Eksklusif

Serangan Netizen Timpa Eko Maung yang Sebut Tim Bulutangkis Indonesia Berlebihan, Bagaimana Pandangan Pakar Soal Fenomena Ini?

OlehDesika Pemita

featured image
Unsplash.com/William Crush

"Serangan Netizen" menjadi hal yang lumrah dalam pemberitaan media kita akhir-akhir ini. Beda pendapat, akan sangat berpotensi membuat kolom komentar ramai dengan hujatan dan makian dari warganet. Terkini, hujatan itu menimpa pengamat hukum olahraga nasional, Eko Noer Kristyanto alias Eko Maung.

Eko diserang lantaran pendapatnya soal tim badminton Indonesia di All England 2021 yang hendak membawa kasus pemulangan mereka ke ke CAS atau Badan Arbitrase Olahraga Internasional. Meski tidak melarang, dia menilai langkah ini berlebihan.

Mengutip CNN Indonesia, Eko menilai kalau serangan komentar yang dialamatkan kepada dirinya adalah bentuk empati atas dipulangkannya tim bulu tangkis Indonesia dari AllEngland. Dia menilai kemarahan itu wajar. Namun tentu untuk mengambil langkah penyelesaian perlu dipikirkan secara rasional.Serangan Netizen Indonesia memang bukan kali ini saja terjadi. Beberapanya bahkan membawa dampak besar.

Dalam kasus AllEngland misalnya, Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) sampai membatasi kolom komentarnya. Lainnya yang masih hangat mungkin serangan netizen Indonesia ke akun Gotham Chess saat netizen ramai-ramai membela Dewa Kipas atau Dadang Subur, pecatur yang dituding bermain curang oleh pecatur internasional bernama asli Levy Rozman itu.

Microsoft juga sampai menutup kolom komentar akibat serangan netizen Indonesia. Untuk yang satu ini, cukup ironis karena netizen Indonesia menyerang akun sosial media Microsoft setelah Microsoft merilis laporan "Digital Civility Index" yang menemukan fakta bahwa netizen Indonesia adalah pengguna internet dengan tingkat kesopanan di Asia Tenggara. Sebagai pengingat, data yang dirilis Februari 2021 ini menempatkan Indonesia di urutan ke-29 dari 32 negara yang disurvei. Di atas Indonesia, Vietnam berdiri pada peringkat ke-24. Sementara Thailand menempati peringkat ke-19 dan Filipina berada di peringkat ke-13. Sementara Singapura dan Malaysia disebut sebagai negara teladan di Asia Tenggara dengan masing masing berada pada peringkat ke-4 dan ke-2.

Lalu, apa sih yang membuat netizen Indonesia merasa ini hal yang biasa?

Dosen Paramadina Graduate School of Communication, Ika Karlina Idris menyebut setidaknya ada tiga penjelasan yang memungkinkan. Pertama, karena internet memfasilitasi audiens untuk aktif memaknai dunianya.

Dalam hal ini, kata Ika, kita perlu memahami bahwa ada dua kubu ilmu komunikasi dalam memandang audiens, yakni yang memandang audiens sebagai kelompok pasif sementara kubu lain memandang sebagai kelompok yang aktif. Keberadaan internet, sambung Ika, akhirnya memfasilitasi kubu kedua ini karena akhirnya membuat orang bebas memaknai peristiwa dan pesan-pesan komunikasi sesuai dengan kondisi mereka.

"Terlebih lagi, internet memungkinkan kita untukmencari dan terhubung dengan komunitas apa saja yang sesuai dengan pandangan kita. Dengan demikian, saat ada sebuah masalah atau peristiwa, netizen yang mungkin tidak menemukan kesamaaan pikiran dan pemaknaan dengan media mainstream tetap akan menemukan komunitas yang sesuai dengan pemikirannya dia. Artinya, semua pendapat tetap berpotensi tumbuh subur dan didiskusikan selama netizen bisa mencari komunitas yang sepemikiran dengan mereka," kata Ika kepada Asumsi.co.

