Isu Terkini

KPK Minta Maaf Sebut Singapura Surganya Koruptor

Rendi Widodo– Asumsi.co

featured image
Foto: Unsplash/Joshua Ang

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nawawi Pomolango meminta maaf setelah pemerintah Singapura menolak negaranya disebut surga koruptor.

Seperti dikutip dari Detik.com, Sabtu (10/4/2021) Nawawi mengakui tidak terlalu menyimak ucapan Deputi Penindakan KPK Karyoto yang sebelumnya mengatakan Singapura sebagai surganya koruptor pada Selasa (6/4/2021).

“Saya kebetulan tidak terlalu menyimak pernyataan yang disampaikan Deputi Penindakan yang telah memunculkan respons dari pemerintah Singapura. Tapi yang pasti, kalau ada pernyataan-pernyataan yang mengatasnamakan lembaga yang telah menimbulkan ketidaknyamanan, tentu kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan dari pernyataan-pernyataan tersebut," ucap Nawawi.

Dirinya juga menjelaskan kalau Indonesia Indonesia tetap memiliki hubungan baik dengan Singapura melalui KPK dan Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB).

"Yang jelas, sejauh ini Indonesia dan Singapura melalui KPK dan CPIB (Corrupt Practices Investigation Bureau) terus menjalin kerja sama dalam pelaksanaan tugas dan fungsi pemberantasan korupsi, baik dalam hal pencegahan, pendidikan, dan bidang penindakan," jelas Nawawi.

Semua dimulai dari pernyataan Deputi Penindakan KPK Karyoto, Selasa (6/4/2021) yang menjelaskan sulitnya menangkap koruptor yang lolos ke Singapura.

"Begini kalau yang namanya pencarian dan kemudian dia berada di luar negeri apalagi di Singapura, secara hubungan antarnegara memang di Singapura kalau orang yang sudah dapat 'permanent residence' dan lain-lain agak repot, sekalipun dia sudah ditetapkan tersangka," kata Karyoto seperti dikutip dari Tempo.

Alasan lainnya, Indonesia dan Singapura tidak mempunyai perjanjian ekstradisi. "Dan kita tahu bahwa satu-satunya negara yang tidak menandatangani ekstradisi yang berkaitan dengan korupsi adalah Singapura, itu surga-nya koruptor yang paling dekat adalah Singapura," ujarnya.

Singapura menjawab

Menanggapi pernyataan Karyoto, pemerintah Singapura pun angkat bicara melalui kementerian luar negerinya.

"Tuduhan tersebut tidak berdasar. Singapura telah memberikan bantuan kepada Indonesia dalam beberapa investigasi sebelumnya dan yang sedang berlangsung," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Singapura lewat keterangan tertulis.

Selanjutnya, kementerian juga menyatakan telah meneken Perjanjian Ekstradisi dan Perjanjian Kerja Sama Pertahanan dengan Indonesia pada April 2007 yang disaksikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Lee Hsien Loong. Namun, kedua perjanjian tersebut masih menunggu ratifikasi oleh DPR Republik Indonesia.

Benarkah surganya koruptor?

Setidaknya ada cukup banyak buronan kasus korupsi di Indonesia yang pernah, diduga pernah, atau diduga masih berada di Singapura. Mereka melihat celah segar tentang perjanjian ekstradisi yang belum juga diratifikasi sehingga Singapura menjadi salah satu destinasi favorit para koruptor.

Nama-nama seperti Nunun Nurbaeti yang menjadi tersangka kasus cek pelawat anggota DPR 1999-2004 untuk pemilihan Deputi Gubernur Senior BI tahun 2004, Miranda S Goeltom, pada 2011. Dirinya mengunjungi Singapura untuk keperluan pengobatan namun akhirnya ditangkap pada Desember 2011. Mantan bos Lippo Group Eddy Sindoro yang terlibat dalam kasus suap PN Jakarta Pusat pada 2016. Dirinya sempat buron dan singgah di beberapa Negara termasuk Singapura.

Ada pula Sjamsul Nursalim yang merugikan negara hingga Rp4,8 triliun lewat kasus korupsi BLBI terdeteksi ada di Singapura. Mantan Komisaris Bank Surya Bambang Sutrisno yang juga terlibat dalam kasus BLBI, diduga masih berkeliaran bebas di Singapura.

Share: KPK Minta Maaf Sebut Singapura Surganya Koruptor