Kesehatan

Cerita Patwal Ambulans: Tak Dibayar, tapi Sering Dicap Negatif

Ramadhan– Asumsi.co

featured image
Foto: Asumsi

Bagi pasien gawat darurat yang membutuhkan pertolongan cepat, kepadatan jalanan adalah momok tersendiri. Raungan sirene ambulans memang dirancang untuk menghalau massa agar mereka bisa sukarela memberi jalan. Namun, ambulans seringkali tak berdaya menghadapi kemacetan jalanan yang memburuk di jam-jam sibuk. 

Hamzah, seorang karyawan perusahaan kontraktor di Jakarta, mengaku trenyuh hatinya setiap kali melihat ambulans yang terjebak macet. Suatu ketika, ia menempuh perjalanan pergi ke kantornya di daerah Jakarta dari rumahnya yang berada di daerah Cibitung. Perjalanannya terhadang situasi macet total di daerah Tambun. 

“Di belakang saya persis, ada ambulans, benar-benar nggak bisa lewat sama sekali. Saya inisiatif untuk masuk ke tengah, izin sama pengendara lain untuk buka di tengah, supaya ambulans ada akses masuk,” katanya. 

Pengalaman itu menimbulkan panggilan tersendiri bagi Hamzah yang kemudian mencari aktivitas serupa di media sosial Instagram. Tak dinyana, ia menemukan komunitas Relawan Patwal Ambulans Indonesia (RPAI). Tanpa berpikir panjang, Hamzah ikut bergabung hingga kini ia dipercaya untuk menjadi ketua RPAI cabang DKI Jakarta. 

“Relawan ini hanya untuk selingan kalau pulang kerja atau lagi libur. Nggak mencari uang di sini. Benar-benar karena Allah ta’ala saja,” ujarnya. 

Panggilan serupa juga dirasakan oleh Adelia Dina Pratiwi. Mahasiswi tingkat akhir ini sudah bergabung menjadi relawan di RPAI sejak organisasi tersebut baru berdiri tiga tahun lalu. Awalnya, Adelia mengaku hanya ikut-ikutan. Namun, setelah ia melihat kenyataan bahwa banyak yang membutuhkan jasa patwal, hatinya terketuk. 

Ia tak hanya bisa mengendarai motor. Dalam beberapa kesempatan, Adelia duduk di belakang kawan sesama relawan sebagai penumpang. Jika jalanan macet, ia tak ragu melompat turun dari motor untuk membuka jalur. 

“Kalau macet nggak bisa dibongkar naik motor, harus ada yang turun. Ke depan, buka jalur tengah. atau lanjutin ke lampu merah biar semuanya pada maju.” kata Adelia.

Putra, seorang supir ambulans swasta, mengaku pekerjaannya sangat terbantu dengan keberadaan RPAI. 

“Kebantu banget. Saya merasakan, ketika nggak ada anak patwal, pengendara masih banyak yang kurang kesadaran. Banyak masyarakat yang kurang sadar dengan adanya kendaraan prioritas. Apalagi kalau pasiennya urgent,” ucap Putra. 

RPAI berdiri sejak 14 Mei 2017. Pendirinya adalah warga kota Medan, Sumatra Utara bernama Ridho Chaniago. Saat ini, RPAI sudah tersebar di kota-kota besar di Indonesia. Organisasi ini membuka diri bagi relawan yang ingin mendaftar. Syaratnya, ia harus punya SIM aktif, KTP, dan juga motor lengkap dengan peralatannya (helm, dan sebagainya). 

Di Jakarta sendiri, anggota RPAI terdiri dari 25 orang yang tersebar di wilayah pusat, barat, timur, selatan, dan utara ibukota. Selain itu, RPAI juga memiliki grup untuk berbagi dengan relawan patwal dari komunitas lain agar bisa saling bertukar informasi jika ada ambulans yang butuh bantuan. 

Menjadi relawan patwal bukan berarti pekerjaannya bisa dilakukan secara asal-asalan. Koordinator wilayah RPAI kerap berbagi ilmu melatih relawannya agar terbiasa dengan gestur tubuh untuk menghalau massa, sekaligus membimbing supir ambulans agar lebih mudah lewat. Ada kode-kode tertentu untuk memperlambat, misalnya di depan ada gundukan, atau matikan sirine ketika masuk gang kecil. 

Untuk membuka jalanan yang sangat padat, umumnya kelompok relawan ini membutuhkan tiga sampai empat unit motor. Para relawan menggunakan istilah “sweeper long” atau “tarik ke depan” untuk mengurai macet dan membuka jalan untuk ambulans. Usaha seperti ini, gampang-gampang susah. Sebab, yang dihadapi adalah kesadaran dan jiwa sosial orang lain. 

“Kadang, kalau susah banget, kita ketuk aja pintu atau jendelanya,” tukas Adelia. 

Permintaan langsung seperti ini pun belum tentu langsung dituruti sesama pengendara. Menurut Adelia, ia sering berdebat dengan pengguna jalan yang merasa berhak lewat dan ogah memberi jalan pada kendaraan prioritas. 

“Ya udah. Ujung-ujungnya dia mau nggak mau, kita berdebat dulu sebentar, tapi dia tetap ngasih jalan ke kita,” ujar Adelia yang mendapat julukan “Srikandi” dari kawan-kawannya di RPAI. 

Jika pasien yang diantar selamat sampai tujuan, Adelia merasakan kelegaan luar biasa. Namun, ia juga punya pengalaman gagal mengawal pasien gawat darurat untuk tepat waktu. Pasien tersebut pun meninggal di tengah perjalanan. 

“(Saya) sampai nangis sesunggukan, karena baru merasakan yang seperti itu. Duduk, diam, sampai menangis, sampai dilihatin banyak orang. Membayangkan kalau itu keluarga sendiri,” ucapnya. 

Kerja keras para relawan seperti ini bukan tanpa stigma negatif dari masyarakat. Menurut Hamzah, saat ini banyak orang-orang yang menyalahgunakan posisi relawan patwal sebagai ajang minta duit kepada keluarga yang membutuhkan pengawalan ambulans. 

“Sangat saya sayangkan,” kata Hamzah. “Kita di lapangan nggak pernah melakukan itu. Dengan adanya oknum seperti itu, kita merasa dirugikan juga. Karena dari awal, kita benar-benar niat membantu ambulans, untuk kegiatan sosial.”

Mimpi Hamzah untuk RPAI adalah agar organisasi tersebut bisa memiliki unit ambulans tersendiri, terutama untuk masyarakat kurang mampu.

“Pesan saya, untuk pengendara di jalan, kalau mendengar sirine, tolong kesadarannya untuk menepi sejenak.” sahutnya tegas. 

___________________________________________________________

Artikel ini adalah saduran dari program "Kerah Biru: Relawan Patwal Ambulans" yang akan segera tayang di channel Youtube Asumsi

Share: Cerita Patwal Ambulans: Tak Dibayar, tapi Sering Dicap Negatif