Luar Jawa

Tiwah, Upacara Akhir yang Menyempurnakan Kematian

Irfan Muhammad– Asumsi.co

featured image
Youtube/Pariwisata Kotim

Perjalanan setelah kehidupan menjadi hal yang sakral dalam tatanan budaya mana pun. Itulah mengapa selalu ada prosesi yang mengiringi kepergian seseorang menuju alam sana. Bagi Suku Dayak yang memegang ajaran Kaharingan, prosesi ini mesti digenapi dengan sebuah ritual akhir bernama Tiwah.

Mengutip laman budaya-indonesia.org, Tiwah dilakukan untuk membuat roh orang yang meninggal dikembalikan kepada pangkuan leluhur dan Tuhan.

Suku Dayak menggambarkan perjalanan pengembalian roh dalam tiga proses. Pertama, pengembalian roh kepada orangtuanya. Zat atau roh dari ayah dikembalikan ke ayahnya, roh dari ibu dikembalikan kepada ibunya, sementara roh dari Tuhan kembali ke Tuhan, yang disebut roh Panyalumpuk atau Hambaruan.

Masyarakat Dayak Ngaju, khususnya di Desa Bangkal, percaya apabila mereka belum meniwahkan keluarganya, maka arwah orang yang meninggal akan tetap berada di bumi dan tidak bisa menuju ke surga.

Selain untuk meluruskan perjalanan sang mati menuju surga dan bersatu dengan nenek moyang serta Tuhan (Sangiang), tujuan lain dari Tiwah adalah menghindarkan keluarga yang ditinggalkan dari kesialan serta segala pengaruh buruk.

Dengan ritual akhir inilah, masyarakat Dayak percaya akan memberi ketenangan pada orang yang meninggal. Dalam pengertian masyarakat Dayak, orang yang mati akan hidup sempurna di surga: Lewu Tatau Dia Rumpang Tulang Rundung Raja Isen Dia Kamalesu Uhat.

Prosesi dan Makna Religi

Dalam "Ritual Tiwah Sandung Runi dan Tiwah Sandung Tulang" yang terbit di Jurnal Sosiologi Vol. II Edisi 2, Desember 2019, Ina Malania menjelaskan, ritual Tiwah biasanya digelar ketika seseorang meninggal. Jenazahnya akan dimasukan dalam Runi (peti mati). Runi itu kemudian dihantarkan menuju suatu rumah berukuran sedang atau kecil untuk disimpan. Rumah ini dinamakan sandung.

Sebelum runi diantar dan diletakkan ke Sandung, banyak sekali acara-acara ritual yang digelar, mulai dari tarian, suara gong, bukung danlainnya. Acara ini dikemas meriah layaknya sebuah pesta.

Lantaran prosesnya yang tidak sederhana, masyarakat Dayak mempersiapkan upacara Tiwah selama berbulan-bulan. Lama pelaksanaannya sendiri bervariasi, bisa tiga hari, tujuh hari atau bahkan satu bulan. Segala persiapan dan pelaksanaan Tiwah juga tentunya memerlukan biaya yang besar. Biayanya mencakup persyaratan-peryaratan dalam upacara ritual Tiwah, seperti menyediakan makanan, hewan kurban dan sesaji. Tak heran, besarnya gelaran Tiwah yang dilakukan sebuah keluarga, pada akhirnya menunjukkan strata sosial orang atau keluarga itu.

Dua jenis Tiwah

Secara umum Tiwah dibagi menjadi dua, yakni Tiwah Sandung Runi dan Tiwah Sandung Tulang. Tiwah Sandung Runi hanya memasukkan runi atau tulang belulang orang mati ke dalam sandung atau rumah yang memang diperuntukkan untuk menyimpan jenazah. Sementara Tiwah Sandung Tulang ditambah dengan prosesi membakar tulang belulang hingga menjadi abu dan tulang yang akan diambil lalu dimasukkan ke dalam botol kecil yang sudah disediakan.

Meski tak begitu banyak perbedaan, dua jenis Tiwah ini membutuhkan alat ritual yang berbeda. Untuk Tiwah Sandung Runi, upacara dilakukan di rumah duka dengan menyediakan rotan, bambu, daun kelapa, garantung, gandang kalenang, mandau, lunju, kain kuning, kain merah dan kain putih, serta kurban ayam, tiga belas ekor Babi, dan kerbau satu ekor.

