Politik

Kritik Penanganan COVID-19 dari Mulut Ibas yang Jarang Hadir Rapat

OlehErwin

featured image
Instagram @ibasyudhoyono

Edhi Baskoro Yudhoyono alias Ibas melontarkan kritik tajam kepada pemerintah terkait penanganan Covid-19. Ibas mewanti-wanti pengelolaan Covid-19 yang tidak becus oleh pemerintah membawa konsekuensi Indonesia menjadi bangsa gagal alias failed nation.

"Jangan sampai negara kita disebut sebagai failed nation atau bangsa gagal akibat tidak mampu menyelamatkan rakyatnya," kata Ibas, dalam keterangan pers tertulis yang disebar Kepala Bakomstra Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra, belum lama ini.

Kritikan ini tergolong keras dari Ibas yang diketahui jarang memberi pernyataan kepada publik. Penanganan pandemi oleh pemerintah sekarang ini memang menjadi sorotan buntut ledakan kasus Covid-19 hingga PPKM darurat harus diterapkan bukan hanya di Jawa dan Bali.

Menurut Pengamat Politik Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah, pernyataan Ibas bisa dibaca sebatas agitasi atau provokasi semata. Bukan pernyataan yang memberi solusi untuk menenangkan rakyat. Sebagai oposan, Demokrat hendak menjadikan isu Covid-19 sebagai panggung eksistensi.

Baca Juga : Mungkinkah Gedung DPR Jadi RS Darurat Covid-19?

"Jadi kembali konteks failed nation pada penanganan Covid-19 ini lebih kepada untuk menggoyang pemerintah sekarang. Suara untuk memotong Pak Jokowi di tengah (jalan) kan mulai didengungkan. Tetapi jangan diartikan negatif juga," ujar Trubus, kepada Asumsi.co, Minggu (11/7/2021).

Cuma Bikin Gaduh

Trubus menilai, Indonesia sudah disebut menjadi bangsa gagal sejak merdeka. Bung Karno harus menyuarakan nation building untuk membendung agitasi macam itu. Pak Harto turut merasakan tudingan seperti itu, zaman Pak SBY negara malah disebut gagal.

Trubus meminta, Ibas selaku Waketum Partai Demokrat sekaligus anggota Fraksi Demokrat di DPR, fokus pada isu menjadikan kompleks parlemen sebagai RS darurat Covid-19. Langkah ini selaras dengan upaya menyelamatkan bangsa dari belenggu Covid-19.

"Lebih baik dikonkretkan saja, di situ orang akan melihat ini perjuangan Demokrat. Kalau Gedung DPR jadi RS darurat Covid-19 maka DPRD-DPRD di daerah akan membuka diri juga, dan terbukti partai politik ikut berperan dalam memerangi Covid-19," kata Trubus.

Trubus meyakini, kritikan Ibas hanya sebatas provokasi karena tidak ada tindakan konkret dari partai politik, khususnya Partai Demokrat dalam penanganan Covid-19 ini. Imbasnya, kritikan ini hanya ramai di medsos atau menjadi bola liar menyerang balik Ibas.

Baca Juga : Desinfeksi dan Rusakkan dulu Masker Bekas Sebelum Dibuang

"Agitasi atau kritik dari partai politik tidak perlu solusi, beda dari akademisi harus memberi solusi. Mungkin hanya testing the water saja, apakah publik menyambut kritik itu atau malah bereaksi negatif," ungkap Trubus.

Ibas Jarang Hadir Rapat

Ibas kini menghadapi serangan balik dari koleganya di DPR. Rekan Ibas di Komisi VI, Andre Rosiade meminta Ibas rutin hadir dalam rapat kerja komisi sehingga ikut berkontribusi menangani Covid-19.

"Daripada berteriak di luar lebih baik Mas Ibas hadir dalam rapat. Kan sayang sekali Mas Ibas dipilih oleh ratusan ribu orang tetapi tidak hadir dalam rapat. Sekali lagi, hadir bisa secara visik atau virtual," kata Andre dalam CNNIndonesia.com.

Hal senada juga dilontarkan Ketua Umum Jokowi Mania, Immanuel Ebenezer, yang menyebut baiknya Ibas disiplin dulu untuk ikut rapat sebelum kritik pemerintah.

"Mas Ibas mengkritik soal negara di sisi lain kita lihat beliau kan jarang hadir juga saat paripurna di DPR RI. Itu menjadi kritikan kita juga," ujar Ketua Umum Jokowi Mania, Immanuel Ebenezer, dalam acara diskusi daring.

Share: Kritik Penanganan COVID-19 dari Mulut Ibas yang Jarang Hadir Rapat