Covid-19

Guru Honorer di Sukabumi Lumpuh Usai Divaksin COVID-19, Ini Penyebabnya

OlehRamadhan

featured image
Foto Ilustrasi: Unsplash

Seorang guru honorer di SMAN 1 Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, bernama Susan, disebut mengalami kelumpuhan dan gangguan penglihatan usai vaksinasi COVID-19 tahap dua. Kabar ini mengejutkan publik sehingga berdampak pada kekhawatiran untuk melakukan vaksinasi. Apa sebenarnya yang terjadi?

Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Prof Hindra Irawan Satarin mengatakan, pihaknya sudah selesai melakukan investigasi terkait kasus kelumpuhan guru Susan.

Dari hasil investigasi, menunjukkan guru Susan mengidap guillain-barre syndrome (GBS). Kondisi tersebut merupakan penyakit saraf. 

Hindra pun menyebut dari investigasi tersebut, tidak terbukti adanya keterkaitan antara sakitnya Susan dengan vaksinasi COVID-19 yang dijalaninya.

Baca juga: Disebut Buatan Yahudi, Ini Asal Usul Masker yang Sebenarnya! | Asumsi

"Ya, Jumat yang lalu Komnas dan Komda KIPI Jawa Barat sudah melakukan audit bersama dan menyimpulkan bahwa saat ini tidak cukup bukti untuk mengaitkan imunisasi dengan GBS yang terjadi pada ibu guru," kata Hindra saat dihubungi Asumsi.co, Senin (3/5/21).

Guru Susan Berangsur Pulih dan Akan Kembali Kontrol

Menurut penjelasan Hindra, saat ini, ibu guru Susan sudah berangsur pulih dan berada di rumah. Ia menyebut, minggu ini guru Susan akan kontrol kembali ke RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS).

Lebih lanjut, Hindra mengimbau bahwa masyarakat tak perlu khawatir untuk tetap melakukan vaksinasi COVID-19. Hal ini ia sampaikan karena kemungkinan masyarakat jadi takut dan berpikir dua kali untuk disuntik vaksin setelah mendengar kabar kelumpuhan guru Susan usai vaksinasi.

"Silakan terus divaksinasi, apabila setelah selesai di vaksinasi timbul keluhan, segera hubungi nomor telefon yang ada di belakang kartu vaksinasi yang diberikan sebelum meninggalkan tempat vaksinasi, sehingga nakes akan dapat melaporkan ke komda/komnas untuk dilakukan investigasi/dilaporkan untuk diobati atau dirujuk, agar keluhan dapat diatasi," ujar Hindra.

Menurut Hindra, masyarakat yang mengalami keluhan usai divaksin, tak perlu curhat atau melapor ke media sosial. Sebab, kata Hindra, menumpahkan keluh kesah di media sosial justru hanya akan memperkeruh kondisi, bahkan tak ada solusi.

"Jadi, jangan melapor ke sosmed, karena tidak akan memecahkan masalah, malah menambah masalah."

Apa Itu GBS dan Adakah Kaitannya dengan Vaksinasi?

Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman menjelaskan apa itu guillain-barre syndrome (GBS). Menurutnya, GBS merupakan kelainan langka di mana sistem kekebalan tubuh merusak sel saraf, menyebabkan kelemahan otot dan terkadang kelumpuhan.

Baca juga: Warga AS Diizinkan Lepas Masker Setelah Vaksinasi. Pakar: Indonesia Jangan Tiru | Asumsi

"Pertama, bahwa guillain-barre syndrome (GBS) ini penyakit autoimun di mana sistem imun tubuh itu menyerang persyarafan, merusak mielin namanya, dan sampai ke akson kadang-kadang," kata Dicky saat dihubungi Asumsi.co, Senin (3/5).

Meskipun penyebabnya tak sepenuhnya dipahami, sindrom ini sering kali terjadi setelah infeksi virus atau bakteri. Biasanya, gejala pertama dari GBS adalah kelemahan dan kesemutan. Sensasi ini bisa menyebar dengan cepat dan akhirnya melumpuhkan seluruh tubuh.

