Isu Terkini

Satpol PP vs Pedagang Warteg di Bulan Puasa: Ironi Aturan di Kota Serang

OlehRamadhan

featured image
Aksi Satpol PP Kota Serang merazia warteg, Selasa (20/4/21). Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Publik dibikin kesal dengan aksi Satpol PP Kota Serang yang merazia dan mengambil sebuah rice cooker dari sebuah warteg, pada Kamis (15/4/21) lalu. Aksi itu dianggap berlebihan, intoleran, dan diskriminatif, di tengah bulan puasa saat ini.

Saat merazia, Satpol PP Kota Serang juga memberikan imbauan agar pemilik rumah makan melakukan aktivitas jual beli sesuai imbauan yang telah diberikan oleh wali kota di bulan Ramadan.

Imbauan itu tertuang di surat edaran Nomor 451 13/335-Kesra/2021 yang dikeluarkan Pemkot, MUI dan Kemenag Kota Serang. Adapun salah satu poin dalam imbauan bersama itu adalah larangan bagi restoran, rumah makan, warung nasi dan kafe sejenisnya buka selama pukul 04.30 WIB hingga 16.00 WIB.

Seperti apa sebenarnya aturan itu diterapkan dan bagaimana pula imbasnya ke pedagang-pedagang warteg di Kota Serang?

Kasi Pengendalian dan Operasi Satpol PP Kota Serang, Awaludin memberikan penjelasan secara rinci mengenai imbauan bersama itu. Ia mengatakan, larangan itu sudah disepakati Pemkot Serang bersama MUI dan Kemenag. Jadi, sebelumnya, ia menyebut pihaknya sudah melakukan sosialisasi.

“Untuk diketahui oleh pemilik warung ataupun kafe yang buka makanan di siang hari. Karena sudah aturan baku di sini, ada tertuang. Bukanya jam 16.00. Di poin D. Jadi dilarang berjualan mulai pukul 04.30-16.00,” kata Awaludin saat ditemui langsung oleh Asumsi.co di Stadion Maulana Yusuf, Kota Serang, Selasa (20/4).

Awaludin pun menjelaskan soal aksi Satpol PP saat menyita rice cooker milik pedagang warteg hingga viral di media sosial. Menurutnya, setelah memberikan himbauan, pihaknya melakukan sweeping dan ada yang tertangkap tangan di mana pengunjung sedang makan di tempat.

“Seumpama tidak makan, kita hanya himbau saja. Untuk melaksanakan tupoksi kami sebagai penegak Perda. Satpol PP Kota Serang, membawa salah satu perangkat (rice cooker) untuk dimintai keterangan.”

“Dan sore harinya, kita kembalikan. Tidak ada namanya disita. Itu hanya memberikan efek jera untuk didata aja. Orang mana, pedagangnya kan taunya pendatang ataupun orang pribumi. Kami perlu klarifikasinya, kenapa jualan.”

Soal Ancaman Hukuman Rp 50 Juta dan Penjara Tiga Bulan, Awaludin juga mengklarifikasi soal heboh ancaman hukuman denda senilai Rp 50 juta kepada para pedagang yang masih nekat buka warung selama bulan puasa. Termasuk ancaman hukuman kurungan penjara selama tiga bulan, menurutnya, adalah hal yang tidak ada di dalam imbauan.

“Kalau dalam aturan Perda, betul [soal denda 50 juta dan penjara tiga bulan]. Jadi perdanya itu sudah ada, tapi bukan yang himbauan ini ya. Tidak ada poin soal ancaman hukuman itu dalam himbauan ini. Himbauan ini belum di-Perda-kan,” kata Awaludin mengklarifikasi.

“Jadi, kalau di dalam perdanya itu, denda Rp 50 juta, ada yang Rp 20 juta, itu ada. Itu hanya yang berlaku, saya kasih contoh, untuk kasus miras. Terus mungkin kasus PKL, yang PKL di atas trotoar. Itu denda salah satunya Rp 50 juta. Tapi untuk himbauan, sampai saat ini, Perda Kota Serang, belum ada untuk denda Rp 50 juta dan kurungan tiga bulan.”

Menurut Awaludin, hal itu hanya sebatas imbauan. Sehingga pihaknya selaku penegak perda tetap harus memberikan ketegasan, yaitu siapa saja warga yang kedapatan makan di siang hari selama bulan puasa, maka akan dibawa untuk dimintai keterangan, untuk dievaluasi, bagaimana baiknya aturan tahun depan.

