Sains

Memperdebatkan Misteri Fosfin yang Disebut Jadi Tanda Kehidupan Alien di Venus

Ray Muhammad — Asumsi.co

featured image
Foto: NASA

Belakangan ini, para astronom tengah meneliti keberadaan fosfin, kandungan gas organik yang ada di atmosfer planet bisa menunjukkan adanya unsur kehidupan. Namun, studi terkini mengungkapkan kandungan fosfin yang ada di Venus menunjukkan adanya kemiripan kandungan dengan uang ada di Bumi. Hal ini yang membuat Venus dianggap sebagai planet yang lekat kekerabatannya dengan Bumi oleh para peneliti.

Meneliti kandungan atmosfer Venus

Astronom mengungkapkan, sebagai planet terpanas di tata surya kita, Venus memiliki atmosfer yang penuh dengan karbon dioksida, disertai awan tebal yang terperangkap bersama asam sulfat. Kandungan ini, menyelubungi medan vulkanik planet tersebut yang kering.

Wired.com melaporkan, sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Jane Greaves dari Universitas Cardiff mengumumkan bahwa mereka telah menemukan kemungkinan tanda kehidupan alien disebabkan adanya kandungan atmosfer di Venus.

Faktor ini, menurut mereka menjadi alasan kuat yang mungkin dipikirkan para ilmuwan untuk mencari kehidupan di luar planet Bumi.

Baca Juga: Pentagon Sampaikan Laporan UFO ke Kongres AS, Khawatir Jadi Ancaman Global | Asumsi

Dalam penelitian yang dilakukan pada September lalu yang hasil risetnya  diterbitkan dalam Nature Astronomy, mereka melaporkan gas beracun yang tidak berwarna yang disebut fosfin terdeteksi ada di awan Venus, menyimpulkan tidak ada proses kimia atau geologis yang bisa jadi alasan kandungan gas itu bisa ada. 

Menurut ahli astrofisika dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Clara Sousa-Silva fostin dapat menunjukkan kehidupan. 

“Hal ini menunjukkan gas bisa menjadi tanda-tanda adanya unsur kehidupan,” ucapnya.

Sementara di Bumi, fosfin sering ditemukan di tempat-tempat yang menjadi habitat unsur kehidupan anaerobik, seperti di danau, rawa-rawa, sawah, dan di lumpur tempat pembuangan sampah.

Astronom Cornell University, Jonathan Lunine melalui salah satu mahasiswa pascasarjana yang dididiknya, Ngoc Truong menyikapi hal ini dengan skeptis. “Sangat salah menyebut fosfin sebagai tanda adanya kehidupan di Venus karena lingkungan di Venus benar-benar berbeda dari lingkungan yang ada di Bumi,” kata Truong.

Ngoc Truong menjelaskan di Bumi juga masih menjadi perdebatan soal fosfin dikaitkan dengan bagian dari unsur pembentuk kehidupan. Ia menegaskan pandangan ini perlu dikonfirmasi lebih lanjut.

Jadi perdebatan ilmiah

Bukan Truong dan Lunine yang mengungkapkan keraguannya atas teori ini. Di jagad maya, perdebatan panjang soal ini pun tak terelakkan. Para ilmuwan banyak membahasnya secara ilmiah melalui perdebatan di Twitter, unggahan Facebook.

Bahkan, perdebatannya sampai melibatkan riset-riset ilmiah yang ada di arXiv.org untuk mencari tahu teori lain yang membahas proses nonbiologis yang mungkin memproduksi fosfin.

Truong, yang hingga kini telah mempelajari lautan di Saturnus, meyakinkan Lunine bahwa mereka perlu mengeksplorasi lebih lanjut satu sumber potensial yang kemungkinan menjadi penyebab munculnya fosfin di Venus, yaitu gunung berapi.

Penelitian mereka mengarah pada studi baru yang diterbitkan hari awal pekan ini dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences. Di dalamnya, Truong dan Lunine melukis gambar penyebab fosfin mungkin berhasil masuk ke atmosfer Venus.

Baca Juga: Ilmuwan Sebut Alien Bisa Mata-matai Bumi dari 29 Planet Ini | Asumsi

Dalam gambar tersebut, dijelaskan jejak fosfida, ion fosfor bermuatan negatif yang melekat pada logam seperti besi di fosfin ditemukan berada jauh di dalam mantel Venus yang mampu ditarik ke permukaan oleh aktivitas vulkanik.

