General

Survei Literasi Media: Anak Muda Harus Awasi Orang Tua dari Paparan Hoaks

OlehRay

featured image
Foto: Unsplash

Sebagai netizen, setiap kita bangun tidur yang langsung dilakukan pertama kali pastinya cek gawai. Nah, seberapa sering kalian mengecek kabar terkini melalui media sosial, alih-alih lewat portal berita daring?

Hasil survei Litbang Kompas memperkuat hal ini, dengan menyebut publik saat ini cenderung memilih media sosial untuk mengakses informasi, meskipun belum menjamin adanya akurasi.

Padahal dalam mengakses konten bukan cuma dibutuhkan kemampuan membaca, melainkan juga penting untuk memahami dan memilahnya.

Baca juga: Laporan Tahunan Microsoft: Netizen Indonesia Paling Tidak Sopan se-Asia Tenggara

Akses Informasi Digital Masih Semu

Hasil survei tatap muka nasional Kompas pada April 2021, merekam gambaran konsumsi bermedia digital masyarakat Indonesia yang belum mencerminkan melek literasi.

Kebingungan masyarakat atas benar dan salah akan sebuah berita dan peristiwa yang disusupi banyaknya hoaks kian menjadi-jadi.

Survei mencatat, sebanyak 54,3% masyarakat sudah merasa cukup dengan yang disediakan oleh internet. Kelompok ini menyatakan telah menemukan informasi yang dibutuhkan dan diinginkan di internet. "24% mengatakan tidak selalu mendapatkan akses informasi digital yang dibutuhkan," tulis survei. 

Meski demikian, rasa cukup terhadap informasi yang diterima masyarakat itu ternyata semu. Pasalnya, mayoritas dari mereka masih mengakses informasi bukan dari sumber berita yang lebih tepercaya, serta belum proporsional.

Lebih jauh, hasil survei merekam ada 65,7% publik responden yang secara berkala mengakses situs berita daring. Akan tetapi, mayoritas durasi dalam mengakses berita masih di level yang rendah baik dari skala mingguan dan harian.

Tercatat hanya satu dari sepuluh responden yang selalu membuka situs berita online setiap harinya. 12,7% mengakses 3-6 kali dalam seminggu. 

Mayoritas dari proporsi pengakses berita, yakni 41,9%, hanya mengakses situs berita 1-2 kali dalam seminggu. Dari skala durasi waktu, sebagian besar mengonsumsi berita dalam kategori rendah. 

Dihitung dari total pengakses berita, hanya 4,6% responden yang menikmati berita di situs berita online lebih dari 60 menit. 

Dalam proporsi yang makin besar, sejumlah 12,3% mengakses berita selama 31 sampai 60 menit dan 83,1% menikmati berita tidak lebih dari 30 menit per hari. Dengan gambaran itu bisa disimpulkan relatif masih minimnya informasi kredibel yang diakses oleh warganet.

Boomers Lebih Rentan Termakan Hoaks

Survei yang sama juga melaporkan,  penikmat situs berita online dengan kategori konsumsi sedang ke tinggi didominasi masyarakat kategori muda dan dewasa, dengan rentang usia 17 sampai 40 tahun. 

Sedangkan untuk kelompok masyarakat senior yang berada pada rentang usia 41 hingga 60 tahun, tak lebih dari 20% yang masuk kategori ini.

"Warga senior ini menyumbang proporsi paling banyak pada kelompok yang sama sekali tidak pernah mengakses berita di situs berita online. Artinya, kelompok ini rentan dengan kabar-kabar bohong," demikian dikutip dari survei Kompas.

Media sosial yang paling menjadi referensi dan dipercaya adalah media sosial yang memang pouler di Indonesia. Survei ini menunjukkan Facebook berada pada tingkat kepercayaan sebesar 25% dan Whatsapp berada pada persentase 22,3%. 

Keduanya, menjadi medsos yang paling dipercaya warganet untuk mendapatkan informasi, menyusul YouTube pada persentase kepercayaan sebesar 19,7% dan Instagram dengan perolehan 12,1%.

Di tengah rendahnya minat masyarakat untuk mengakses situs berita online, aktivitas warga dalam penggunaan media sosial justru lebih tinggi. Survei mencatat, hanya 24,1% yang tidak pernah mengakses media sosial. Dominan, 73,9% warganet aktif berselancar di media sosial, dibandingkan situs berita.

Durasi penggunaan media juga lebih sering dibandingkan situs berita online. Tercatat 52,3% mengakses media sosial lebih dari dua kali dalam sehari. Hanya 23,6% yang mengakses sehari sekali.

Selain itu, tercatat sebanyak 7% responden membuka media sosial lebih dari 60 menit. Sedangkan, 20,3% selama 31 sampai 60 menit dan 72,7% menghabiskan kurang dari 30 menit. 

Peneliti dari Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Indonesia, Hendriyani mengamini survei ini, yang menunjukkan kelompok usia senior atau yang disebut generasi baby boomers ini lebih rentan terpapar hoaks. 

Baca juga: Jokowi Promosikan Bipang untuk Dibeli Online, Netizen Heboh

"Dllihat dari segi kekritisan terhadap konten berita yang disajikan secara digital, sepertinya generasi muda, milenial memang lebih baik daripada yang lebih tua. Tak heran, riset ini menunjukkan baby boomers itu memang lebih cenderung mudah percaya sama hoaks karena mereka juga enggak tahu cara mengecek informasi yang diterima oleh mereka, hoaks atau bukan," jelas Hendriyani kepada Asumsi.co melalui sambungan telepon, Sabtu (8/5/21).

Penyebab utama generasi boomers lebih mudah termakan hoaks, lanjutnya, lantaran informasi yang diperoleh kebanyakan berasal dari orang-orang terdekat yang dikenal baik oleh mereka.

"Jadi, informasi yang diperoleh dari orang yang dikenal cenderung lebih membangkitkan sikap percaya pada dirim mereka. Itu memang cara berpikir yang agak beda dibandingkan generasi muda yang lebih fasih menggunakan teknologi," terangnya.

Oleh sebab itu, menurutnya anak muda harus terus mengingatkan kelompok usia senior ini, seperti orang tuanya agar lebih kritis saat menerima informasi di dunia digital. 

"Jadi, boomers ini, perilakunya baru bisa menerima informasi, membaca dan membagikannya. Kalau buat mengecek ulangnya belum. Jadi, agak beda perkembangan literasi media. Jaman dulu anak-anak yang harus diawasi, sekarang kebalik justru orang tua yang mesti lebih banyak diawasi anak muda karena peralihan informasi ke ranah digital bikin mereka bisa kemankan hoaks dan jangka panjangnya bahaya," tandasnya.

Share: Survei Literasi Media: Anak Muda Harus Awasi Orang Tua dari Paparan Hoaks