“Karena tiap tahun pun kita selalu sweeping rumah makan yang ada di kota Serang. Jadi ralat sekali lagi, untuk imbauan ini, hanya teguran moril. Nanti ke depannya kita ingatkan rumah-rumah makan, jangan buka, seperti itu.”

Bagaimana dengan Restoran Besar sepeti KFC, McD dan Hotel?

Aksi Satpol PP Kota Serang itu berimbas pada kritik publik yang menyebut ada tindakan diskriminatif lantaran razia hanya dilakukan kepada pedagang-pedagang kecil saja. Sementara pengusaha restoran justru tak ditindak.

Awaludin pun menepis tudingan bahwa mereka tebang pilih dan hanya keras kepada pedagang kecil saja. Menurutnya, perlakuan mereka sama saja ke semua pedagang atau rumah makan yang buka selama bulan puasa, bahkan termasuk mal besar di Kota Serang.

“Kami pun sampai hari ini, mungkin yang kedua hari, biasanya kalau namanya mall, biasanya tidak langsung buka. Mungkin bukanya sekitar jam 11 atau jam 10. Makanya kami ada rencana untuk sweeping,” kata Awaludin.

“Jadi kita tidak tebang pilih. Tidak hanya rumah makan yang kelas menengah ke bawah. Menengah ke atas pun kita razia. Cuma, kalau untuk kayak McD dan sebagainya, itu saya rasa itu sudah mengikuti perda yang berlaku atau himbauan yang berlaku. Untuk jam bukanya, mereka mengikuti, kalau perusahaan. Saya rasa gitu. Yang membandel banyaknya yang menengah ke bawah.”

Awaludin pun menegaskan, kalau sampai kedapatan ada restoran yang buka di mal atau di manapun, pihaknya dengan tegas akan langsung menindak. Sehingga, ia menyebut, pihaknya tidak hanya menekan warteg.

Imbauan Bersama Itu Kearifan Lokal Kota Serang Sejak Lama

Sementara itu, Sekretaris MUI Kota Serang, Amas Tajudin, meluruskan perihal imbauan bersama yang menjadi sorotan dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, imbauan tersebut tidak serta-merta diterbitkan mendadak. Imbauan itu, dikatakannya, mengadopsi kearifan lokal masyarakat Kota Serang yang telah berlangsung sejak lama.

“Yang sudah sejak lama Serang berdiri, jauh sebelum kota Serang, Provinsi Banten, ada tradisi masyarakat muslim kota Serang. Apabila di siang hari pada bulan Ramadan, orang ada yang berjualan, itu dianggap dusun,” kata Amas kepada Asumsi.co saat ditemui di Dinkes Kota Serang, Selasa (20/4).

Menurut Amas, perilaku itu akan dianggap tak beradab dan tak punya etika. Oleh karena itu, kata Amas, imbauan ini sudah berlangsung di masyarakat Kota Serang, khususnya, di Provinsi Banten, bahwa di bulan Ramadan, siang hari tidak boleh ada orang yang berjualan, terutama di dekat rumah ibadah.

“Nah, ini semua dilakukan sudah sejak bertahun-tahun lalu. Dan redaksinya pun tidak terlalu banyak berubah. Jadi imbauan ini dibuat bersama-sama berbagai unsur, ada MUI Kota Serang unsur pemerintah, TNI-POLRI, unsur tokoh masyarakat, pimpinan ormas, para ulama, juga perwakilan seluruh pedagang.”

Menurut Amas, imbauan ini harus lebih dulu dilihat, dibaca, dan dicermati. Imbauan itu diklaimnya tidak seketat dengan peraturan sehingga masih ada kelonggaran-kelonggaran tertentu.

“Pemerintah Kota masih memberikan toleransi bagi rumah makan yang buka di siang hari. Tapi kepentingannya untuk dibawa pulang. Untuk order, take away, dibawa pulang ke rumah.”

“Tapi bagi warung yang buka, menggelar makanan dan minuman seperti hari biasa, itu yang kemarin oleh Satpol PP, sebagai penegak perda, itu dilakukan penertiban.”

Amas mengatakan, tidak ada yang disebut dengan orang yang berpuasa harus menghormati yang tidak berpuasa. Sebaliknya, lanjut Amas, tak ada pula konsep bahwa orang yang tidak berpuasa harus menghormati orang yang berpuasa.

“Bagi kita, secara kebangsaan, semua orang yang hidup di negeri ini harus saling menghormati. Siapapun itu. Dari kalangan manapun, suasana tertib umum. Tertib sosial, tertib hukum, melalui saling menghormati, itu bagian dari kehidupan kita sehari-hari.”

