Isu Terkini

INTM Jadi Sorotan, Juri Harus Bijak Komentari Kontestan

OlehRay

featured image
Instagram @intm_net

Acara “Indonesia’s Next Top Model” (INTM) tengah ramai menjadi sorotan di jagad Twitter. Bahkan, menjadi salah satu bahasan teratas dalam trending topic lewat tagar #INTM sejak Senin (22/3) kemarin.

Penyebabnya, komentar dua orang jurinya yakni Deddy Corbuzier dan Luna Maya yang dianggap tidak sensitif saat salah satu peserta, yakni Ilene menceritakan penyakit mental yang dialaminya.

Ilene menceritakan bahwa ia pernah mengalami depresi. Namun Deddy malah menimpali bahwa ia heran mengapa orang yang cantik, tinggi, seperti Ilene memiliki masalah kesehatan mental.

“Depresi? Bentar-bentar, saya penasaran deh dengan teman-teman di sini, apalagi kamu Ilene. Kamu tuh cantik, kamu tuh model. Wah.... tinggi, seksi iya, pinter iya. Kalau kamu depresi, kamu tuh menghina tukang martabak yang jualan depan rumah saya,” kata Deddy.

Selain itu, Ilene juga bercerita bahwa dirinya pernah didiagnosa mengalami eating disorder yang membuatnya terganggu dalam mengatur pola makan.

“Jadi yang pertama, saya kayak mau makan terus yang kedua kayak enggak mau makan apa-apa, tapi ga sampai muntahin sesuatu,” kata Ilene dalam tayangan video.

Penuturan kontestan asal Bali ini pun kembali disikapi oleh Luna dan Deddy dengan canda. Tayangan video yang menayangkan kejadian itu beredar di Twitter dan menjadi perbincangan warganet.

“Saya suka banget makan kayaknya eating disorder kali ya?” sahut Luna Maya.

“Anda memang mentalnya, Bu,” balas Deddy sambil tertawa.

Masalah Kejiwaan dan Mental Bisa Dialami Siapa Saja

Viralnya tayangan video ini pun membuat Psikiater RS Siloam, Jiemi Ardian angkat bicara. Ia merespons pernyataan Deddy yang menyebut sosok seperti Ilene pernah mengalami depresi.

“Gangguan kejiwaan bisa menyerang siapa saja. Kaya-miskin, rupawan-biasa saja, religius-non religius, semua mungkin mengalami gangguan jiwa,” katanya melalui cuitan di akun @jiemiardian, Selasa (23/3).

Ia menyayangkan, seringkali orang yang mengalami gangguan jiwa disalahkan oleh orang lain atas kondisi yang dialaminya. Padahal, menurutnya banyak faktor yang menyebabkan seseorang tanpa melihat kondisi fisik luarnya, mengalami masalah kejiwaan atau kesehatan mental.

“Bisa karena coping terhadap stressor, trauma, depression, anxiety disorder, social isolation, child maltreatment, peer pressure dan sebagainya,” jelas dia.

Dengan demikian, ia menegaskan tidak bisa disederhanakan sekadar menyudutkan kesalahan personal orang yang mengalami masalah tersebut. 

Sementara, mengenai masalah eating disorder di Indonesia jarang yang menyadari bahwa ini merupakan gangguan jiwa. 

“Di poli saya jarang banget nemuin orang datang karena sadar dia mengalami eating disorder,” ucapnya.

Ia menyayangkan sikap orang yang merendahkan pengalaman penyintas masalah kejiwaan dan mental semacam ini. “Ini menyulitkan buat tenaga kesehatan edukasi soal eating disorder,” ungkap psikiater.

Eating Disorder Masalah Mental Serius

Psikolog Klinis dan Direktur Personal Growth, Counseling & Development Centre Jakarta, Ratih Ibrahim mengatakan eating disorder merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang menyebabkan kesejahteraan psikologis penderitanya terganggu. 

"Gangguannya mulai dari ringan sampai berat. Manifestasi perilakunya macam-macam,  misalnya Ilene ini sebagai model merasa harus kurus, makanya dia jadi punya eating disorder," kata Ratih kepada Asumsi.co melalui sambungan telepon, Selasa (23/3).

