Isu Terkini

Pengarusutamaan Gender Untuk Halau Aksi Teror dan Ekstremisme: Kenapa Itu Penting?

Irfan Muhammad– Asumsi.co

featured image
Unsplash/Isabella & Louisa Fischer

Pelibatan YSF, istri dari L, pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Minggu (28/3/2021) menambah daftar keterlibatan perempuan dalam aksi teror di Indonesia. YSF memang bukan yang pertama, sebelumnya pada 2016 ada nama Dian Yulia Novi. Lalu, pada 2018, mengacu pada data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, ada 13 perempuan yang terlibat dalam aksi teror dan bertambah dua perempuan di tahun berikutnya. 

Pelibatan perempuan dalam aksi teror bermotif jihad jadi sorotan karena gaya ini dinilai baru. Di Indonesia, pelibatan perempuan, atau lebih jauh lagi keluarga, dimulai oleh jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Jaringan ini diketahui juga berafiliasi dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Dian Yulia Novi termasuk jaringan ini. 

Gaya baru dengan melibatkan perempuan pada aksi teror ini disebut melampaui peran sebelumnya dimana perempuan lebih cenderung menjadi perantara ataupun pelindung dari para suaminya yang juga teroris. Pakar terorisme Asia Tenggara, Sidney Jones menyebut bahwa ISIS telah berhasil mengubah konsep jihad personal menjadi jihad keluarga yang melibatkan istri dan anak-anak. 

Pendekatan Gender Penting 

Direktur Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, Ruby Kholifah menyebut kalau pendekatan gender penting untuk menanggulangi keterlibatan perempuan dalam ekstremisme. Kepada Asumsi.co, Selasa (30/3/2021), Ruby menyebut setiap aksi teror yang melibatkan perempuan, secara jelas memperlihatkan kerentanan yang berbeda dengan laki-laki. Menurut dia, ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang dialami perempuan dalam kehidupan bermasyarakat membuatnya mencari alternatif. Salah satunya ada yang kemudian terpapar pada ide-ide ekstrem. 

Ruby memaparkan beberapa contoh. Ika Puspitasari, misalnya, yang direkrut ISIS di Hong Kong. Ia lahir dari keluarga miskin yang tidak bisa sekolah karena dia perempuan. Saat dewasa, dia harus menjadi tulang punggung keluarga dengan menjadi buruh migran. Kekecewaan ini sangat rentan membuatnya mencari pelarian.

"Kalau dalam konteks Ika Puspitasari, ada juga sebuah perasaan bersalah karena dia hidup dalam budaya Hong Kong yang terbuka. Itu membuatnya haus spiritualitas. Ini jadi faktor penarik, yang bukan hanya membuatnya ter-empower, tapi juga menjadi penebusan dosa lewat amaliyah (misi dari ISIS). Ini cukup mengena pada perempuan," kata Ruby. 

Contoh lain adalah Jumiatun alias Umi Delima, istri dari gembong teroris Poso, Santoso. Menurut Ruby, ada alasan Jumiatun harus angkat senjata, itu sebagai perlawanan dirinya karena dijadikan target antara oleh aparat. Padahal, dalam analisis gender, jejak Jumiatun teradikalisasi adalah lewat perjodohan yang membuatnya sulit menolak berada dalam jaringan ini. 

"Dia kan dari perjodohan juga. Enggak ngerti dia nikah dengan teroris. Lebih celaka lagi, Densus mentarget istrinya ketika enggak dapat Santoso. Tentu saja dia merasa harus melindungi dirinya. Sekalian basah," ucap dia. 

Untuk itu pengarusutamaan gender jadi penting dalam penanganan ekstremisme. Perpes No.7/2021 sebetulnya sudah ada kausul penting yang punya prinsip pengarusutamaan gender dan hak anak. Ini harus ditafsirkan dalam merepons suatu kejadian teror dan mitigasinya agar kejadian serupa tak terjadi lagi ke depan. Jangan sepelekan lagi perempuan, karena kaum ekstrem sendiri sudah paham bahwa perempuan sangat potensial sebagai pengelabu keamanan dan menjadi atraksi pemberitaan. 

"Jangan di-blow-up dia sebagai perempuan saja, tapi otokritik kepada negara yang tidak melakukan pengarustamaan gender dalam mengatasinya. Meremehkan perempuan ini bahaya banget, karena kenyataannya, perempuan ekstremis ini sudah siap banget, tinggal mendapatkan kesempatan saja. Apalagi perubahan terorisme saat ini yang bisa bergerak individu," ucap dia. 

