan di Singapura pada tahun 2019.

"Di Singapura tahun 2019 itu pernah ada kasus di warganya lalu jadi ancaman. Beruntung, tidak sampai ke Indonesia virusnya dan tidak menjadi wabah juga di Asia Tenggara. Jadi, di Indonesia belum pernah ditemukan kasus," ujarnya.

Ia menambahkan, saat itu pemerintah Indonesia pun sigap melakukan pengecekan akses keluar dan masuk dari Singapura ke Batam. Penjagaannya pun dilakukan secara ketat, sehingga bisa terantisipasi.

Dirinya mengharapkan cacar monyet tidak menjadi wabah baru di tengah penyebaran virus Corona yang kian masih saat ini.

Maka, ia mengingatkan Indonesia supaya lebih serius memperketat pintu perbatasan kedatangan orang dari luar negeri supaya kekhawatiran menjadi ancaman kesehatan baru tidak terjadi.

"Nah, ini kan belajar dari kasus yang ditemukan di Amerika apalagi situasi sekarang masih pandemi. Tentu harus jadi pengingat buat Indonesia dalam situasi saat ini kita mesti memperkuat sistem screening di perbatasan. Kita sudah punya sistemnya semua, tinggal maksimal dijalankannya," ujarnya.

Share: Cacar Monyet Mulai Serbu Amerika, Pernah Mengancam Indonesia