Ika juga pernah melakukan riset dengan Dr. Laeeq Khan tentang misinformasi di Indonesia. Riset ini menunjukkan, dari tiga skill dimensi literasi informasi yakni skill berbagi informasi, skill mencari informasi, dan skill memverifikasi informasi, netizen Indonesia paling rendah di skill terakhir."Sedangkan yang paling tinggi adalah skill mencari informasi.

Artinya apa? Dalam memaknai sebuah peristiwa, tidak cukup kita hanya mencari informasi sebanyak-banyaknya, tapi penting juga kita memverifikasi kebenaran informasi tersebut," ucap dia.Beberapa fenomena juga menunjukkan bagaimana netizen Indonesia menggunakan media untuk secara simbolik melakukan konfrontasi dalabentuk viktimisasi. Netizen kita cenderung menganggapi sebuah kejadian sebagai persinggungan antara pahlawan dengan kejadian yang tidak menyenangkan seperti kesalahan pihak lain atau judgement yang tidak adil. "Makanya meski sudah ada penjelasan, misalnya, netizen akan tetap gigih mempertahankan pendapat mereka," kata dia.

Tapi hal ini menurut Ika tidak berdiri sendiri. Ini juga terjadi karena netizen sering diviktimisasi. UU ITE menjadi salah satu sebab viktimisasi itu. Dalam kehidupan nyata seringkaliwarga biasa jadi korban sistem yang tidak adil atau terlihat perlakuan istimewa pada kelompok tertentu.

Perlakuan tak adil di dunia nyata menjadi alasan?

Jadi, karena dalam kesehariannya juga sering mendapatkan perlakuan yang tidak adil atau sistem yang tidak beres, maka saat ada peristiwa, netizen secara umum akan mengasosiasikannya dengan pengalaman mereka bahwa ada yang tidak adil dan perlu dibela

"Ini merupakan akumulasi pengalaman individu dalam hidup bermasyarakat dan bisa sewaktu-waktu menjadi aksi simbolik membela isu apapun itu," ucap itu.Lalu bagaimana dampak komentar julid pada psikologi seseorang?Hasil penelitian yang diterbitkan di The Journal Depression and Anxiety menunjukkan komentar negatif di sosial media bisa menyebabkan peningkatan gejala depresi sebesar 10 persen.

Dikutip dari laman Halodoc, penelitian yang sama juga mengungkapkan, pengalaman negatif di sosial media lebih memberikan dampak di kehidupan nyata ketimbang pengalaman positif. Dr. Brian Primack, Direktur The Center for Research on Media, Technology and Health dari University of Pittsburgh menyebut secara naluriah manusia lebih terpengaruh oleh pengalaman negatif ketimbang positif.

Bahkan ketika dari lima hal, walaupun hanya satu saja yang memberikan seseorang pengalaman negatif, dia akan fokus pada hal yang tidak menyenangkan tersebut. Pengalaman negatif pada umumnya dapat membuat orang lebih rentan terhadap depresi.Buruknya, efek dari pengalaman bersosial media sulit dikontrol karena sangat individual ataupun personal.

Terjadi peningkatan kecemasan, kecemburuan, dan kecenderungan kecanduan dari ketergantungan sosial media yang membuat seseorang bisa senantiasa terhubung dengan pengalaman negatif dari sosial media tersebut. Karena penggunaannya yang terus menerus, orang yang mendapat komentar negatif di sosial media juga terpapar terus menerus dengan pengalaman negatif.Karena melihat kerugian dan dampak buruknya, yuk mulai sekarang berhati-hati dalam memberi komentar.

Penulis: Muhammad Irfan

Share: Serangan Netizen Timpa Eko Maung yang Sebut Tim Bulutangkis Indonesia Berlebihan, Bagaimana Pandangan Pakar Soal Fenomena Ini?