“Jadi, kalau misalnya ada pernyataan, siapa yang ingin dihormati? Tidak ada yang ingin dihormati. Orang yang berpuasa, apakah tujuannya untuk dihormati? Tidak. Lalu, orang yang tidak berpuasa, harus dihormati? Saya kira, saling, dua-duanya. Yang tidak berpuasa, yang berpuasa, sama-sama harus menghormati.”

Amas pun menyebut tak semua warung dilarang buka selama bulan puasa. Ada tempat-tempat tertentu yang dikecualikan. Ia menyebut tempat-tempat di mana titik pertemuan musafir, seperti terminal, rest area, pelabuhan. Menurutnya, di tempat itu warung makan boleh dibuka untuk kepentingan para musafir.

“Jadi, kami menolak dan menyatakan tidak sependapat dengan orang yang mengatakan bahwa ini berpotensi melanggar HAM. Ini tidak benar. Ada juga yang mengatakan, ini pelanggarannya terjadi karena menutup akses memperoleh rejeki.”

“Siapa yang bilang, apakah Tuhan memberi rejeki pada siang hari? Tuhan memberikan rejeki sepanjang hari, sepanjang malam, 24 jam. Tidak ada Tuhan memberikan rejeki, khusus pada siang hari atau pagi hari. Mencari rejeki, silakan, di manapun, kapanpun, jam berapapun, yang penting jangan melanggar hukum.”

Jeritan Hati pada Pedagang Warteg yang Dirazia

Ibu Saripah (Ipah), pedagang warteg yang viral lantaran ricecooker-nya disita petugas, mengaku terkejut dengan aksi Satpol PP yang merazia warung makannya. Ia tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa pasrah saat petugas mengambil rice cooker miliknya di Warteg Mulia Jaya.

“Kita kan sebagai pedagang, ya, kaget banget. Getar. Kalau mau, arep nangis. Satu mobil, berapa orang banyak. Ada 10. Bisa masuk warung semua. Jadi saya getar,” kata Ipah saat diwawancarai Asumsi.co di warteg miliknya di Kota serang, Selasa (20/4).

“Itu marah-marah. Nggak bisa jualan. Nggak boleh. Langsung Satpol PP-nya. Itu, dibawa aja nasinya katanya. Saya mau nangis, tak kirain lauk-lauknya diambil. Jadinya, kan, saya kaget banget. Jangan, Pak. Pak, namanya manusia kan masing-masing, Pak. Ini kan tertutup dagangnya.”

“Kita mau usaha apa, Pak? Rice cooker doang dibawa. Tapi, masih ada nasinya setengah lebih. Namanya masih pagi. Pas diambil lagi, rice cooker-nya udah kosong, nggak ada isinya lagi. Paling dimakan.”

Ipah pun mengakui kesulitan saat rice cooker-nya diambil petugas Satpol PP. Ia pun tetap lanjut berjualan dengan menggunakan peralatan seadanya, seperti bakul, untuk menampung nasi.

“Jadi saya pakai bakul aja. Mana bakulnya masih pada bolong-bolong, dipake aja.”

“Ya, agak marah sih. Pas rice cooker dibawa, langsung rame. Nggak ada nasinya. Banyak yang nanya-nanya. Mau beli, eh tapi nggak ada nasi. Terus nggak jadi beli. Mau masak lagi, tapi pasti lama. Pada bubar. Rejekinya bubar. Dikasih rejeki banyak, eh malah nggak ada nasinya.”

Ipah mengaku sebelumnya belum tau dengan keberadaan imbauan tersebut. Tapi, ia sempat memperkirakan, aturan akan terbit setelah seminggu puasa. Namun, imbauan ini ternyata terbit lebih cepat.

“Saya kan kirain nyampe seminggu sekali, biasanya. Itu baru tiga hari, kok udah datang. Saya kan kaget. Namanya digrebek, satu mobil, masuk semua. Kalau lain-lainnya kan warung kecil, paling dua tiga petugas ya yang masuk.”

“Kalau saya nggak dagang, kan sayanya pusing. Gimana kalau sore sepi. Nyari 100 ribu aja susah. Di sini mah sepi lokasinya. Ini semenjak tahun 2014. Warung kan pindah-pindah. Pindah-pindah, udah empat kali pindah.”

“Sebelumnya juga sudah pernah dirazia. Itunya, tabung sama kompornya dibawa. Ya, harapannya, ini bulan puasa kan agak lumayan. Nggak hari-hari biasa, lebih jauh. Jadi kan saya usaha, lah.”

Senada dengan Ipah, pedagang warteg lainnya, Abdul [nama samaran] karena tak ingin disebutkan namanya, mengaku perda tersebut bisa menghalanginya mencari rezeki. Ia pun mengingatkan bahwa petugas mestinya tak hanya keras kepada pedagang kecil, tapi juga harus menerapkan perlakuan yang sama terhadap pengusaha besar.