Ia menerangkan eating disorder dapat menyebabkan kecemasan hingga sikap gelisah berlebihan terhadap penderitanya. Ini tentunya masalah serius yang bila dibiarkan bisa merusak mental seseorang.

"Hal yang harus disadari kita semua, semua masalah mental health itu serius, bukan untuk bahan candaan, meski tujuannya untuk click bait atau drama sekalipun dalam sebuah acara televisi," ungkapnya. 

Ratih menambahkan, sikap Ilene yang mau berbagi soal masalah kesehatan mental yang diidapnya ini semestinya disikapi dengan empati, serta menunjukan sikap respek terhadapnya.

"Memang ada kontestan dalam acara televisi itu yang menjelaskan apa adanya karena ditanya. Dia bicara apa adanya itu justru baik ya, sharing information harus disikapi dengan goodrespect," imbuhnya.

Juri Diharapkan Lebih Peka

Selain dikenal sebagai psikolog, Ratih Ibrahim juga pernah menjadi juri dalam acara kontes kecantikan Puteri Indonesia, pemilihan model Wajah Femina dan majalah Cosmopolitan, hingga ajang pemilihan Abang-None Jakarta 2020. Ia menegaskan, sikap yang harus dijunjung para juri adalah sikap peka dan sensitif dalam mengomentari kontestan. Melontarkan komentar yang terkesan menyudutkan secara personal, tentu harus dihindari.

"Sebagai juri kita memang sangat wajib untuk menjunjung tinggi etika profesional, respect the story and other dan jangan jadikan candaan yang menyangkut personal si kontestan," terangnya.

Selaku juri, kata dia, memang diberikan hak untuk bicara apapun dalam memberikan penilaian dan pandangannya terhadap kontestan. Namun ia menyarankan, saat para juri mengetahui komentarnya sedang disorot kamera, tentunya harus menata ucapannya agar yang disampaikannya menunjukkan sikap yang memotivasi alih-alih merendahkan peserta.

"Saat on cam itu enggak boleh kita komentari fisik kontestan atau penampilan dia, apalagi masalah personalnya. Itu enggak sopan dan enggak etis. SIkap respect kita itu menunjukkan kelas pribadi kita juga kok. Ada banyak cara untuk menyampaikan pendapat, tanpa bersikap menyudutkan orang lain," pungkasnya.

Jiemi Ardian pun mengharapkan pihak NET TV selaku pihak yang menayangkan acara ini bisa lebih bijak lagi ke depannya, terutama membahas hal-hal yang sensitif.

Ia memaklumi dalam sebuah tayangan acara televisi ada yang memang sengaja dikonsep di dalam skrip. Namun, tentu yang disajikan ke hadapan publik seharusnya tidak memicu polemik.

“Kalau ini memang scripted, semoga @netmedia_info bisa memperbaiki ini ke depannya. Kalau enggak scripted, juga sebaiknya kita sama-sama belajar sensitif terhadap tema gangguan jiwa. Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa,” tuturnya.

Apa Kata KPI?

Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Mulyono Hadi Purnomo menilai potongan konten yang beredar di dunia maya dalam tayangan acara tersebut, sejauh ini tidak ada unsur yang pendeskriditkan orang dengan kondisi khusus.

“Dalam hal ini, peserta dan pihak-pihak yang mengalami problem itu. Justru bisa memberikan informasi kepada publik, khususnya yang memiliki kecenderungan seperti itu, sebagai gejala yg tidak baik,” jelasnya saat dihubungi Asumsi.co.

Sementara soal, kemungkinan KPI memberikan teguran terhadap NET TV atas ucapan para juri yang memicu sikap protes publik, Mulyo bakal mengkajinya bersama tim.

“Akan lebih baik, jika saya menonton secara utuh atas tayangan tersebut dan saya akan coba komunikasikan dengan tim pemantauan,” tandasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan sikap dari pihak NET TV soal masalah konten acara ajang pemilihan model Tanah Air yang diadaptasi dari program luar negeri, America’s Next Top Model ini.

Share: INTM Jadi Sorotan, Juri Harus Bijak Komentari Kontestan