Isu Terkini

Bandara Changi Diserang Covid-19, Singapura Lakukan Pengetatan Sebulan

Tommi Andry– Asumsi.co

featured image
Foto: Unsplash/Victor He

Pemerintah Singapura menetapkan pengetatan di seluruh negeri setelah meningkatnya kasus Covid-19 di negara itu. Prosedur semi lockdown ini diterapkan mulai 16 Mei 2021 hingga 13 Juni 2021.

"Gugus Tugas (MTF) telah memantau dengan cermat situasi Covid-19 lokal dan global. Jumlah kasus Covid-19 yang ditularkan secara lokal dan kasus komunitas yang tidak terkait terus meningkat. Hal ini memprihatinkan karena situasi dapat dengan cepat meningkat jika kasus-kasus ini tidak ditangani dengan cepat dan tegas," bunyi rilis yang diterbitkan di laman Kementerian Kesehatan Singapura (MoH).

Dalam aturan ini, Singapura tidak menerapkan lockdown seperti saat awal pandemi melanda. Dalam sebulan ke depan, warga masih dibolehkan keluar rumah dengan aturan yang ketat. Bahkan, MoH merilis aturan yang sangat detail untuk menjaga warganya dari paparan Covid-19.

Baca juga: Cegah Lonjakan Kasus COVID-19, Singapura Berlakukan Aturan Ini bagi Pendatang Asing

Warga boleh keluar rumah atau saling berkunjung satu sama lain tapi dengan pembatasan. Semula warga boleh berkunjung dengan maksimal lima orang, kini hanya dibolehkan untuk dua orang saja. Kemudian kunjungan pun hanya dibolehkan sekali dalam sehari.

Selanjutnya seluruh perusahaan wajib menerapkan work from home untuk seluruh karyawannya. Namun, jika terpaksa harus masuk kantor, jam kantor harus dibuat fleksibel untuk menghindari kerumunan. Lalu, makan siang pada jam istirahat pun harus diatur agar tidak terjadi interaksi.

Kemudian seluruh restoran maupun pujasera masih dibolehkan buka tapi tidak melayani makan di tempat. Pemerintah Singapura sangat ketat mengatur persoalan makan karena pada aktivitas ini warga harus membuka masker yang dengan sendirinya meningkatkan potensi penularan.

"Ini berkaca pada ditemukannya klaster baru di Bandara Changi yang ketika ditelusuri rupanya berasal dari aktivitas makan di foodcourt lalu tertular dan menularkan ke puluhan orang di sana," kata Associate Professor Nanyang Technological University Singapore, Sulfikar Amir saat dihubungi Asumsi.co, Sabtu (15/5/21).

Dimulai dari Klaster Rumah Sakit

Ahli sosiologi bencana ini mengatakan, langkah tegas Pemerintah Singapura ini tidak serta merta dilakukan. Sebelum pengetatan diterapkan, Pemerintah Singapura sudah melakukan sejumlah pembatasan aktivitas karena ditemukannya klaster baru di Rumah Sakit Tan Tock Seng (TTSH).

"Ini klaster pertama yang membuat pemerintah melakukan pembatasan. Ketika itu ada perawat yang padahal telah divaksin tapi tertular Covid-19. Kemudian menularkan pada pasien dan pengunjung. Jadi inilah salah satu klaster yang cukup serius. Tapi seminggu setelah itu karena tracing dan testing cukup bagus, akhirnya klaster rumah sakit ini bisa terkendali," ucap Prof. Sulfikar yang merupakan WNI ini.

Namun, setelah klaster di TTSH terkendali, muncul klaster baru di Bandara Changi, tepatnya di Terminal 3. Klaster ini awalnya ditemukan pada para pekerja. Kemudian setelah diteliti, rupanya ada kebocoran. Para pekerja itu tertular dari penumpang luar negeri. Dari hasil penelusuran, penularan kemudian terjadi lagi di tempat makan.

"Kebocorannya terjadi di tempat pengambilan bagasi di mana petugas bandara berlalu lalang kemudian makan di kantin. Jadi episentrumnya itu di foodcourt jadi ada beberapa orang terkena di situ," ucap dia.