“Ya, kalau dari saya, pengusaha warteg, posisi saya jualan, dibungkus, tapi ada pencekalan. Dari pribadi saya, ada kecemburuan sosial. Kenapa? Ya, kayak McD, Indomaret, jualan makanan semua. Makan-makanannya juga terpajang dari luar," kata Abdul kepada Asumsi.co di Kota Serang, Selasa (20/4).

“Karena, kalau secara logika, sama aja. Indomaret juga, jualan makanan juga. McD juga jualan makanan. Kenapa tidak disuruh tutup? Sama persis, jualan makanan, tapi tidak makan di tempat. Warteg juga sama. Kita melayani orang, bungkus aja, makan di luar.”

“Kalaupun layani orang, bungkus, tapi masih dicekal, pasti ada kecemburuan.”

Menurutnya, terdapat perbedaan antara berjualan nasi di hari-hari biasa dengan saat puasa. Kalau jualan siang, Abdul menyebut, omsetnya lebih bagus. Karena banyak warung yang tutup, sehingga omsetnya bisa mencapai dua kali lipat dari hari biasa.

“Apalagi kan kita punya karyawan empat, posisi ngontrak, harus dibayar. Terus, untuk menghadapi lebaran, kan butuh biaya gede untuk ngasih THR anak buah, buat anak-anak saya. Apalagi anak saya empat. Jadi, untuk puasa ini, harus jualan. Kalau nggak jualan, saya dapet uang dari mana?”

Abdul pun menjelaskan bahwa setiap hari ia mesti mengeluarkan banyak uang untuk membeli bahan-bahan makanan, seperti sayuran dan beras, termasuk juga operasional lainnya. Untuk bulanan sewa lapak tanah saja, ia harus merogoh kocek senilai Rp 1,5 juta per bulan atau Rp 15 juta per tahun.

“Kalau perbedaan omzetnya sih dua kali lipat dari hari-hari biasa. Kalau hari biasa, ya, standar aja. Pas puasa, Rp 3 juta. Kalau hari biasa, Rp 1,5 juta. Kalau hari biasa, paling Rp 1 juta untuk belanja sayur. Kalau puasa, Rp 2 juta.”

Menurut Abdul, setiap hari pun ia tak lepas dari ancaman mengalami kerugian kalau saja makanan yang ia jajakan tak habis terjual. Misalnya, untuk sayur, lantaran tak bisa lagi dihangatkan, maka kalau tak habis terjual, otomatis langsung dibuang.

“Kalau yang lain, mungkin bisa dihangatkan lagi, kalau tadinya digoreng, bisa besoknya lagi dibalado. Ya kalau ngikutin dari tahun ke tahun, ngikutin Perda, kan saya jualan warteg udah 10 tahun. Kalau kita ngikutin Perda, disuruh buka jam 4, terus tutup imsak, yang udah-udah, kita jualannya rugi.”

“Yang udah-udah, kita belanja bahan sayuran, itu habis Rp 1,5 juta, pendapatan cuma Rp 800 ribu. Tapi kalau kita dibantu dengan jualan siang, omzet kita meningkat dari hari-hari biasa. Kalau ngikutin Perda, yang udah-udah, rugi terus.”

“Sama sekali nggak ketutup. Kan itu per harinya udah rugi. Nggak bakal ketutup anak buah, kontrakan nggak ketutup. Biaya listrik juga nggak bakalan ketutup. Jadi kalau misalkan kita nggak ngikutin Perda, terus kita buka siang. Istilahnya colongan sama aparat Satpol PP, alhamdulillah ada pemasukan buat saya. Kalau untuk istilahnya ditutup secara total, ngikutin Perda, terus terang, dari pribadi, namanya menutup rejeki saya.”

Abdul pun berharap imbauan tersebut bisa mengikuti Kementerian Agama. Sebelumnya, Kemenag mengkritik imbauan Pemkot Kota Serang karena dianggap terlalu berlebihan, bahkan bisa menutup rezeki orang lain.

“Kan ngikutin dari Kemenag, jangan sampe menutup rejeki orang lain. Sedangkan aturan ini, kalau kita baca, secara mendalam, itu menurut saya, menutup rejeki orang lain. Harapan saya, ya, saya mau jualan, bulan puasa, (warungnya) tertutup rapi, terus bisa menghormati orang yang puasa.”

Share: Satpol PP vs Pedagang Warteg di Bulan Puasa: Ironi Aturan di Kota Serang