Internasional

Bangun Kuil Dewi Corona di Atas Tanah Sengketa, Memangnya Ada di Agama Hindu?

Ray– Asumsi.co

featured image
Foto: Reuters

Warga India tak pernah kehabisan akal untuk mengusir pandemi COVID-19 dari negara mereka, mulai dari menggunakan obor api sampai mengobati pasien pakai obat cacing. Kini, mereka membangun kuil khusus bagi Dewi Corona yang, belakangan diketahui, dibangun di atas tanah sengketa.

Sosok Dewi Corona

Kuil tersebut dibangun oleh warga Desa Juhi Shuklapur di negara bagian Uttar Pradesh, India. Melansir India Today, warga mengharapkan pandemi COVID-19 yang melanda Negeri Hindustan dapat segera berakhir dengan pembangunan kuil ini

Kuil tersebut dibangun warga desa pada 9 Juni 2021. Patung yang menggambarkan wujud dari Dewi Corona atau yang juga disebut Corona Mata ini juga dihadirkan di kuil tersebut. Sosok Dewi Corona, digambarkan bertangan empat dengan posisi dua tangan melingkar di depan dada dan dua tangan lainnya diangkat ke atas. 

Dewi Corona mengenakan baju khas India berwarna merah dan warna hijau pada bagian lengannya. Sosoknya mengenakan mahkota di kepalanya dan memakai masker berwarna hijau.

Warga menyembah patung Dewi Corona agar mendapat berkat dan terhindar dari infeksi virus Corona. Mereka melakukan ritual doa, mempersembahkan air suci, dan bunga di kuil kuning tempat patung Dewi Corona berada.

Keberadaan kuli tersebut sontak ramai didatangi yang ingin berdoa di sana. Hal itu menyebabkan kerumunan yang tak terkendali. "Protokol COVID-19 diabaikan karena orang-orang terus berkerumun di dalam kuil untuk berdoa dan menerima prasad dari pendeta," demikian disampaikan laporan berita.

Warga setempat meyakini kehadiran kuil tersebut mulai menunjukkan berkatnya dan sang Corona Mata mulai mendengar doa-doa mereka karena kasus COVID-19 di sana mulai menurun. Namun, secara nasional angka kasus masih parah. Kasus COVID-19 di India hingga kini rata-rata mencapai 29,5 juta dengan total kematian sebanyak 374 ribu.

Baca juga: Mengenal Triple Mutant, Penyebab Melonjaknya Kasus Covid-19 di India | Asumsi

Didirikan di Tanah Sengketa

Baru berdiri kurang dari sepekan, sumber yang sama melaporkan kuil tersebut dihancurkan, diduga oleh aparat lima hari kemudian sejak selesai dibangun. Warga desa mempertanyakan alasan polisi menghancurkan kuil tersebut. Namun Kepala Kantor Polisi Sangipur, SHO Tushardutt Tyagi membantahnya.

Kuil Dewi Corona bukan dirobohkan oleh polisi, melainkan dihancurkan oleh orang yang merasa terusik dengan kehadiran bangunan tersebut lantaran didirikan di atas lahan sengketa.

"Kuil itu dibangun di atas tanah yang disengketakan. Kuil dihancurkan salah satu pihak yang terlibat dalam sengketa," jelas Tushardutt.

Pihak kepolisian, lanjut dia, tengah menangani kasus sengketa lahan tempat kuil tersebut didirikan. Tanah itu disebut milik tiga nama, yakni Lokesh, Nagesh Kumar Srivastava, dan Jai Prakash Srivastava.

Warga desa setempat pun tak terima. Mereka menyatakan kuil yang dibangun oleh Lokesh Kumar Srivastava itu adalah hasil swadaya masyarakat setempat.

Namun, Lokesh meninggalkan desa tersebut setelah kuil dibangun. Nagesh, pihak yang juga bersengketa kabarnya mengadukan pembangunan kuil tersebut ke polisi. Menurutnya, kuil itu dibangun untuk mendapatkan simpati dari masyarakan dan Lokes menerima hak kepemilikan tanah.

Memangnya Ada Dewi Corona?

Sejarawan dan arkeolog Universitas Negeri Malang, M. Dwi Cahyono mengatakan dalam kepercayaan era India Kuno, khususnya dalam ajaran Hinduisme, memang mengenal adanya sosok dewi kesehatan. Sosok dewi ini diyakini penganut agama Hindu di India mampu menyembuhkan penyakit hingga meniadakan wabah di tengah masyarakat.

Namun, Dewi Corona tentu tidak ada. Sosoknya hanyalah buatan warga negara pimpinan PM Narendra Modi itu berdasarkan kepercayaan tentang adanya kekuatan yang Maha Kuasa di tengah-tengah mereka.

Salah satu dewi kesehatan yang dipercaya oleh penganut Hindu di India adalah Dewi Mariamman yang diyakini mereka sebagai Dewi Peniada Penyakit sekaligus Dewi Hujan. 

"Dewi ini disembah oleh orang-orang Tamil kuno sebagai pembawa hujan, dan karenanya juga membawa kemakmuran," kata Cahyono melalui keterangan tertulis yang diterima Asumsi.co, Selasa (15/6/21).

Mariamnan adalah dewi Hindu yang populer dan dominan pada pedesaan Tamil Nadu dan daerah sekitar, yang dipuja sebagai Pidari atau Grama Devata yang biasanya dipimpin oleh para pendeta non-Brahmana. 