"Kerusakan [mielin dan akson] ini menimbulkan gejala, seperti kelemahan otot, berkurangnya sensasi dan juga kelumpuhan ya. Nah, sekali lagi, jika dikaitkan dengan vaksinasi, apapun ya, mau itu pembekuan darah, GBS ini, kita harus melihat background rate-nya, angka kejadian kasus sebelum program vaksinasi itu ada di masyarakat."

Dicky menjelaskan bahwa rate atau angka kejadian GBS ini diperkirakan, secara umum, mencapai dua kasus setiap 100.000 orang per tahun. Jadi, ia menegaskan bahwa GBS ini bukannya tak ada.

"Tapi rata-rata secara umum ya dua kasus per 100.000 orang per tahun atau kalau per satu juta, ya berarti kalikan 10, jadinya 20 kasus."

Menurut Dicky, kondisi ini perlu diketahui masyarakat karena artinya orang harus tahu bahwa ini memang penyakit yang umumnya ada dan terjadi karena namanya autoimun, bahkan sebelum ada vaksinasi. Sehingga ketika program vaksinasi ini ada, lanjutnya, harus dilihat dulu tidak serta merta dikaitkan dengan vaksin.

"Jadi sindrom GBS ini seringkali memang dirangsang atau dipicu oleh adanya infeksi virus atau bakteri yang umumnya terjadi, satu atau tiga minggu sebelum gejalanya muncul. Termasuk virus influenza, jadi ini yang harus diketahui dan dilihat dengan seksama kondisi sebelum dilakukan vaksinasi."

Sejauh ini, memang belum ada obat yang diketahui untuk GBS ini. Namun, beberapa perawatan dapat meredakan gejala dan mengurangi durasi penyakit. Meskipun kebanyakan orang sembuh dari GBS, angka kematiannya mencapai 4-7 persen.

Kemudian, antara 60-80 persen pengidapnya mampu berjalan dalam enam bulan. Pasien mungkin mengalami efek yang menetap, seperti kelemahan, mati rasa atau kelelahan.

Dicky pun mengingatkan bahwa meski seseorang mengidap GBS, lalu hendak melakukan vaksinasi COVID-19, itu bukan berarti kontra indikasi. Menurutnya, orang itu tetap bisa divaksin.

"Misalnya mau divaksinasi, terus dikatakan dia tadinya pernah menderita GBS ini, ya tapi bukan kontra indikasi. Jadi vaksinasi COVID-19 ini bukan kontra indikasi atau bukan larangan untuk diberikan pada orang yang pernah menderita GBS, bukan, nggak ada larangan gitu," kata Dicky.

"Jadi, dalam kaitan inilah GBS dengan vaksinasi saat ini harus melihat ke setiap riset uji vaksin tiganya. Kalau bicara Sinovac, nggak ada datanya gitu uji fase tiga yang menimbulkan GBS, yang messenger RNA atau mRNA juga nggak ada sejauh ini ya. Jadi, itu yang membuat kecil kemungkinan, sangat amat kecil kemungkinan GBS ini terkait dengan vaksinasi."

Namun, Dikcy menegaskan, sekali lagi, bahwa kasus GBS ini ada di masyarakat. Bahkan, sebelum vaksinasi, kasus ini banyak ditemukan.

"Sekali lagi saya sampaikan ya, di negara maju aja hitungannya ada. Apalagi di negara kita ya, banyak infeksi virus, bahkan bisa lebih banyak sebelum vaksinasi. Tapi orang-orang ini ada yang pulih, spontan tapi butuh waktu dari enam bulan sampai dua tahun ya tapi ada yang permanen 10-15 persen."

"Oleh karena itu, sekali lagi, pandemi ini sebetulnya mengangkat dan membuka banyak masalah kesehatan masyarakat. Jadi yang sebelumnya belum tampak, sekarang terlihat. Apalagi kan infeksi di kita ini banyak yang belum tertangani dengan baik ya, bukan masalah COVID-19 saja."

Share: Guru Honorer di Sukabumi Lumpuh Usai Divaksin COVID-19, Ini Penyebabnya