Isu Terkini

Lia Eden dan Sekelumit Gerakan Salamullah

OlehIrfan Muhammad

featured image
Tangkapan layar Youtube/Channel Eden The Heaven

Pemimpin Sekte Tahta Suci Kerajaan Tuhan, Lia Aminudin atau dikenal dengan Lia Eden meninggal dunia pada Jumat (9/4/2021). Kabar Lia Eden meninggal baru diumumkan oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) melalui akun media sosial mereka pada Minggu (11/4/2021).

Dalam kenangan masyarakat Indonesia, Lia adalah sosok penuh kontroversi. Pengakuannya menerima wahyu dan menjadi Imam Mahdi --ratu adil dalam tradisi Islam-- bahkan Nabi, membuatnya kerap menjadi buah bibir.

Pengakuan kewahyuannya pertama kali dia syiarkan pada dekade 90-an. Lia saat itu menamakan gerakannya sebagai gerakan Salamullah.

Dengan konsep pemikiran yang bertentangan dengan ajaran agama arusutama, sepak terjang Lia tentu penuh penentangan. Pada 1997, misalnya, Majelis Ulama Indonesia mengganjar Lia Eden dengan fatwa sesat karena ia mendeklarasikan telah menerima wahyu.

Lantai penjara juga pernah dicicipi Lia. Pertama pada 29 Juni 2006. Hasil dari putusan tersebut menetapkan Lia Eden harus menjalani hukuman selama dua tahun penjara. Kali kedua ia hadapi dengan kasus yang serupa pada 2 Juni 2009. Kasus yang kedua ini menetapkan hukuman pidana kurungan selama dua tahun enam bulan.

Bedanya Lia dengan penganjur ajaran sempalan lainnya adalah bahwa ia tidak pernah kapok. Lia sempat menyurati presiden Barack Obama untuk memperingatkan bahwa kiamat akan terjadi pada tahun 2057. Dia juga pernah menyurati Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI untuk jadi Presiden RI hingga menunggu UFO di Monas.

Lia juga masih meluncurkan propaganda ajarannya lewat laman resmi gerakan Salamullah, meski kemudian laman tersebut tidak bisa diakses karena diblokir pemerintah.

Mengenal Gerakan Salamullah

Dikutip dari "Diskursus Gerakan Salamullah Lia Eden" di Religio: Jurnal Studi Agama-agama (2018) yang ditulis Affaf Mujahidah dari CRCS–UGM, embrio pergerakan ini dimulai dari berbagai pengalaman spiritual yang dialami Lia. Terhitung sejak tahun 1974, Lia Eden telah merasa didatangi oleh Malaikat Jibril yang ia sebut sebagai Habib Al-Huda.

Namun semua pengalaman tersebut baru terpublikasi melalui buku yang ia tulis sendiri dengan judul "Perkenankan Aku Menjelaskan Sebuah Takdir" yang terbit pada tahun 1998. Titik balik transformasi Lia Eden dimulai ketika ia berjumpa dengan malaikat Jibril untuk pertama kalinya di Jl. Mahoni 30, Jakarta Pusat. Di tempat ini pula ia menemukan sumber mata air pada 1 Oktober 1997, yang nantinya ia pergunakan dalam berbagai ritual penyembuhan. Menariknya, alamat ini pula yang kemudian menjadi pusat dari kegiatan Salamullah.

Gerakan Salamullah mulai menarik perhatian publik ketika mereka melakukan ritual secara terang-terangan, terutama ketika melakukan ritual penyucian pantai selatan di Pelabuhan Ratu. Tujuan ritual tersebut adalah untuk melakukan penyucian perbuatan musyrik yang diindikasi terpengaruh oleh Ratu Pantai Selatan.

Ritual yang dilakukan selama empat puluh lima menit itu diawali dengan salat yang diimami oleh Lia Eden dengan diikuti 75 pengikutnya. Puncak dari ritual terjadi ketika Lia Eden menghunuskan keris sepanjang 20 cm sembari menyuruh Ratu Pantai Selatan untuk segera enyah dari lokasi

Affaf menilai, pola awal yang diusung oleh gerakan Salamullah hampir serupa dengan gerakan-gerakan keagamaan lain yang mengedepankan pada pemurnian ajaran. Konsep ini menjadi lazim ditemui pada bentuk gerakan spiritualitas non-agama sebagai suatu counter public terhadap agama yang ada. Meski demikian, mayoritas gerakan spiritualitas tersebut menunggangi ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama tertentu sebagai titik awal untuk mendapat kepercayaan dari banyak pihak.

