Luar Jawa

Ritual Pabbagang Yakinkan Nelayan Untuk Tetap Melaut, Bagaimana Bisa?

Ray– Asumsi.co

featured image
Foto: Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan

Hari Nelayan Nasional diperingati setiap tanggal 6 April. Bicara soal nelayan, ada tradisi unik yang dilakukan oleh masyarakat nelayan di Desa Lamurukung, Kabupaten Bone, Kecamatan Tellu Siattingnge, Sulawesi Selatan.Tradisi ini dikenal sebagai bagian dari ritual bernuansa supranatural yang dilakukan warga desa tersebut. 

Jurnal ilmiah berjudul "Nilai Budaya dalam Tradisi Ritual Nelayan Pabbagang di Desa Lamurukung Kabupaten Bone", terbitan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan, yang ditulis Hj. Raodah (2018), menuliskan tradisi ini dikenal sebagai pesta rakyat nelayan pabbagang. Ritual ini digelar lewat upacara larung kepala kerbau. Bagaimana asal mula dan ritual yang dilakukan para nelayan ini?

Persembahan untuk Penguasa Laut

Raodah menuliskan ritual bermula dari adanya nelayan pabbagang yang berminggu-minggu tidak mendapatkan hasil tangkapan."Sehingga untuk membiayai kebutuhan hidupnya sangat sulit. Pada masa sulit itu, merespon pemikiran para nelayan pabbagang untuk bertindak, dilakukan ritual sebagai permohonan kepada Yang Maha Esa dan penguasa lautan agar melimpahkan hasil tangkapan nelayan," ujarnya.

Pada dasarnya, masyarakat di Desa Lamurukung masih memercayai ada kekuatan gaib yang bisa menggerakan penghuni laut. "Dalam hal ini, biota laut berupa ikan dan hasil laut lainnya untuk menggiring masuk ke alat tangkap para nelayan."

Ritual lalu dilakukan oleh para nelayan pabbagang dengan bermusyawarah, kemudian mengumpulkan dana secara sukarela dari kocek masing-masing.

Hasil dana ini kemudian digunakan untuk membeli kerbau yang akan menjadi persembahan dalam ritual. Menurut Raodah, pemotongan kerbau dilakukan oleh imam kampong. Kepala kerbau dijadikan persembahan dengan melarung ke muara sungai atau laut sebagai makanan penghuni laut.

Tak lama setelah melakukan ritual ini, panen ikan yang berlimpah pun terjadi. Maka, sejak itulah ritual tersebut menjadi tradisi tahunan nelayan pabbagang di Desa Lamurukung.

Hasil Akulturasi Budaya

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan tradisi hasil dari akulturasi budaya. Demikian pula ritual nelayan pabbagang. Jurnal yang sama menuliskan, ritual ini berakar dari akulturasi budaya Islam dan Hindu yang diwariskan sejak ratusan tahun secara turun menurun.

Sebagian ritual diselenggarakan di darat dan sebagian lainnya di laut. Ritual ini ditujukkan untuk menolak bala dan menyelamatkan masyarakat nelayan pabbagang ketika beraktivitas.

"Inti dari ritual itu adalah memepersembahkan sesajen, berupa kepala kerbau, makanan tradisional masyarakat setempat dan berbagai macam buah-buahan," kata Raodah.

Dilaksanakan Saat Bulan Purnama

Ritual nelayan pabbagang dilaksanakan ketika datangnya bulan purnama atau yang oleh masyarakat ada setempat disebut dengan cora keteng. 

Raodah menjelaskan alasan dipilihnya waktu ini karena pada bulan purnama itu, para nelayan yang melakukan penangkapan di laut, kembali ke rumah masing-masing.

"Nelayan pabbagang tidak melakukan aktivitas penangkapan di saat bulan purnama, sehingga waktu itu masyarakat nelayan pabbagang menyepakati untuk dilakukan pesta atau ritual nelayan pabaggang. Ini biasanya dilakukan pada setiap bulan April dan Mei."

Sementara kesepakatan penentuan tanggal dan harinya dilakukan secara musyawarah agar segala persiapannya dapat dilakukan terlebih dahulu. Dalam ritual ini, terdapat nilai-nilai yang dapat diimplementasikan dalam hidup bermasyarakat. Raodah mengatakan, ritual ini mengandung nilai solidaritas dan gotong royong.

"Nilai solidaritas terlihat bagaimana masyarakat nelayan pabbagang bahu membahu dan berkumpul untuk mengakomodir seluruh rangkaian kegiatan ritual," katanya.

Sementara nilai gotong royong nampak pada peran serta masyarakat dalam tahapan kegiatan yang dilakukan secara musyawarah dan bersama-sama. "Sehingga pekerjaan yang berat akan terasa ringan dan mudah diselesaikan," tulisnya.

Nilai lainnya yang terkandung dalam ritual ini, lanjutnya juga mengandung nilai spiritualitas dan keagamaan yang mendorong motivasi akan doa-doa yang dipanjatkan. "Serta perilaku dan tindakan yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui penguasa laut."

Dituliskan pula, ritual ini oleh masyarakat setempat dianggap mengandung nilai keindahan yang merupakan represntasi seni yang menciptakan kegembiraan. 

Ritual Nelayan Pabbagang Bentuk Kearifan Lokal

Direktur Kepercayaan dan Masyarakat Adat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Sjamsul Hadi menilai ritual kepercayaan salah satu masyarakat seperti yang dilakukan nelayan pabaggang merupakan bagian dari sikap penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME. 

"Penghayat kepercayan terhadap Tuhan YME adalah setiap orang yang mengakui dan meyakini nilai-nilai penghayatan kepercayaan terhadap tuhan YME," ujarnya melalui pesan singkat kepada Asumsi.co, Selasa (6/4/21).

Keyakinan melakukan persembahan dengan makna supranatural yang dilakukan mereka, lanjutnya, adalah bentuk pengamalan budi luhur yang ajarannya bersumber dari kearifan lokal bangsa Indonesia.

"Sebagai masyarakat adat, mereka sekelompok orang yang hidup secara turun menurun di wilayah geografis tertentu dan memiliki asal usul leluhur yang sama, maka ini menjadi identitas budaya mereka," kata dia.

Ritual tersebut menjadi tradisi, menurutnya dikarenakan sikap mereka yang mersakan adanya hubungan yang kuat dan personal antara diri mereka dengan lingkungan tempatnya hidup. "Inilah yang membentuk sistem nilai dan menentukan pranata ekonomi (masyarakat nelayan) serta sosial dan budayanya," ujarnya.

Share: Ritual Pabbagang Yakinkan Nelayan Untuk Tetap Melaut, Bagaimana Bisa?