Mereka menerangkan, saat gunung berapi meletus, fosfida bisa didorong ke atmosfer dan secara kimia bereaksi dengan asam sulfat di awan untuk membentuk fosfin.

“Studi kami hanya menjelaskan pemetaan untuk menilai tingkat letusan gunung berapi di Venus. Ada dua syarat diperlukan agar ini menjadi penjelasan yang layak. Pertama, planet ini harus aktif secara vulkanis,” imbuhnya.

Meski ribuan gunung berapi terlihat dalam gambar radar di Venus, para astronom kekurangan data untuk mengkonfirmasi adanya letusan gunung yang terhadi di planet tersebut baru-baru ini. “Vulkanisme eksplosif adalah kuncinya, karena perlu ada mekanisme agar fosfida dikeluarkan ke atmosfer,” ucap Lunine.

Hasil penelitian fosfin di Venus dikoreksi 

Jonathan Lunine mengungkapkan, syarat kedua untuk mengkaji soal fosfin di Venus adalah para ilmuwan mesti memverifikasi bahwa gas ini sebenarnya memang benar-benar terlihat nyata ada di sana. “Tanpa bukti ini, teori gunung berapi menjadi omong kosong dibandingkan hipotesis,” ungkapnya. 

Di sisi lain, di dalam makalah tim Jane Greaves yang menggunakan data yang dikumpulkan oleh James Clerk Maxwell Telescope dan Atacama Large Millimetre/Submillimetre Array (ALMA) melaporkan kalau mereka mendeteksi sekitar 20 bagian per miliar fosfin berlebih terkandung di udara Venus.

Tetapi pada bulan-bulan berikutnya, ditemukan adanya kesalahan kalibrasi dalam data ALMA membuat terjadinya revisi dengan  mengurangi nilai kandungan fosfin di kisaran satu hingga lima miliar.

Semenrara, astronom lain yang tidak terlibat dalam proyek ini yang melakukan analisa mereka sendiri tentang data ALMA, gagal menemukan bukti adanya bukti fosfin di Venus.

Pada pertengahan November tahun lalu, ada catatan ditambahkan ke studi aslinya yang berbunyi, “Para penulis telah memberi tahu editor Nature Astronomy tentang kesalahan dalam pemrosesan asli data Observatorium ALMA yang mendasari pekerjaan dalam artikel ini, dan bahwa kalibrasi ulang data telah berdampak pada kesimpulan yang dapat ditarik.”  

Merespons adanya koreksi yang disampaikan melalu kajian ilmiah ini, baik Greaves maupun Sousa-Silva memilih untuk tidak memberikan komentarnya.

Dugaan unsur kehudupan di fosfin akan terus diteliti

Sementara itu, hipotesis adanya gunung berapi juga dikritisi para ahli. Pada hari yang sama pada tahun 2020 ketika tim Greaves menerbitkan makalah mereka, ahli astrobiologi MIT Janusz Petkowski mengunggah makalah pra cetak ke arXiv yang ditulisnya bersama para peneliti lainnya yang turut berkontribusi pada hasil penelitian Greaves.

Petkowski menyebut sumber munculnya fosfin bisa disebabkan faktor iologis. Dalam jurnal setebal 103 halaman itu, dia melakukan analisa ekstensif tentang reaksi gas, geokimia, dan fotokimia dengan mengesampingkan kejadian fosfin lewat metode konvensional, termasuk aktivitas vulkanik.

Kesimpulan mereka, fosfin harus berasal dari beberapa proses baru namun tidak diketahui kemungkinan bisa bersumber dari kehidupan mikroba yang ada di awan Venus.

Atas adanya pandangan ini, Petkowski dan timnya memutuskan untuk secara terbuka mengunggah versi baru makalah di arXiv dengan catatan yang sesuai yang secara eksplisit menyebut hipotesis gunung berapi Truong dan Lunine tidak masuk akal. 

Baca Juga: Disebut Gerbang Alam Semesta, Anuradhapura Jadi Perhatian Ilmuwan | Asumsi

Meski demikian, Petkowski dan timnya tetap bersikukuh dengan kemungkinan adanya unsur kehidupan di dalam fosfin dan bakal terus mengkajinya lebih lanjut.

Ia pun menyambut baik perdebatan yang hangat antara para ilmuwan dan tidak takut salah dengan penelitiannya, serta mempersilakan para ahli memberikan masukannya. “Cerita tentang ini belum berakhir,” ucapnya. 