Salamullah pun demikian, dari selebaran yang diedarkan oleh kelompok Salamullah, dapat diketahui bahwa tujuan utama ajaran kelompok tersebut adalah untuk meninggalkan praktik musyrik (perdukunan). Di selebaran yang sama, kelompok ini juga menekankan tentang konsep Ketuhanan yang Maha Esa. Selain itu, di selebaran tersebut ditekankan pula penyucian diri melalui budi pekerti yang baik dan menghentikan tindak korupsi.

Inti kedua dari ajaran Salamullah adalah persiapan menghadapi kiamat yang diramalkan akan terjadi pada tahun 2057. Lia Eden menyatakan telah menerima berbagai petunjuk dari Malaikat Jibril melalui berbagai gejala alam. Dia juga meyakini bahwa telah terjadi perubahan letak gugus galaksi Bimasakti sebagai indikasi semakin dekatnya hari kiamat.

Pemikiran, Karisma, dan Pesan Gender

Dengan pengikut yang kebanyakan berasal dari latar belakang pendidikan tinggi dan kelas ekonomi menengah ke atas, Affaf menilai kalau pengikut Lia memilih Salamullah dengan sadar. Salamullah jadi pilihan untuk menuntaskan dahaga spiritualitas mereka, alih-alih menjadi oportunis yang memiliki tujuan sekadar kenyamanan duniawi.

Gerakan Salamullah sebagai counter public mewadahi ide-ide yang bertolak belakang dengan konsep agama yang dimiliki oleh pemerintah. Perlu diingat tentang waktu saat gerakan Salamullah muncul, pemerintah masih menerapkan Undang-undang PNPS 1965 yang secara ketat mengatur mengenai regulasi agama. Singkatnya, Salamullah sebagai tempat bagi kelompok tertentu yang merasa aspirasinya tidak terwadahi dengan baik oleh bentuk agama formal.

Dari penuturan sejumlah jemaat Salamullah yang ditulis Affaf, ditemukan juga faktor karisma yang jadi alasan utama pengikutnya untuk mengikuti Lia Eden dan mengabdikan diri kepada Salamullah. Mereka merasa bahwa Lia Eden bukan hanya sekedar ibu rumah tangga biasa, namun juga seorang utusan Tuhan.

Affaf juga menemukan bahwa apa yang Lia lakukan dengan memimpin gerakan spiritual meski dirinya adalah seorang perempuan adalah melawan arus. Fenomena Lia Eden dan Salamullah tidak hanya mewakili suara subaltern yang mencoba menyuarakan suara mereka sendiri, namun juga sebagai pertentangan pada otoritas laki-laki.

Lia Eden bahkan dengan tegas menyatakan bahwa dirinya adalah reinkarnasi dari berbagai tokoh perempuan dalam sejarah seperti Kunti, Eve, Virgin Marie, Joan D’Arch, hingga Kartini.

Menanggapi berbagai vonis penyesatan, tidak membuat Lia Eden tunduk dan takut kepada otoritas yang ada. Alih-alih menyatakan bahwa ajaran agamanya menyimpang, Lia Eden justru menyatakan keluar dari agama Islam dan ajarannya bukan bagian dari Islam melainkan ajaran agama baru.

Di luar kontroversinya dan ajarannya yang tidak biasa, mengutip Sejuk, Lia adalah sosok yang mengingatkan negara untuk menghormati serta memberikan jaminan perlindungan dan pemenuhan hak-hak bergama dan berkeyakinan di Indonesia. "Urusan setiap warga negara dengan Tuhannya tidak bisa dibatasi dan dikurangi oleh negara, apalagi dipenjara," demikian Sejuk mengakhiri obituarinya.

Share: Lia Eden dan Sekelumit Gerakan Salamullah