Sains

Heli Robotik NASA Berhasil Terbang di Mars, Ini Misinya!

OlehRay

featured
Foto: NASA

Ini bukan cerita tentang penjelajahan antariksa sepasang robot, WALL-E dan EVE, yang dikirimkan pesawat raksasa Axiom. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) baru saja mengumumkan keberhasilan penerbangan helikopter robotik mini yang dinamakan Ingenuity untuk kali pertama di permukaan planet Mars, Senin (19/4/21) lalu. 

Uji Coba Terbang 40 Detik

Keberhasilan penerbangan pertama Ingenuity ini diunggah NASA lewat akun Twitter mereka, disertai foto penerbangannya yang diambil oleh wahana NASA di Planet Merah.

"Ini benar-benar terjadi. Hari ini #MarsHelicopter membuktikan bahwa penerbangan bertenaga, terkontrol dari permukaan planet lain merupakan sesuatu yang mungkin terjadi. Dibutuhkan sedikit kecerdikan, ketekunan, dan semangat untuk mewujudkan kesempatan itu," tulis @NASA. 

Dilansir dari BBC, helikopter yang menyerupai drone ini hanya melakukan uji coba terbang selama 40 detik di sekitar planet. Para staf NASA dan teknisi, yang ada di ruang pengendali misi, merayakan keberhasilan ini dengan tepuk tangan penuh sukacita. 

"Kita sekarang bisa mengatakan manusia sudah bisa menerbangkan pesawat di planet lain," kata Manajer Proyek Ingenuity, MiMi Aung, dikutip dari sumber yang sama.

Laporan AFP yang dikutip Kompas.com menyampaikan, helikopter berbobot 1,8 kilogram ini lepas landas dan melayang 3 meter di atas permukaan Mars.

Data serta gambar dari penerbangan otonom ini kemudian ditransmisikan 173 juta mil, setara dengan 278 juta kilometer ke Bumi. Potret tersebut diterima oleh antena darat NASA lalu diproses lebih dari tiga jam kemudian. 

NASA awalnya merencanakan penerbangan dilakukan pada 11 April. Namun ditunda karena perangkat lunak, yang diidentifikasi selama uji kecepatan tinggi, bermasalah.

Apa yang Dilakukan Ingenuity di Mars?

Ingenuity melakukan perjalanan ke Mars dengan melekat pada bagian bawah Perseverance, pesawat penjelajah sekaligus laboratorium astrobiologi milik NASA yang mendarat di planet itu pada 18 Februari lalu. Perseverance memiliki misi untuk mencari tanda-tanda kehidupan di luar bumi.

Ingenuity memiliki misi penting untuk mendemonstrasikan kerja teknologi pesawat penjelajah, yang juga disebut dengan nama Percy ini, selama berada di Mars.

"Kami tidak tahu persis ke mana Ingenuity akan membawa kami, tetapi hasil hari ini menunjukkan langit, setidaknya di Mars, mungkin bukan batasnya," kata pelaksana tugas Administrator NASA Steve Jurczyk dikutip dari Kompas.com.

Meski demikian, para ahli NASA menyebut misi penerbangan ini menghadapi tantangan besar karena kondisi lingkungan yang sangat berbeda dari Bumi. 

Jurczyk menyebut, kondisi atmosfer yang ada di Mars memiliki kepadatan kurang dari satu persen dengan tarikan gravitasi hanya sepertiga. 

"Kondisi tersebut mengharuskan Ingenuity mencapai sekitar 2.500 putaran per menit, kira-kira lima kali lebih besar dari yang dicapai helikopter di Bumi," ucapnya.

Tim NASA akan terus menerima dan menganalisis data yang diterima dalam beberapa hari ke depan. Selanjutnya, mereka akan merumuskan rencana penerbangan kedua, paling cepat pada 22 April. 

Upaya Eksplorasi Mars

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin mengatakan, Ingenuity dan Perseverance dikirimkan oleh NASA untuk saling melengkapi dalam menjalankan misinya.