Mengutip Sityi Maesarotul Qori'ah dalam "Keterlibatan Perempuan dalam Aksi Terorisme di Indonesia", ISIS memang telah berhasil menarik minat perempuan untuk bergabung dalam gerakan. Tidak sekadar bergabung, para perempuan ini bahkan bersedia menjadi martir. Dalam konteks Indonesia, ketertarikan perempuan bergabung dengan ISIS ataupun dengan gerakan radikal lainnya adalah budaya patriarkal yang senantiasa mengkonstruksi perempuan sebagai manusia yang lemah dan tidak berani, seperti laki-laki, untuk melakukan tindakan kekerasan melalui aksi teror. 

Direktur Rumah Kita Bersama Foundation, Lies Marcoes menjelaskan bahwa ada dua faktor yang melatarbelakangi ketertarikan perempuan dalam aksiterorisme di Indonesia. Pertama, bahwa perempuan setuju dan percaya dengan gagasan khilafah. Mereka percaya bahwa gagasan ini adalah solusi atas isu-isu ketidakadilan, ketidaksetaraan dan kekecewaan atas kesenjangan ekonomi. Sementara alasan kedua adalah melawan budaya patriarki itu sendiri. ISIS yang melibatkan perempuan dalam aksi dipercaya sebagai bentuk ‘kesetaraan’ yang mereka dapatkan agar posisi mereka sama dengan laki-laki yang berani berjihad. 

Bukan Hal Baru 

Meski keterlibatan perempuan sebagai pelaku aksi teror bisa dibilang baru, sebelum era JAD pun, istri-istri teroris memegang peran yang tidak kalah penting. Musdah Mulia, dalam "Perempuan Dalam Gerakan Terorisme di Indonesia" yang terbit di Al-wardah: Jurnal Kajian Perempuan, Gender dan Agama Volume: 12 Nomor: 1, merinci peran-peran tersebut. Menurut Musdah, para perempuan ini berperan sebagai pendidik (Educator); agen perubahan (Agent of change); pendakwah (Campaigner); pengumpul dana (Fund raiser); perekrut (Recruiter); penyedia logistik (Logistic arranger); hingga pengantin atau pelaku bom bunuh diri. 

Selain Dian, ada beberapa nama seperti Munfiatun (2006), isteri Noordin M. Top, yang berperan sebagai agen rahasia dan menyembunyikan keberadaan para teroris. Siti Rahmah (2008), isteri kedua Noordin M. Top, yang berperan sebagai perekrut dan penyedia logistik. Putri Munawaroh, isteri Adib Susilo, yang berperan penting sebagai agen radikal. Tugasnya merekrut perempuan muda untuk menjadi pelaku bom bunuh diri. Sedangkan Noor Azmi Tibyani, isteri Cahya Fitriyanta, memiliki peran khusus sebagai pencari dana untuk membiayai pelatihan militer Poso tahun 2008. Untuk kegiatan ini, ia menggunakan rekening pribadinya. 

Musdah juga menemukan fakta bahwa tidak sedikit perempuan buruh migran berhasil direkrut dalam gerakan terorisme. Dian, misalnya, adalah buruh migran di Taiwan. Nama lain adalah Ika Puspitasari mantan buruh migran di Hongkong yang berencana untuk meledakkan diri di Bali bersamaan dengan perayaan tahun baru 2016. Perempuan buruh migran relatif mandiri dan berani. Di sisi lain, mereka punya uang dan pengalaman bepergian ke luar negeri sehingga mudah dijadikan sebagai agen kurir atau pembawa pesan-pesan rahasia. 

Dari sisi psikologis, perempuan buruh migran seringkali mengidap kekecewaan dan frustrasi yang sangat dalam akibat perlakuan diskriminatif dan kekerasan fisik yang mereka alami ketika bekerja. Umumnya mereka mengalami berbagai trauma psikologis selama bekerja di luar negeri. Patologi psikis tersebut membuat sebagian dari mereka mudah menerima pengaruh apa pun yang dianggap dapat menolong mereka keluar dari situasi mencekam tersebut. Sebagian dari mereka sangat membutuhkan mekanisme pertahanan diri untuk bertahan dari berbagai tekanan sosial. Dan aksi-aksi terorisme, menyadur Musdah, mebuat mereka menemukan kebermaknaan hidup.

Share: Pengarusutamaan Gender Untuk Halau Aksi Teror dan Ekstremisme: Kenapa Itu Penting?