Misi NASA buktikan keberadaan fosfin di Venus

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pun mengumumkan misi lama mereka yang akan segera dieksekusi di masa mendatang dan bersinggungan dengan perdebatan banyak astronom serta para ilmuwan untuk menyelidiki kehidupan di Venus. Ahli geofisika NASA Suzanne Smrekar mengharapkan misi ini bisa membuktikan soal misteri fosfin yang ada di atmosfer planet tersebut. 

“VERITAS yang akan diluncurkan pada tahun 2028, merupakan pesawat ruang angkasa yang akan memetakan permukaan dan mencari keberadaan air bawah tanah yang dalam serta berpotensi dimuntahkan sebagai uap oleh gunung berapi aktif,” jelas dia.

Di waktu yang sama, NASA juga berencana menerjunkan wahana lain yang berbentuk bukat yang dinamakan DAVINCI. Wahana ini, bakal diluncurkan melalui atmosfer beracun serta bertugas mengukur komposisi awan Venus. Hasilnya eksplorasi wahana ini, diharapkan mampu mengonfirmasi atau mengesampingkan keberadaan fosfin di Venus.

Smrekar yang juga pemimpin dari misi peluncuran VERITAS ini mengakui, penelitian adanya dugaan kehidupan di Venus merupakan hal menarik dan selama ini menjadi perhatian NASA.

“Ini akan memakan waktu yang sangat lama untuk mengatakan kami percaya ada kehidupan (di Venus),tapi itu adalah rengekan banyak pihakuntuk menyelidiki hal ini lebih dalam dalam ranah kajian ilmiah,” terangnya.

Ngoc Truong dan Jonathan Lunine antusias dengan misi NASA ini. Lunine mengharapkan riset soal adanya kehidupan di Venus melalui penyelidikan fosfin bisa meningkatkan minat para ilmuwan untuk fokus juga terhadap misteri yang ada di planet ini. Pasalnya, selama ini banyak ilmuan dan lembaga antariksa dunia yang lebih fokus meneliti Mars.

Sekalipun nantinya tidak ditemukan bukti adanya kehidupan di Venus, menurutnya manusia juga perlu mengenal sang bintang kejora sebagai saudara dari Bumi.  

“Meski tanpa kehidupan, kita harus mengenal saudara planet kita yang sangat mirip dengan rumah kita. Namun tampaknya sangat berbeda secara geologis. Ini hanyalah alasan lain untuk menganggap Venus sebagai target yang menarik untuk eksplorasi,” tuturnya.

Gas Venus menarik perhatian astronom

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin mengatakan saat ini Venus memang menjadi salah satu planet yang menarik perhatian NASA untuk menjadi objek penelitian, selain Mars.

Sebelumnya, NASA meneliti perbedaan waktu sehari yang terjadi di Venus yang rata-rata berlangsung selama 243 hari di Bumi. Lembaga antariksa asal Negeri Paman Sam itu juga menangkap sinyal misterius dari Venus melalui wahana Parker Solar Probe NASA saat melintasi planet tersebut, di tengah proyek penelitian Matahari.

Rupanya, sinyal ini diduga gelombang radio ini berasal dari lapisan gas yang ada di Venus. Gas yang ada di Venus ini, kata Thomas memang meninggalkan misteri tersendiri untuk diteliti lebih lanjut oleh astronom.

“Seperti yang pernah saya sampaikan, kalau di Venus ada asam sulfat berwarna putih yang menarik perhatian, bikin terlihat terang benderang saat sinar Matahari dipantulkan. Nah, gas di Venus ini memang panas dan mungkin memunculkan dugaan kuat proses vulkanis di sana,” terangnya kepada Asumsi.co melalui sambungan telepon, Jumat (16/7/21),

Soal peluang adanya alien atau kehidupan lain di Venus, ia bersikukuh planet tersebut lebih sulit membentuk unsur kehidupan laiknya Mars yang ditemukan banyak kandungan air yang bisa jadi tempat makhluk hidup menetap.

“Makhluk hidupnya ini pun bentuknya berupa mikroorganisme. Suhu yang terlalu panas akibat kumpulan gas yang ada di Venus ini kemungkinan besar sangat menyulitkan memunculkan adanya unsur kehidupan, alih-alih sebagai tanda adanya sumber kehidupan,” tandasnya.

Share: Memperdebatkan Misteri Fosfin yang Disebut Jadi Tanda Kehidupan Alien di Venus