Isu Terkini

Niat Bully Aksi Koboi CEO Restock, Warga Net Indonesia Salah Sasaran

Ramadhan– Asumsi.co

featured image
Foto: Unsplash

Buntut panjang kasus Muhammad Farid Andika (MFA) terkait aksi penodongan senjata Soft Gun kepada pengendara sepeda motor wanita di lampu merah Duren Sawit, Jakarta Timur masih  jadi sorotan luas warga net Indonesia. Kejadian yang dimulai oleh MFA itu terjadi pada Jumat (1/4/21) dini hari WIB. 

Kini, akibat perbuatan MFA, berimbas pada perusahaan start up fintech peer-to-peer lending--tempat Farid bekerja sebagai CEO--Restock.id, justru jadi sasaran amuk warganet. Para Warganet pun ramai-ramai membully atau merundung akun Restock. Sayangnya, warga net ini justru salah alamat. Bukannya, membully Restock Indonesia justru sebaliknya, membully akun Restock Internasional.

Informasi terkait aksi netizen Indonesia ini kali pertamanya diketahui oleh CEO Restock.id yang kini dijabat oleh Tiar Nabilla Karbala, seusai Farid ditetapkan tersangka pada Sabtu, (3/04/2021). Tiar Nabilla Karbala sendiri  sebelumnya menduduki posisi sebagai komisaris perusahaan

"Untuk sementara kami telah menunjuk Tiar Nabilla Karbala sebagai CEO Restock.id. Insyallah minggu depan kita akan bantu startup yang fenomenal dengan nilai investasi yang cukup besar dari yang sebelum-sebelumnya. Kami mengajak masyarakat untuk objektif dan tenang dalam menanggapi isu yang ada," kata Rega dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (3/4).

Setelah pihak kepolisian menangkap Farid, akun Instagram Restock @id.restock pun langsung membatasi pengikutnya dengan tak mengizinkan para pengguna Instagram berkomentar di setiap postingan mereka.

Namun, warganet tak kehabisan akal, di tempat lain, informasi perusahaan Restock di mesin pencarian Google, justru sudah ramai komentar warganet.Bahkan, berdasarkan pantauan Asumsi.co, Minggu (4/4) sore WIB, terlihat rating perusahaan itu diberi bintang satu dengan ribuan ulasan baik itu sindiran, lelucon, hingga makian, dari warganet kepada perusahaan itu.

Selain itu, ada juga foto profil perusahaan yang ditambahkan gambar pistol dan kartu klub menembak Perbakin.

Warganet Salah Malah Serang Aplikasi Restock Milik Asing

Tak hanya itu, warganet juga menyerang aplikasi bernama ReStock di Google Play Store. Padahal, aplikasi tersebut merupakan aplikasi asing, dan bukan aplikasi yang dijalankan Restock.id. Tentu saja warganet tak sadar kalau mereka sudah salah sasaran menyerang aplikasi lain.

Dilihat dari logonya saja sudah berbeda, antara logo Restock.id yang didirikan oleh Farid dengan logo aplikasi ReStock yang mereka serang. Apalagi, layanan kedua aplikasi itu juga sangat berbeda.

Belum lagi, berdasarkan penelusuran, Restock.id sepertinya tidak memiliki aplikasi di Google Play Store. Meski sejauh ini belum ada keterangan resmi dari pihak Restock.id apakah mereka memiliki aplikasi berbasis Android atau tidak.

Adapun aplikasi ReStock yang diserang warganet Indonesia dengan memberi review bintang satu itu merupakan aplikasi perhitungan kebutuhan sehari-hari atau aplikasi kalkulator kebutuhan rumah tangga buatan perusahaan rintisan luar negeri bernama GetReStock.

Dengan aplikasi itu, penggunanya bisa memantau atau menghitung barang habis pakai untuk rumah tangga, seperti air mineral botolan hingga tisu toilet agar sesuai kebutuhan dan tepat guna. Sementara itu, Restock.id bergerak di bidang peer-to-peer lending, sepenuhnya berbeda dengan ReStock.

Berdasarkan pantauan Asumsi.co, Minggu (4/4) sore WIB, sudah ada 784 ulasan aplikasi ReStock, yang sebagian besar didominasi dari pengguna dari Indonesia.Sebagian besar pengguna memberikan review bintang satu.

Namun, ada pula yang mengingatkan pengguna lain yang berkomentar negatif bahwa mereka telah salah berkomentar di aplikasi yang sebenarnya enggak ada hubungannya sama aplikasi dengan ReStock yang dimaksud.

Riset Microsoft Tampaknya Masih Valid

Kelakuan warganet Indonesia yang salah sasaran menyerang aplikasi lain, memang bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, pada 2019 lalu, warganet Indonesia juga pernah salah sasaran, yakni saat menyerang lapak Tous les Jours, e-commerce parfum dari Prancis, saat isu soal toko kue dan roti TOURS les JOURS melarang ucapan yang bertentangan dengan syariat Islam di kue mereka.

Sebelumnya, Microsoft pernah merilis hasil riset yang mengukur tingkat kesopanan pengguna internet sepanjang 2020. Hasilnya, Indonesia berada di urutan ke-29 dari 32 negara yang disurvei.

Hasil itu pun membuat Indonesia menjadi negara dengan tingkat kesopanan yang paling rendah di Asia Tenggara.Secara global, Belanda menjadi negara dengan warganet paling sopan alias ranking pertama.

Sementara di Asia Tenggara dan juga di Asia secara umum, Singapura berada di posisi teratas dan keempat secara global.Singapura tercatat naik empat peringkat, menggantikan Malaysia yang sebelumnya ada di peringkat tersebut.

Dalam survey berjudul 'Digital Civility Index (DCI)' itu, setidaknya diikuti oleh 16.000 responden di 32 negara. Microsoft menyampaikan ada 503 responden remaja dan dewasa yang terlibat dalam survei tersebut.

Penelitian dilakukan mulai April dan Mei 2020Adapun sistem penilaian laporan itu berkisar dari skala nol hingga 100. Semakin tinggi skor maka semakin rendah kesopanan daring di negara tersebut, lalu makin rendah skor berarti tingkat kesopanan di internet negara itu disimpulkan makin tinggi.

Hasilnya, skor kesopanan daring di Indonesia sendiri naik delapan poin, dari 67 pada tahun 2019 menjadi 76 pada tahun 2020.Tak terima dengan hasil riset itu, warganet Indonesia pun ramai-ramai menyerang kolom komentar di setiap postingan akun Instagram Microsoft dengan nyinyiran hingga makian.

Share: Niat Bully Aksi Koboi CEO Restock, Warga Net Indonesia Salah Sasaran

Artikel Lainnya