Isu Terkini

Bipang di Tengah Pelarangan Mudik Tambah Kekecewaan Publik

Tommi Andry– Asumsi.co

featured image
Foto: presidenri.go.id

Isi pidato Presiden Joko Widodo tentang kuliner tradisional yang memunculkan polemik harus segera dievaluasi. Bukan hanya dengan ramai-ramai memberikan klarifikasi tapi juga fokus pada evaluasi tim komunikasi

Pengamat Komunikasi Publik Universitas Islam 45, Harun Alrasyid mengatakan, harusnya tim komunikasi Jokowi berhati-hati dalam menyampaikan materi pidato. Meski hanya pidato bersifat ringan, namun, sebenarnya tensi masyarakat sedang hangat.

Di lapangan, masyarakat tengah dikecewakan karena mereka dilarang mudik. Belum lagi masifnya berita tentang penyekatan yang mungkin saja membuat mereka tidak nyaman.

Baca juga: Jokowi Promosikan Bipang untuk Dibeli Online, Netizen Heboh

“Harusnya lebih berhati-hati tim komunikasi publik untuk menyampaikan pernyataan. Apalagi kan masyarakat sudah kecewa karena dilarang mudik, ditambah lagi yang soal bipang ambawang,” kata Harun kepada Asumsi.co, Minggu (9/5/21).

Sebenarnya, materi yang disampaikan Jokowi relatif baik dan berupaya untuk menyejukkan mereka yang tidak pulang kampung. Namun, karena ada materi yang tidak pas membuat apa yang disampaikan menjadi ambigu.

Apalagi, materi bermakna ganda ini muncul di tengah momentum keagamaan. Tidak dapat dipungkiri lagi jika persoalan agama menjadi sangat sensitif di negeri ini.

“Bipang ini kan bisa memang babi panggang, bisa juga makanan tradisional lain yang namanya memang mirip. Tapi, persoalannya memang materi yang dibuat di tengah momentum yang sensitif,” kata dia.

Ramai-ramai Klarifikasi

Harun pun menilai langkah klarifikasi yang dilakukan sejumlah orang yang dekat dengan istana tidak sepenuhnya efektif. Soalnya, sesuai dengan sifatnya, komunikasi itu memiliki sifat tidak bisa ditarik. Jadi meski telah diklarifikasi, komunikasi akan tetap terekam oleh komunikan.

“Jadi jika ramai-ramai melakukan klarifikasi, saya kira tidak efektif. Walaupun sudah ada pernyataan dari timnya, tetap saja materinya sudah tersebar di masyarakat, sudah terekam dan tidak bisa ditarik,” ucap dia.

Lebih dari itu, dalam komunikasi pun terdapat istilah standing position di mana pandangan publik terhadap narasumber sangat menentukan penilaiannya.

“Jadi bagaimana posisi kita terhadap narasumber yang mengatakannya. Apa pun yang dikatakan narasumber, jika memang kita suka maka akan positif. Kalau sudah enggak suka, walaupun diklarifikasi bagaimana pun tetap negatif. Maka baiknya ini jadi evaluasi agar seharusnya tidak terjadi,” ucap dia.

Seperti diketahui, setelah kontroversi muncul di masyarakat, sejumlah tokoh di lingkaran presiden ramai-ramai menyampaikan klarifikasi.

Staf Khusus Presiden, Fadjroel Rahman, melalui akun media sosialnya ikut menanggapi mengenai bipang. Menurut dia, bipang sama dengan jipang yang merupakan makanan tradisional yang berasal dari beras.

"Ini BIPANG atau JIPANG dari beras. Makanan kesukaan saya sejak kecil hingga sekarang. BIPANG atau JIPANG dari beras ini memang makanan hit sampai sekarang ya. Nuhun ~ #BungFADJROEL #Bipang," tulis Fadjroel dalam twitnya.

Pembelaan pun disampaikan Ali Mochtar Ngabalin melalui twitternya.

“Apa yg salah dari pernyataan JOKOWI soal Bi-Pang? bukankah beliau bpk dari seluruh suku & agama di negeri ini. semua punya makanan khas yg bermacam2, klu beliau memperkenalkan makanan khas tertentu kenapa nggak blh? apa krn soal mudik lebaran? ART saya seorg nasrani mudik juga tuh,” tulis dia.

Baca juga: Ajak Cintai Produk Indonesia, Jokowi: Gaungkan Benci Produk Asing!

Sementara itu, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, dalam video pernyataannya, mengajak masyarakat untuk melihat konteks pidato Presiden secara keseluruhan. Ia mengatakan, isi pidato Presiden ditujukan untuk seluruh masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku, agama, dan budaya yang memiliki kekayaan kuliner Nusantara dari berbagai daerah. Setiap makanan memiliki kekhasan dan menjadi makanan favorit lokal.

"Jadi sekali lagi, kuliner khas daerah yang disebut Bapak Presiden dalam video tersebut adalah untuk mempromosikan kuliner nusantara yang memang sangat beragam," ujar dia.

Menteri Lutfi juga mengajak masyarakat untuk bangga dan mempromosikan kuliner Nusantara yang beragam sehingga bisa menggerakkan ekonomi terutama UMKM. Sebagai penanggung jawab acara tersebut, Kemendag memastikan tidak ada maksud apa pun dari pernyataan Presiden. 

"Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya jika terjadi kesalahpahaman karena niat kami hanya ingin agar kita semua bangga terhadap produksi dalam negeri termasuk berbagai kuliner dari khas daerah dan menghargai keberagaman bangsa," ujar M Lutfi seperti dikutip kompas.com.

Share: Bipang di Tengah Pelarangan Mudik Tambah Kekecewaan Publik