Klaster bandara ini kemudian meluas setelah ditemukan seorang anak yang juga terkonfirmasi positif Covid-19. Saat ditelusuri, anak tersebut pernah datang ke bandara kemudian makan di kantin.

"Ini yang menjadi concern penularan lokal di komunitas. Pemerintah melakukan tracing yang gila-gilaan, sekarang ada sekitar 1.000 lebih orang dikarantina, puluhan ribu orang ditesting untuk melacak. Ini menjadi kekhawatiran karena virus merupakan virus yang berasal dari India, sama seperti yang klaster rumah sakit," ucap Prof. Sulfikar.

MoH mencatat, total kasus pada klaster bandara ini mencapai 46 orang. Meski cenderung kecil dibanding negara lain yang terkena pandemi, semisal Indonesia, Pemerintah Singapura enggan kecolongan sehingga segera menerapkan pengetatan maksimal.

Prof. Sulfikar mengatakan, jumlah kasus pada klaster bandara ini menjadi kenaikan yang sangat signifikan bagi Singapura. Karena, sejak Agustus 2020 lalu angka peningkatan kasus di Singapura cenderung terkendali, yakni hanya 1-2 orang per hari.

"Bahkan sempat beberapa minggu peningkatan kasusnya nol. Ada pula peningkatan tertinggi itu setelah tahun baru jumlahnya sekitar lima kasus. Jadi memang sudah terkendali. Namun, dengan klaster yang baru, pemerintah tidak tanggung-tanggung dengan menerapkan pengetatan," ucap dia.

Sejumlah kegiatan masih dibolehkan di masa pengetatan ini, seperti kegiatan keagamaan, pertunjukkan, museum, perpustakaan umum hingga bioskop dan seni pertunjukkan. Namun, seluruh kegiatan itu dibatasi jumlah pesertanya yakni tidak boleh lebih dari 100 orang dan wajib dilakukan tes sebelum kegiatan dimulai.

Baca juga: KPK Minta Maaf Sebut Singapura Surganya Koruptor

Meski dibolehkan, Pemerintah Singapura sangat melarang kegiatan yang mengharuskan membuka masker seperti menyanyi, meniup alat musik atau perawatan wajah dan salon kecantikan lainnya. Bahkan, meski acara pernikahan dibolehkan, pemerintah melarang acara makan-makan.

Warga Mendapatkan Subsidi

Untuk membantu usaha warganya yang terdampak akibat pengetatan ini, pemerintah akan memberikan subsidi baik kepada karyawan maupun pengusaha makanan dan minuman. Mereka akan dibebaskan biaya sewa tempat selama sebulan atau selama pengetatan ini diterapkan.

Di samping itu, pemerintah memastikan pengetatan ini akan dibarengi dengan testing dan tracing yang masif untuk melacak penyebaran Covid-19. Pemerintah pun akan lebih meningkatkan kembali program vaksinasi.

Per 13 Mei 2021, MoH mencatat sebanyak 3,2 juta dosis vaksin Covid-19 telah disuntikkan. Sekitar 1,9 juta orang telah menerima setidaknya satu dosis vaksin kemudian 1,3 juta orang telah menerima dosis kedua dan menyelesaikan proses vaksinasi lengkap.

Kontras Dengan Indonesia

Ketatnya penanganan Covid-19 di Singapura ini berbanding terbalik dengan Indonesia. Meski kenaikan kasus hariannya hanya mencapai puluhan, pemerintah setempat langsung melakukan langkah cepat dan tegas memutus rantai penyebaran.

Sedangkan di tanah air, meski kasus telah mencapai ribuan per hari dan pernah mencapai belasan ribu, penanganannya kerap berubah-ubah. Contoh konkret yakni mudik yang semula dibolehkan lalu dilarang hingga akhirnya terjadi kisruh di perbatasan. Terkini, larangan ziarah usai lebaran sedangkan tempat wisata dan pusat perbelanjaan tetap dibuka, walaupun kemudian area rekreasi Ancol dan Ragunan di Jakarta yang sebelumnya dibuka dengan batasan kapasitas akhirnya ditutup secara mendadak sampai hari Senin, 17 Mei.

Share: Bandara Changi Diserang Covid-19, Singapura Lakukan Pengetatan Sebulan