Covid-19

Jadi Pusat Penyebaran Covid-19 di Asia, WHO Tekan Indonesia segera Lockdown

OlehIkhwan Hardiman

featured image
nrp.org

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), meminta pemerintah Indonesia menerapkan lockdown setelah menjadi pusat penyebaran virus corona di Asia. Hal ini perlu dilakukan, mengingat tren kasus aktif dan angka kematian Covid-19 terus melonjak selama sepekan terakhir. 

Angka kematian akibat Covid-19 sudah menembus 1.400 jiwa dalam satu hari. Hal itu membawa Indonesia menjadi salah satu episentrum penyebaran virus corona di dunia. Hal ini membuat WHO meminta pemerintah Indonesia melakukan langkah yang lebih jelas dan tegas, dalam penanganan pandemi karena meningkatnya kasus harian di 13 dari 34 provinsi Indonesia.

"Saat ini, Indonesia sedang menghadapi penularan (Covid-19) yang sangat tinggi. Menjadi hal penting untuk mengimplementasikan langkah yang lebih ketat, untuk kesehatan masyarakat seperti, pembatasan aktivitas di seluruh negara," bunyi pernyataan WHO seperti dikutip Reuters. 

Sejauh ini, Indonesia masih menerapkan pembatasan aktivitas secara terpisah di beberapa sektor. Seperti, menutup mal, hingga menerapkan kerja dari rumah (WFH), yang berkutat di sepanjang Jawa dan Bali. Isu ekonomi disebut-sebut menjadi halangan bagi pemerintah menerapkan lockdown total. 

Baca Juga: Muncul Covid-19 Varian Lambda, Apa Saja yang Perlu Diketahui? | Asumsiā€‹

Namun, presiden Joko Widodo justru berniat melonggarkan pembatasan aktivitas, jika kasus harian Covid-19 menurun. Hal ini mendapat kritik keras dari pada epidemiologis yang menyatakan, tren kasus harian turun karena penerapan testing juga merosot. Joko Widodo resmi memperpanjang Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga 25 Juli yang sudah tertuang dalam Instruksi Mendagri Nomor 22 dan 23 Tahun 2021.

Namun dalam instruksi itu, pemerintah tidak lagi menggunakan istilah PPKM Darurat, melainkan PPKM level 4 untuk membatasi aktivitas masyarakat di 124 kota/kabupaten di Jawa-Bali.

"Jika tren kasus terus menurun, pada 26 Juli 2021, pemerintah akan mengendurkan pembatasan aktivitas," ujar presiden yang akrab disapa Jokowi, dalam keterangannya secara virtual, baru-baru ini. 

Saat ini, positivity rate Indonesia berada di angka 30% dari total orang yang dites. Angka tersebut sudah menjauhi ambang batas yang ditetapkan WHO sebesar 20%, sehingga tergolong ke dalam penularan tinggi. Berdasarkan data WHO, seluruh provinsi di Indonesia kecuali Nanggroe Aceh Darussalam memiliki positivity rate di atas 20%.

Sementara Menteri Koordinator Maritim dan Investasi RI, Luhut Binsar Pandjaitan, menyebutkan, pengenduran dalam pembatasan aktivitas masyarakat bisa dilakukan di beberapa daerah. Hal itu dapat terjadi jika angka penularan relatif menurun, kapasitas rumah sakit meningkat, dan kondisi sosial masyarakat yang meminta hal tersebut. 

Apa Penyebab Indonesia Menjadi Episentrum Covid-19 di Asia?

Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, saat dihubungi Asumsi.co, menyampaikan hasil wawancara dengan Bloomberg beberapa penyebab Indonesia kini menjadi pusat penyebaran virus corona. Menurutnya, kondisi Indonesia semakin memburuk selama beberapa pekan terakhir. 

"Faktor lain yang menyebabkan situasi krisis di Indonesia adalah penularan varian Delta. Seperti yang kita tahu, varian ini lebih mudah menular dan dapat mengurangi efikasi vaksin," katanya.

Baca Juga: Susah Cari RS Hingga Dipaksa WFO Jadi Keluhan Terbanyak Selama PPKM Darurat | Asumsiā€‹

Dicky menyampaikan, sejak masa awal pandemi sampai saat ini, tingkat positivity rate selalu berada di angka 10 persen. Namun dalam beberapa pekan terakhir, positivity rate justru melonjak di atas 20 persen. Minimnya penerapan tracing menjadi salah satu biang keladi pencarian klaster penularan.

Selain itu, kemampuan fasilitas kesehatan yang semakin kewalahan juga menjadi faktor pengendalian Covid-19 menjadi lebih sulit. Semakin sulitnya mencari ruang di rumah sakit terjadi di hampir seluruh daerah di pulau Jawa. Belum lagi masalah kelangkaan oksigen, dan obat-obatan penunjang bagi para pasien Covid-19.

Tak hanya sampai di situ, program vaksinasi yang berjalan juga dinilai belum maksimal. Sejauh ini, baru 16,8 juta atau 8% warga Indonesia yang sudah mendapatkan vaksin dosis kedua. Sedangkan pemerintah, menetapkan target vaksinasi komplet sebanyak 208 juta jiwa atau 77 persen dari total populasi. 

"Hal ini membuat Indonesia berada di situasi yang sulit, karena itu kita mengalami puncak lonjakan kasus penularan," ucap Dicky.

Sementara itu, Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pandu Riono menyebut pandemi di Indonesia tidak akan terkendali selama penerapan tes Covid-19 masih rendah. Ia menyayangkan, kecenderungan penurunan tes selama satu pekan terakhir, kemudian diterjemahkan bahwa kasus Covid-19 juga turun. 

Pandu berharap, pemerintah RI merapikan data pandemi, termasuk dengan statistik yang luput dari pencatatan. Menurutnya, masih banyak aspek yang tidak dilaporkan dalam penanganan pandemi di Indonesia.  

Share: Jadi Pusat Penyebaran Covid-19 di Asia, WHO Tekan Indonesia segera Lockdown