"Pemujaan terhadap-Nya dilakukan hingga sepuluh hari di minggu kedua April. Dewi Mariamman adalah dewi rakyat Tamil Nadu yang kemungkinan berasal dari masa pra-Weddha, yang pada pasca Weddha dikaitkan dengan dewi-dewi Hindu lainnya, seperi Dewi Parwati, Durga, Kali, beserta mitranya seperti dewi Shitala dan Manasa," terangnya.

Fokus pemujaan pada dewi ini, kata dia, mengkultuskan figur Dewi Ibu sebagai suatu indikasi religius untuk masyarakat yang memuliakan kewanitaan. 

"Dalam tradisi Hindu, Mariamman dikonsepsikan sebagai saudara perempuan Renganath, bentuk lain Dewa Wisnu. Versi lain menyatakan bahwa Dewi Mariamnan adalah ibu dari Parasurama, yaitu Dewi Renuka yang ditenangkan karena hujan," terangnya.

Ia menambahkan, pemujanya juga menggelar festival untuk Dewi Mariamman yang diadakan selama akhir musim panas atau di awal musim gugur. Ritual dalam festival ini dinamakan Aadi Thiruvizha.

"Ritual ini diselenggarakan  untuk mendapatkan hujan dan menyembuhkan sejumlah penyakit seperti kolera, cacar, dan cacar air," imbuhnya.

Baca juga: WHO: Pandemi COVID-19 Masih Jauh dari Usai | Asumsi

Upaya Mendekatkan Diri ke Sang Maha Pencipta

Selain Dewi Mariamman, ada juga Dewi Shitala. Namanya berasal dari kata "Sheetala" atau "Sitala" yang memiliki arti kesejukan. Sosok dewi rakyat ini dipuja masyarakat Negeri Bombay di India Utara, Benggala Barat, Nepal, Bangladesh maupun Pakistan. 

"Shitala merupakan inkarnasi dari Dewi Durga, penyembuh cacar, luka, huntu, pustula, maupun penyakit. Dalam mitologi agama Hindu dikisahkan, Durga menjelma jadi Katyayani untuk menghancurkan semua kekuatan jahat yang dikirim Kaalkeya," tutur Cahyono.

Di antara kekuatan jahat itu, lanjutnya, terdapat iblis bernama Jwarasur yang menyebarkan penyakit tak tersembuhkan seperti kolera, disentri, campak, maupun cacar. 

"Katyayani berhasil menyembuhkannya, membebaskan dunia dari penyakit. Katyayani mengambil wujud sebagai Shitala," kata dia.

Sosiolog dan pengajar vokasi sosiologi Universitas Indonesia Devie Rahmawati menilai cara warga Desa Juhi Shuklapur membangun kuil Dewi Corona adalah wujud kearifan lokal masyarakat setempat untk memahami pandemi COVID-19 sebagai sebuah fenomena di tengah masyarakat.

"Manusia sebagai makhluk yang unik tentu selalu mencari cara untuk memahami masalah yang hadir di tengah mereka. Pandemi ini kan, sesuatu baru yang terjadi di era modern. Tentu mereka mencari cara bagaimana memahaminya, akhirnya mengambil cara mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta," kata Devie saat dihubungi terpisah.

Baca juga: Studi Epidemiolog: Banyak Orang Tak Sadar Pernah Terinfeksi Covid-19| Asumsi

Dewi Corona Simbol Harapan dan Doa

Devie menyebut, kehadiran kuil ini bisa membuat masyarakat setempat merasa lebih dekat kepada Sang Maha Pencipta dan memberikan pemahaman bahwa pandemi COVID-19 ini adalah wabah yang harus disikapi secara serius, tentu sesuatu yang baik.

"Tentu ini baik kalau bisa membuat mereka jadi lebih religius, mendekatkan diri kepada Tuhan dan yang penting menyadari untuk selalu menjaga kesehatan dan mencegahnya lewat vaksinasi dan menaati protokol kesehatan," imbuhnya.

Ia menerangkan, setiap negara, komunitas atau kelompok masyarakat memiliki cara masing-masing untuk menjelaskan sebuah fenomena. Laiknya mencari jati diri, mendirikan kuil Dewi Corona adalah suatu hal yang disepakati warga desa sebagai sesuatu yang dianggap benar bagi nilai masyarakat.

"Nah, ini membantu mereka lebih cepat memahami apa sih yang harus dilakukan dalam menghadapi pandemi dan akhirnya berperilaku sesuai dengan yang diharapkan," ucapnya.

Sementara itu, soal wujud Dewi Corona yang dihadirkan dalam kuil, ia menilainya sebagai bentuk perwakilan perasaan dan harapan mereka agar wabah virus mematikan ini segera berakhir.

"Manusia ini kan, makhluk simbol dan ini yang membedakan kita dengan makhluk ciptaan yang lain. Manusia bisa menciptakan simbol-simbol yang mewakili perasaan atau harapan yang bisa menjadi perpanjangan diri dari doa-doa mereka. Maka, menurut saya, kearifan lokal seperti ini bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan," ujar Devie.

Share: Bangun Kuil Dewi Corona di Atas Tanah Sengketa, Memangnya Ada di Agama Hindu?