Pada 2008 atau 10 tahun lalu, Pandji Pragiwaksono, stand up comedian Indonesia, pernah menulis di blog pribadinya tentang kebiasaan orang berucap dengan kata ‘autis’ tanpa berpikir efeknya jauh ke depan. Dalam tulisannya itu, Pandji menyebut orang-orang yang bercanda seperti itu sangat tidak sensitif, karena tanpa sadar, mungkin mereka punya teman yang anaknya autis, sehingga bisa membuat sakit hati.
Kalian pasti sering mendengar seseorang berkelakar dengan temannya dengan kalimat “Heh dasar autis lo! Enggak jelas”, atau “Ya elah autis lo gara-gara game di Android doang”, dan sebagainya. Sadarkah kalian bahwa penggunaan istilah ini enggak ada lucu-lucunya sama sekali? Tanpa disadari, ada orang-orang atau teman-teman kalian yang di sekitar kalian yang tersakiti oleh ejekan-ejekan tersebut.
Istilah autis, cacat, dan idiot kerap dipakai sebagai guyonan di kalangan orang-orang sampai hari ini. Meski kadang dipakai dalam kondisi ketidaktahuan seseorang, namun pengunaan istilah tersebut sebagai bahan becandaan, malah bisa membuat hati orang lain tersakiti.
Menurut Pandji, banyak sekali orang-orang di sekitar yang punya adik, anak atau bagian dari keluarga yang autis. Sehingga, lanjut Pandji, meski banyak yang bermaksud hanya bercanda ketika mengatakan temannya autis, namun semua itu jadi tidak relevan dengan apa yang dirasakan mereka (teman-teman autis) yang mendengarkan secara langsung ucapan tersebut. Pernah kan kalian terpikirkan sedikit soal itu?
Jelas, teman-teman kita yang autis tentu tau orang-orang tersebut tujuannya bercanda dan hanya untuk bersenang-senang. Namun, bagi Pandji, teman-teman atau keluarga kita yang autis juga pasti berharap di dalam hati supaya orang-orang itu tidak becanda seperti itu. It will still hurt people’s feelings!
Lalu, seperti apa edukasi yang bisa kita lakukan agar kata-kata autis, idiot, cacat, dan sejenisnya tidak lagi digunakan sebagai bahan becandaan di kehidupan sehari-hari? Sondang K. Susanne Siregar, Ketua Yayasan Terang Anak Indonesia menjabarkan secara komprehensif soal bagaimana lingkungan sekitar kita sebenarnya bisa mencegah guyonan seperti itu menyebar dan terus berlangsung. Semuanya tentu dimulai dari keluarga sendiri.
“Berikan pemahaman yang benar tentang pengertian autis, bahwa kata autis itu menunjukkan orang yang mengalami gangguan perkembangan otak yang mengakibatkan kemampuannya dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain mengalami hambatan sehingga perilaku anak dengan autis terlihat berbeda dengan anak lainnya,” kata Susan kepada Asumsi.co, Selasa, 9 Oktober 2018 lalu.
Lalu, Susan mengatakan bahwa penting sekali untuk menumbuhkan rasa empati anak pada anak autis. Ia berpesan agar anak-anak bisa melihat kondisi anak autis di suatu tempat terapi anak autis, supaya rasa empati anak tumbuh. Bila memungkinkan anak berinteraksi dengan anak-anak tersebut. Lalu, berikan informasi tentang kesulitan-kesulitan yang dialami orang dengan autis/cacat beserta keluarganya, bahwa orang dengan autis dan cacat juga manusia yang ingin diterima, dihargai dan dicintai, sama seperti anak lainnya.
“Ajak anak bermain peran. Bisa dimulai dengan orangtua sebagai seseorang dengan autis/cacat dan anak sebagai keluarga. Tampilkan perilaku orang dengan autis, dan perhatikan bagaimana anak menyikapinya. Setelah beberapa waktu, coba tanya bagaimana perasaan anak dan mulailah berdiskusi tentang pengalaman bermain peran tersebut. Bahwa orang dengan autis/cacat adalah ciptaan Tuhan yang juga punya hati dan pikiran.”
Walaupun terkadang mereka tidak mampu untuk mengutarakan isi hati dan pikirannya seperti layaknya orang yang normal, maka dari itu anak autis/cacat disebut juga dengan orang yang “berkebutuhan khusus”, karena orang tersebut mengalami keterbatasan baik fisik, mental-intelektual, sosial maupun emosional yang mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangannya dibandingkan dengan orang lainnya.
“Disebut berkebutuhan khusus, karena kebutuhannya berbeda akibat keterbatasan yang dimilikinya. Namun, dengan penggunaan kata autis/cacat untuk mengejek orang lain, maka itu sudah mengecilkan dan menghina arti dari kondisi yang sebenarnya. Sampaikan pemahaman tentang autis dan cacat kepada anak dengan bahasa yang dimengerti anak. Tanya dan gali pemahaman anak apakah pantas kita menggunakan kata-kata itu pada orang yang memiliki perilaku ‘seperti autis’ yang muncul akibat perilakunya yang asik sendiri tanpa peduli sekitarnya.”
