Covid-19

Tempol Diklaim Manjur Obati Covid-19, Kajian Ilmiahnya Ditunggu

OlehRay

featured image
Foto: Unsplash

Obat manjur untuk mengobati Covid-19 kabarnya baru saja ditemukan. Institut Kesehatan Nasional AS (National Institute of Health/NIH) mengumumkan obat baru untuk Covid-19 yang diklaim mereka memiliki khasiat yang mujarab. Yakin, nih?

Diklaim Cegah Replikasi Virus Corona

CNBC melaporkan, obat yang dinamakan Tempol ini telah diuji melalui eksperimen yang dilakukan peneliti. Hasilnya, obat ini diklaim mampu mencegah virus Corona melakukan replikasi di dalam sel manusia. 

Tak dijelaskan lebih lanjut soal kandungan apa saja yang terdapat di dalamnya. Hanya disebutkan Tempol tengah dikembangkan untuk menjadi obat oral. 

"Obat itu berpotensi untuk mengurangi penyakit menjadi parah dan telah diujicobakan dalam kultur sel dengan virus hidup," kata Direktur Institut Kesehatan Anak dan Pengembangan Nasional NIH, Dr. Diana W. Bianchi.

Baca juga: Bikin Parno, Seberapa Bahaya Mutasi Virus Corona Bagi Penyintas?

Ia mengungkapkan kehadiran obat oral untuk pengobatan Covid-19 saat ini sangatlah penting. Tempol, diharapkannya bisa menjadi jawaban atas hal ini.

"Obat oral pencegah SARS-CoV-2 bereplikasi menjadi instrumen penting untuk mengurangi keparahan penyakit," ujarnya.  

Sementara itu, ketua riset obat sekaligus pejabat NIH, Dr. Tracey Rouault mengatajan saat ini para peneliti masih berencana melakukan studi tambahan. Tujuan dari penelitian tambahan, kata dia, juga dilakukan untuk mencari peluang mengevaluasi obat tersebut dalam aspek uji klinis.

Ia menegaskan, uji klinis dibutuhkan untuk menentukan obat tersebut efektif digunakan kepada pasien. "Khususnya di awal penyakit saat virus mulai bereplikasi," ucapnya.

Perlu Ada Kajian Ilmiah

Meski vaksinasi sudah dilakukan di berbagai negara, namun obat khusus yang ampuh melawan Covid-19, sejauh ini sangat dinantikan. "Masih sangat sedikit bahan obat yang digunakan untuk mengobati pasien Covid-19," kata Rouault.

Sumber berita yang sama menyebut di Amerika Serikat (AS) baru Remdesivir Gilead Sciences yang mendapatkan persetujuan penuh dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (Food and Drug Administration/FDA) untuk menghadirkan obat bagi pengidap virus Corona. 

Adapun obat yang mereka sediakan, sejauh ini harus diberikan di rumah sakit melalui metode intravena alias injeksi atau infusSementara itu Pfizer yang terlebih dulu mengembangkan vaksin Covid-19, kini sedang mendalami pengembangan obat oral untuk pengobatan virus mematikan ini.

Kabar adanya obat oral baru yang disebut manjur mengobati Covid-19 ini, membuat dokter Spesialis Paru RS Persahabatan dr. Erlina Burhan angkat bicara. 

Erlina mengatakan selama ini sudah banyak pihak yang mengklaim berhasil menemukan atau menciptakan obat untuk Covid-19. Namun menurutnya tidak bisa asal dipercaya begitu saja tanpa adanya kajian ilmiah yang sesuai dengan sains. 

Ia menegaskan, selama belum ada publikasi ilmiahnya, maka menurutnya obat tersebut statusnya masih dalam proses pengembangan lebih lanjut.

"Belum bisa dianggap manjur untuk menyembuhkan penyakit dari segi medis. Jadi belum bisa kita menanggapi serius obat ini," katanya kepada Asumsi.co melalui sambungan telepon, Sabtu (5/6/21).

Baca juga: Kasus Covid-19 di Perkantoran Jakarta Meningkat, WFH Kembali Diserukan

Hoaks Soal Obat Covid-19 Masih Beredar

Di sisi lain, Erlina mengingatkan belakangan hoaks soal obat Covid-19 masih ramai beredar di masyarakat yang perlu diwaspadai.

"Hoaks-hoaks soal obat baru Corona juga semakin ramai. Di luar perkara obat yang katanya manjur ini benar atau tidak, kita harus terus melawan hoaks-hoaks yang semacam ini," terangnya.

Sementara itu, pakar patologi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dr Tonang Dwi Ardyanto, SpPK, PhD mengaku sependapat dengan Erlina.

Ia menegaskan suatu obat tidak bisa dikatakan berkhasiat cuma asal klaim semata. Perlu ada kajian ilmiah yang menjelaskan secara rinci soal kandungan obat sampai manfaatnya secara detail.

"Kajian ilmiahnya saya lihat belum keluar. Kalau di berita-berita sih kan, banyak obat A katanya bisa mengobati Corona atau obat B bisa dipakai. Kayak obat cacing dipakai di India dipakai buat mengobati Corona, ternyata kan enggak direkomendasikan. Selagi belum ada publikasi ilmiahnya, kita tunggu saja perkembangan selanjutnya," tuturnya.

Share: Tempol Diklaim Manjur Obati Covid-19, Kajian Ilmiahnya Ditunggu