Covid-19

Parahnya Gelombang Kedua Covid-19 Menggilas Sistem Kesehatan India

OlehRendi Widodo

featured image
Foto: Unsplash/Mufid Majnun

Terlena dengan penurunan kasus yang mulai dilaporkan sejak September 2020 serta mulai masifnya distribusi vaksinasi Covid-19 di India, ternyata harus berakhir dengan cerita pilu. Dilaporkan setidaknya ada 314.835 kasus baru dalam satu hari seperti dikutip dari CNN Indonesia, Kamis (22/4/21). Angka ini sekaligus menjadi rekor angka infeksi harian tertinggi di dunia.

Sebelumnya dikabarkan bahwa pada awal Maret 2021, Menteri Kesehatan India Harsh Vardhan menegaskan kalau negaranya sedang dalam tahap akhir melawan virus corona. Hal ini pun memicu ketenangan warga untuk kembali mulai beraktivitas normal dan berkerumun.

Baca juga: Mulai 25 April, Pemerintah Indonesia Hentikan Kedatangan dari India


Dikutip dari Kompas, pada akhir Februari 2021, otoritas pemilu India mengumumkan pemilu penting dengan 186 juta orang berhak memberikan suaranya. Lalu pada 27 Maret 2021, pemungutan suara pun berlangsung selama sebulan.

Kemudian di pertengahan Maret, setidaknya 130.000 penggemar kriket di India mendapatkan izin untuk menonton pertandingan dua pertandingan kriket internasional antara India dan Inggris di Stadion Narendra Modi di Gujarat.

Darurat Oksigen

Lebih dari dua pertiga rumah sakit di sana tak memiliki lagi tempat tidur kosong. Dokter akhirnya menyarankan para pasien tinggal di rumah.

"Kami tidak pernah mengira gelombang kedua (Covid-19) akan menghantam kami begitu keras," kata Ketua Eksekutif Biocon & Biocon Biologics Mazumbar Shaw dalam tulisannya untuk Economic Times.

Kewalahan menghadapi lonjakan tajam kasus Covid-19. Akhirnya banyak rumah sakit mengumumkan mereka hanya memiliki beberapa jam stok oksigen medis yang dibutuhkan agar para pasien Covid-19 tetap terselamatkan. Akhirnya banyak kasus kematian yang disebabkan oleh perebutan tempat tidur di rumah sakit dan kehabisan oksigen.

Baca juga: Ingin Mudik? Wajib Tes PCR, Antigen, atau GeNose


Krematorium Angkat Tangan

Tak hanya rumah sakit yang kewalahan, krematorium pun mendadak kesulitan menampung korban meninggal dalam hitungan hari.

Dikutip dari CNA, pekerja krematorium dan pemakaman di beberapa kota besar sudah melaporkan bahwa angka kremasi dan pemakaman dengan protokol Covid-19 jauh lebih besar daripada angka kematian yang ada di data pemerintah India.

Profesor dari Ashoka University, Gautam I Menon, pun mengungkapkan pada CNA, tekanan yang begitu tinggi pada sistem kesehatan India ini pun dengan mudahnya meluluhlantakkan sistem kesehatan negara tersebut dalam hitungan hari.

Sejauh ini India nyaris mencatatkan 16 juta kasus Covid-19 dengan korban meninggal melampaui 184 ribu jiwa. India menempati posisi kedua sebagai negara dengan kasus virus corona terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat.

Share: Parahnya Gelombang Kedua Covid-19 Menggilas Sistem Kesehatan India