Intinya, lanjut Susan, kata autis/cacat bukan sebagai bahan untuk lelucon/ejekan yang digunakan bagi orang normal yang menunjukkan perilaku asik sendiri, tidak peduli sekitarnya, dst. Ingat, anak mengalami proses perkembangan moral dan hati nurani, dimana anak mulai mempelajari mana yang benar/baik dan yang salah/tidak baik. Sebaiknya kita mengisi proses perkembangan tersebut dengan memberikan pemahaman yang benar tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan moral dan hati nurani.
Maka dari itu, penting untuk memahami pengertian istilah itu secara utuh, menyeluruh, dan tidak setengah-setengah agar setiap orang pun bisa mengerti kondisi orang-orang sekitar yang autis. Bahkan, jika sudah memahami istilah itu sepenuhnya, maka orang-orang normal pun akan otomatis sadar, meski sekalipun tak ada teman-teman autis di lingkungan sekitar, untuk tidak melontarkan guyonan seperti itu lagi.
Keluarga menjadi jembatan utama untuk memulai interaksi yang lebih baik dan beradab kepada dunia luar. Dari keluarga lah seharusnya edukasi-edukasi terkait pentingnya menghargai semua manusia dengan berbagai kekurangannya, mulai dibangun. Dari situlah, lingkungan pergaulan yang sehat juga akan ikut terbangun karena hal-hal baik yang diajarkan di lingkup keluarga akan tertular ke sekitar.
“Di kalangan orang dewasa juga perlu penyadaran tentang hal tersebut di atas. Bahwa istilah autis/cacat tidak pantas dijadikan istilah bagi orang-orang yang tidak mengalaminya. Jika hal tersebut dilakukan, maka kita sudah bersikap diskriminasi pada kelompok orang dengan autis/cacat. Hal ini tentu saja dilindungi oleh perundang-undangan sebagai bagian dari hak asasi manusia dan hak anak atas perlindungan dari semua pihak di dalam sistem ekosistem kehidupan manusia. Mereka juga mempunyai hak yang sama dengan orang normal lainnya.”
Menurut Susan, sebelum memberikan edukasi kepada anak-anak, sebaiknya orangtua memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang orang dengan autis/cacat agat tidak salah memberikan informasi kepada anak. Setelah hal itu dilakukan, coba tanyakan kembali apa pendapat anak tentang orang dengan autis/cacat. Jika masih salah, sebaiknya terus berikan informasi hingga pemahaman anak benar.
“Coba tanyakan bagaimana pandangan anak-anak lainnya (temannya) tentang orang dengan autis/cacat. Apakah mereka menggunakan istilah autis/cacat dalam pergaulannya? Gali, dan beri pemahaman yang sebenarnya. Tanyakan, apa yang akan diperbuat anak, jika ada anak yang menyebut kata autis/cacat pada perilaku anak yang normal, semisal anak yang asik dengan gadget disebut dengan ‘autis’.”
Kemudian, beri penekanan bahwa kata autis/cacat tidak boleh disalahgunakan dan tidak boleh dijadikan untuk lelucon/candaan. Terakhir, orangtua harus bisa menjadi teladan bagi anaknya. Hati-hati, jangan sampai kita yang justru menggunakan kata ‘autis’ saat anak-anak kita asik dengan gadgetnya. Akhir kata, lindungi anak-anak kita dari informasi yang tidak benar tentang autis/cacat dan tumbuhkan rasa peduli anak terhadap orang dengan autis/cacat.
Selain dari edukasi dari keluarga, kegiatan penyadaran tentang bagaimana kehidupan orang dengan autis/cacat yang sebenarnya dapat dilakukan melalui seminar/penyuluhan/diskusi di kelompok orangtua maupun kegiatan keagamaan. Bahwa penggunaan kata autis/cacat tidak tepat dijadikan/digunakan sebagai kata untuk menggambarkan perilaku yang dipandang ‘negatif’ dari seseorang. Jika kita menggunakan kata autis/cacat seperti di atas, maka kita sudah mendiskreditkan orang dengan autis/cacat yang berprestasi.
“Banyak orang dengan autis/cacat yang bisa hidup mandiri dan berprestasi. Seperti, event Asian Para Games 2018 yang baru saja selesai di Indonesia, menunjukkan bahwa orang-orang yang cacat pun dapat berprestasi, bahkan menjadi kebanggaan negara. Jadi, jangan peruntukkan kata autis/cacat untuk menggambarkan orang-orang yang beperilaku tidak baik.”
Selain itu, ada juga aksi-aksi atau tindakan nyata lainnya yang bisa dilakukan misalnya saja masyarakat harus berani melakukan gerakan, seperti “No say autism, No say disabled”. Gerakan ini menunjukkan kepedulian masyarakat pada kehidupan orang dengan autis/cacat. Penekanannya adalah autis/cacat bukan sesuatu hal yang negatif, melainkan suatu kondisi fisik dan psikis yang memiliki keterbatasan. Jadi stop untuk menggunakan kata autis/cacat untuk menunjukkan suatu perilaku yang cenderung negatif. Jika ini dilakukan terus-menerus, maka permaknaan negatif atas kata autis/cacat dapat diminimalisasi, bahkan hilang.