Isu Terkini

Nadiem Tekankan Perguruan Tinggi Tak Mempersulit Peminat Pertukaran Mahasiswa Merdeka

OlehM. Ashari

featured image
Tangkapan layar Youtube Kemendikbud RI

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan program bertajuk Pertukaran Mahasiswa Merdeka, Senin (12/4). Program ini akan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk bertukar kampus selama satu semester. Syarat terpenting dari program ini adalah bahwa pertukaran mahasiswa itu harus terjadi antar pulau.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan, program ini akan mendorong mahasiswa untuk berpindah pulau selama satu semester. Mahasiswa diharapkannya bisa mengeksplorasi keragaman budaya daerah tujuan selama masa pertukaran itu,  sekaligus memperkenalkan budaya asalnya. Disamping itu, mahasiswa juga tetap diharapkan untuk mengikuti perkuliahan di perguruan tinggi penerima.

Nadiem mendorong agar pihak perguruan tinggi mendukung program ini. Perguruan tinggi diharapkannya tidak melarang mahasiswa yang ingin mengikutinya. "Kami mengharapkan (perguruan tinggi) dapat mendorong para siswa untuk mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka dan tidak melarang jika ada mahasiswa yang ingin berpartisipasi dalam program ini," tuturnya dalam konferensi pers secara daring.

Selain itu, Nadiem mengatakan, mahasiswa yang mengikuti program pertukaran ini akan mendapatkan bobot perkuliahan sebesar 20 Satuan Kredit Semester (SKS). Oleh sebab itu, perguruan tinggi diharapkannya jangan mempersulit mahasiswa dalam hal konversi dan pengakuan SKS. Perguruan tinggi ditekankannya untuk segera melakukan penyesuaian kurikulum supaya memudahkan konversi dan pengakuan SKS mahasiswa.

"Ini merupakan tugas dan kewajiban ibu-bapak sekalian. Kami berharap jangan sampai ada mahasiswa yang dipersulit dalam konversi dan pengakuan SKS-nya. Khusus untuk program Pertukaran Mahasiswa Merdeka, mahasiswa peserta akan mendapatkan 20 SKS. Kami yakin, dukungan penuh dari bapak-ibu di perguruan tinggi akan membawa kelancaran dan keberhasilan pada program ini," katanya.

Nadiem juga kemudian menekankan pihak perguruan tinggi supaya mendaftarkan kampusnya sebagai tujuan dari pertukaran mahasiswa. Begitu juga dosen didorongnya untuk mendaftarkan mata kuliah terbaiknya supaya dapat diikuti oleh peserta program. "Supaya dapat diikuti oleh puluhan ribu mahasiswa dari penjuru nusantara," katanya.

Apa saja poin penting dari program ini?

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Nizam mengatakan, ada lima poin penting dalam program ini. Pertama adalah bahwa pertukaran mahasiswa untuk belajar di kampus itu harus terjadi di pulau yang berbeda. Mahasiswa dikatakannya harus pindah pulau. "Jadi, mahasiswa dari Jawa, (belajar) satu semester di Nusa Tenggara. Mahasiswa dari Papua, satu semester di Sumatera dan mahasiswa Kalimantan, satu semester di Sulawesi," tuturnya.

Menurutnya, tujuan utama dari program ini adalah untuk mengenalkan mahasiswa terhadap keragaman Indonesia. "Kalau kita melihat Indonesia ini, kan, kaya sekali dari Sabang sampai Merauke. Dengan berbagai macam budaya, berbagai macam suku bangsa, berbagai macam bahasa, tarian, makanan, luar biasa sekali. Ini satu kekayaan yang sering kita kurang apresiasi karena tidak kita kenal. Tak Kenal Maka Tak Sayang. Pertukaran Mahasiswa Merdeka ini adalah salah satu bentuk upaya untuk membangun pemahaman kita, adik-adik mahasiswa sekalian untuk mengenal Indonesia lebih dalam," tuturnya.

Kemudian yang kedua, mahasiswa yang mengikuti program ini wajib konversi SKS sebanyak 20 SKS. Jumlah SKS itu berdasarkan lamanya masa pertukaran mahasiswa, yakni satu semester dan juga mengantisipasi supaya mahasiswa tidak lulus terlambat. "Selama satu semester nanti adik-adik akan mendapatkan 20 SKS dari mata kuliah yang diambil di kampus tujuannya nanti. Ini terbuka bagi perguruan tinggi negeri dan swasta," ujarnya.

Ketiga, program ini terbuka bagi mahasiswa perguruan tinggi negeri dan swasta. Nantinya, mahasiswa dari PTN bisa saja mengikuti program pertukaran mahasiswa di PTS. Begitu juga sebaliknya, mahasiswa yang berasal dari PTS bisa mengikuti program pertukaran di PTN. Keempat, program Pertukaran Mahasiswa Merdeka dapat diikuti oleh mahasiswa semester 3 sampai mahasiswa semester 8.

"Kalau mahasiswa semester 8 mungkin sudah tugas akhir. Silahkan nanti tugas akhir di kampus lain, di luar pulau, karena adik-adik, kebetulan, penelitiannya membutuhkan alat yang canggih dan hanya ada di kampus tujuan. Ini sangat bisa kita lakukan," ujarnya.

Kemudian yang kelima adalah kemauan untuk mengeksplorasi keragaman melalui modul Nusantara. Modul itu bisa berupa modul kegiatan ekstrakurikuler, modul kegiatan outbound dan sebagainya. Pada intinya, ada 4 macam kegiatan utama seputar eksplorasi keragaman yang tercantum dalam modul.

Kegiatan pertama dalam modul, menurut Nizam, berada di seputar keragaman budaya daerah tujuan pertukaran. "Jadi, misalnya, mahasiswa dari Sulawesi Utara merasakan satu semester di Yogyakarta. Nanti bisa belajar tentang wayang kulit, gamelan atau memasak makanan khas Yogyakarta," ujar dia.

Lalu kegiatan kedua, yakni kegiatan inspiratif. Kegiatan ini memerlukan keterlibatan dengan tokoh inspiratif di daerah tujuan, seperti seniman, budayawan, intelektual sampai kepala daerah di daerah tujuan. "Atau mungkin saja anak jalanan yang bisa membangun, misalnya, membuat grup musik yang berawal dari anak jalanan tadinya. Nah, inspirasi itu akan menggugah empati dan spirit kita," tutur Nizam.

Kegiatan ketiga, yakni refleksi. Kegiatan ini lebih kepada refleksi atas pengalaman yang telah diperoleh di daerah tujuan. "Jadi ini memberikan impact yang lasting, berdampak jauh ke dalam perancangan masa depan mahasiswa," ujarnya.

Adapun kegiatan terakhir adalah kontribusi sosial. Kegiatan ini bisa berupa mengajar atau pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di akhir pekan. "Misalnya, membantu membersihkan sungai atau mensosialisasikan tentang mengatasi pandemi," tuturnya.

Share: Nadiem Tekankan Perguruan Tinggi Tak Mempersulit Peminat Pertukaran Mahasiswa Merdeka