Percy, kata dia, didaratkan di Mars pada bekas danau yang diduga terdapat banyak endapan yang menunjukkan dulunya terdapat air.

"Lokasi pendaratan Perseverance ini merupakan salah satu wilayah endapan sungai purba di Mars. Kemungkinan ada unsur-unsur organik atau sisa-sisa kehidupan walaupun dalam bentuk mikroorganisme," kata Thomas kepada Asumsi.co melalui sambungan telepon, Rabu (21/4/21).

Agar bisa melakukan survei di lokasi yang tepat, maka perlu adanya helikopter robotik yang mengambil gambar di daerah sekitar lokasi pendaratan Percy.

"Maka, perlu disertakan helikopter Ingenuity ini untuk memotret daerah sekitarnya, sehingga Perseverance bisa terpantau pergerakannya ke arah mana saja," ujarnya.

Ia pun mengaku tak heran kalau keberhasilan menerbangkan Ingenuity disambut antusiasme luar biasa oleh tim NASA. Pasalnya, misi kali ini juga dilakukan dalam rangka proyek uji coba wahana terbang yang selama ini belum pernah dilakukan.

Menurutnya, menerbangkan wahana di Mars menantang karena perbedaan atmosfer yang ada di Bumi dengan planet tersebut. 

"Pada misi-misi sebelumnya, hanya robotik yang menjelajah kemudian ambil sampel lalu diteliti. Wahana terbang ini belum ada. Ini kan, berbeda dengan menerbangkan wahana di Bumi yang atmosfernya panjang, sementara di Mars atmosfernya lebih renggang," katanya.

Bila uji coba wahana terbang yang dilakukan Ingenuity berjalan dengan baik, ia menduga hal ini akan menjadi batu loncatan bagi NASA untuk mengeksplorasi Mars lebih jauh. 

"Kemungkinan di masa depan, bisa digunakan untuk survei lebih jauh di Mars. Jadi, misi ini untuk mencari bukti-bukti kehidupan karena di sana sangat menarik, relatif dekat dengan Bumi dan diduga dulunya ada air," katanya.

Makhluk Apa yang Kemungkinan Hidup di Mars?

Thomas menjelaskan, danau bekas endapan yang menjadi tempat pendaratan Percy cukup luas. Di kawasan tersebut, NASA terus mencari lokasi yang diduga paling banyak terdapat unsur kehidupan.

Lantas makhluk apa yang kemungkinan ada di Mars? Bila yang dibayangkan adalah alien cebol serupa Master Yoda atau E.T, siap-siap kecewa. Kepala LAPAN meyakini, makhluk bersel banyak itu kecil kemungkinannya untuk menjadi penghuni Mars.

"Soalnya, air yang mengalir sebagai unsur kehidupan tidak ada di Mars. Kemungkinan yang ditemukan di sana, hanya endapan yang masih ada sisa-sisa air di tanahnya," ucapnya.

Meski ada petunjuk di beberapa lokasi tempat Percy dan Ingenuity berada, terdapat kawasan mirip mata air yang airnya masih keluar, namun atmosfer yang ada di sana menyulitkan makhluk selain yang bersel satu mampu bertahan hidup.

Thomas mengungkapkan, atmosfer yang ada di Mars sangat tipis dan tidak memungkinkan air bertahan lama di permukaannya. 

"Air yang keluar dari mata air di tebing di Mars langsung hilang. Jadi diduga, masih ada airnya hanya di lapisan endapan tanahnya. Kehidupan yang ada di sana, kemungkinan jenisnya adalah mikroba dan untuk ukuran yang lebih besar ada yang kira-kira menyerupai cacing," ujarnya.

Makhluk-makhluk inilah yang kini sedang diteliti NASA dengan mencari lebih banyak bukti tanda-tanda kehidupannya di Planet Merah. 

"Hampir tidak mungkin di Mars ada kehidupan seperti alien dan makhluk dengan kecerdasan tinggi lainnya," pungkasnya. 

Share: Heli Robotik NASA Berhasil Terbang di Mars, Ini Misinya!