General

Wacana Penggabungan BRI, PNM, dan Pegadaian Buat Resah Banyak Pihak

Ridwan Achmad — Asumsi.co

featured image

Sumber foto: IDXChannel

Wacana penggabungan BRI, PNM, dan Pegadaian semakin menyeruak ke ranah publik. Awal mula wacana ini dilontarkan Menteri BUMN, Erick Thohir. Saat itu pada media Desember 2020, Erick berpikir ingin melakukan sinergi BUMN antara BRI, PNM, dan Pegadaian.

Ketiga perusahaan pembiayaan ini memang sama-sama memiliki fokus pada pendanaan UMKM.  Sejalan dengan itu, Erick pun menginginkan agar ketiga melembur dan menyasar ke segmen ultramikro.

“Tujuannya mendorong bisnis pelaku UMKM di Indonesia. Sinkronisasi dan merger antara BRI, PNM, dan Pegadaian,” jelas Erick.

Erick mencoba memaparkan satu-satu dari ketiga bisnis pembiayaan itu. Pertama BRI. BRI dari sisi market memiliki fokus untuk memberikan pembiayaan kepada pelaku usaha UMKM. Sementara, PNM memiliki mayoritas nasabahnya adalah pelaku usaha ultra mikro. Kemudian pegadaian merupakan perusahaan negara yang bergerak mengelola utang.

“Pegadaian ini bisnis bond kita dan PNM ini bisnis segmennya memang ultra mikro,” kata Erick.

Grand plan dari rencana besar ini adalah setiap kelas usaha akan mampu naik kelas berikutnya. Dari pelaku usaha ultra mikro menjadi pelaku usaha UMKM dan dari pelaku usaha UMKM menjadi pelaku UKM.

Rencana yang Buat Khawatir

Anggota Komisi XI DPR Vera Febyanthy menyebutkan bahwa rencana besar penggabungan ketiga perusahaan itu dikhawatirkan berdampak terhadap nasib dari karyawan. Terutama bagi karyawan PNM dan Pegadaian.

“Terkait penggabungan atau merger yang akan masuk ke BRI, ada salah satu outlet yang dikorbankan baik PNM atau Pegadaian. Sekarang pertanyaannya, mau dikemanakan yang eksisting. Apakah tidak akan menimbulkan gejolak?” kata dia.

Direktur Utama BRI, Sunarso langsung menepis kekhawatiran anggota DPR RI tersebut. Menurutnya, persoalan nasib karyawan dijamin tidak ada perubahan. Mereka akan tetap melaksanakan tugasnya dan besar kemungkinan akan diberi kesempatan untuk menggunakan outlet BRI.

“Tidak ada perubahan. Pembentukan ekosistem ultra mikro justru akan membuat keduanya lebih efisien dari sisi cost of fund dan biaya operasional, sehingga bermanfaat pada penurunan suku bunga pinjaman bagi usaha ultra mikro,” jelas Sunarso.

Ekonom senior, INDEF, Faisal Basri dalam sebuah kesempatan juga sempat mengkritik rencana penggabungan tiga perusahaan pembiayaan ini. Menurutnya, persoalan UMKM tidak melulu sisi keuangan semata. Terlebih jika melihat peran pegadaian.

“Peran Pegadaian selama ini untuk membantu kesulitan likuiditas jangka pendek. Jika ini digabung, tak akan bisa memperdalam sektor keuangan. Ini justru bertentangan dengan gagasan pemerintah memajukan UMKM secara totalitas,” ujar dia.

Share: Wacana Penggabungan BRI, PNM, dan Pegadaian Buat Resah Banyak Pihak