Sementara Tiwah Sandung Tulang ditambah dengan sapundu, behas bahenda, katambung, dawen sawang, bahalai, laung, sipa dan ruku, sio atau manas, serta behas hambaruan. Untuk kurbannya, Tiwah Sandung Tulang memerlukan kurban babi, lima belas ekor ayam, dan satu ekor kerbau.

Setelah komplit syarat yang harus disiapkan, prosesi Tiwah dimulai oleh tiga sampai lima orang basir atau tokoh adat yang melaksanakan ritual. Di hari pertama, secara gotong royong masyarakat membuat bangunan berbentuk rumah yang disebut Balai Pangun Jandau. Dalam proses pembuatannya, terdapat syarat yang harus dipenuhi yakni kurban seekor babi yang disembelih oleh keluarga yang menggelar Tiwah.

Pada hari kedua, dilakukan prosesi pembuatan sangkaraya sandung rahung yang diletakkan di depan rumah keluarga yang menggelar Tiwah. Bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat menyimpan tulang belulang salumpuk liaw atau orang yang meninggal.

Selanjutnya, darah babi diambil sebagai syarat untuk melakukan mamalas sangkaraya sandung rahung. Selain itu, pada hari ini berbagai macam alat musik seperti gandang, garatung, kangkanung, katambung, toroi, dan tarai mulai dibunyikan. Sebelumnya, semua alat musik tersebut harus di-palas atau di-saki dengan darah hewan kurban terlebih duhulu.

Pada hari ketiga, basir melakukan prosesi ritual dengan mengelilingi sangkarya selama tiga kali. Kemudian dilanjutkan dengan mendirikan tenda di dekat sangkarya. Runi kemudian diturunkan dan dibawa ke tenda di dekat sangkarya itu. Basir melanjutkan prosesi dengan runi untuk kemudian membawanya ke sandung. Sementara keluarga yang ditinggalkan kembali ke kediamannya untuk melakukan prosesi mengorbankan hewan, seperti kerbau, ayam atau babi. Selanjutnya mereka membuat sangkarya di dalam rumah, dilanjutkan dengan proses bapalas dan memasangkan manas di tangan mereka. Prosesi itu sekaligus menandakan bahwa keluarga yang ditinggalkan sudah menyelesaikan ritual.

Pada hari keempat, tidak jauh dari Sangkaraya didirikan tiang panjang yang disebut Tihang Mandera. Tiang tersebut menjadi tanda bahwa kampung tersebut tertutup karena sedang berlangsung upacara Tiwah. Penduduk yang belum di-saki atau di-palas, dilarang masuk ke dalam kampung. Pada hari ini, ahli waris arwah atau salumpuk liaw mulai melaksanakan sejumlah pantangan.

Pada hari kelima, hewan-hewan yang akan dikurbankan diikat di sapundu. Para tamu yang hadir biasanya akan mengelilingi hewan kurban tersebut. Selain itu, pada hari ini sandung mulai dibangun. Ini dilanjut dengan prosesi hari keenam di mana para tamu akan hadir dengan menaiki rakit atau kapal yang berisi sesaji atau persembahan. Kapal tersebut dinamakan lanting laluhan atau kapal laluhan.

Lalu pada hari ketujuh yang merupakan hari terakhir pelaksanaan inti upacara Tiwah, arwah anggota keluarga atau salumpuk liaw akan melakukan perjalanan menuju Lewu Liaw atau nirwana. Proses ini diawali dengan proses pengurbanan hewan yang diikat di sapundu dengan cara ditombak. Selanjutnya, ada prosesi tarian kanjan. Terakhir, untuk Tiwah Sandung Runi, tulang belulang yang telah dibersihkan akan dibungkus menggunakan kain merah dan dimasukkan ke dalam sandung.

Dengan berakhirnya semua prosesi ini, seperti ditulis di bagian sebelumnya, keluarga berharap arwah keluarga yang meninggal akan tenang bersama leluhur. Tidak lagi mengganggu keluarga atau berkeliaran di lingkungan sekitar rumah, membuang segala sial, dijauhkan dari segala sakit-penyakit, marabahaya maupun segala sesuatu yang tidak diinginkan. Bagi pasangan yang ditinggalkan bertujuan untuk melepaskan ikatan status janda dan duda agar mereka sudah bisa memulai hidup baru dengan keluarga yang baru.

Share: Tiwah, Upacara Akhir yang Menyempurnakan Kematian