Sejarah

Bagaimana Sentimen Anti-Asia Terjadi di Amerika Serikat?

OlehIrfan Muhammad

featured image
Unsplash/Henry Be

Pembunuhan delapan orang di Atlanta, Amerika Serikat pada 16 Maret 2021 lalu yang menewaskan delapan orang termasuk enam perempuan Asia berbuntut panjang. Pasalnya pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pria kulit putih itu disinyalir dilatarbelakangi oleh kebencian rasial. Sejumlah solidaritas pun bergaung untuk membela korban dan hak hidup manusia.

Mengutip data dari Pusat Studi Kebencian dan Ekstremisme di California State University, San Bernardino, kejahatan kebencian anti-Asia pada kaum Asia-Amerika di Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir meningkat 150 persen.

Salah satu pemicunya diyakini adalah ocehan Donald Trump yang kerap menyebut pandemi covid-19 sebagai Chinese Virus.

Namun, kebencian pada ras Asia di negeri Paman Sam rupanya bukan hal baru. Mengutip lama 
theconversation.com, Profesor Sosiologi dan Studi Amerika dari Amherst College, Pawan Dhingra menilai kebencian atau setidaknya stigma negatif pada ras Asia di Amerika sudah terjadi lama.

Untuk perempuan Asia, prasangka ini juga ditambah dengan stigma negatif yang dihubungkan dengan seks. Dan ini sudah terjadi sejak 150 tahun, saat Kongres mengesahkan Page Act pada 1875 yang secara efektif melarang perempuan Asia, utamanya dari China untuk berimigrasi, dengan tudingan prostitusi.

Asumsi negatif pada perempuan Asia, utamanya China, menjadi beban sendiri bagi mereka yang hendak bermigrasi.

Kenyataan ini diperparah oleh Militer Amerika yang memperkuat citra perempuan Asia sebagai hiperseksual. Selama perang di Filipina pada awal abad ke-19, dan selama perang pertengahan abad ke-20 di Korea dan Vietnam, prajurit Amerika memanfaatkan wanita yang beralih ke pekerjaan seks sebagai tanggapan atas kehidupan mereka yang dirusak oleh perang.

"Pada 1960-an, pemerintah AS menengahi kesepakatan dengan Thailand untuk menjadi pusat "istirahat dan relaksasi" bagi personel militer yang bertempur di Vietnam. Hal itu memperkuat apa yang menjadi dasar industri pariwisata seks modern Thailand, yang menarik pria dari Amerika Serikat dan Eropa," kata Dhingra.

Dalam tayangan AJPlus, 20 Maret 2021, Profesor Studi Etnis dari UC Berkeley, Catherine Cezina Choy, asosiasi wanita Asia dengan fantasi seksual ini juga diperlihatkan dalam budaya populer. Dalam film "Full Metal Jacket" (1987) misalnya, ada adegan seorang perempuan Vietnam yang menggoda dua tentara AS dengan mengatakan "me so horny" dan "me love you long time".

Lebih kencang lagi, Party for Socialism and Liberation (PSL) Amerika juga menegaskan kalau serangan yang terjadi para orang Asia belakangan ini bukan hanya perilaku kebencian pada ras tertentu tetapi pada gender tertentu.

Melalui siaran pers yang diunggah 18 Maret 2021 lalu, hiper-militerisme dan kultur patriarki di AS melahirkan kebencian pada perempuan dan melahirkan sistem yang brutal.

Sejarah perang Amerika juga menorehkan jejak dosa panjang dengan menjadikan perempuan di negara koloni seperti Korea, China, Filipina, Vietnam dan lainnya sebagai budak seks dengan sebutan "comfort women".

Semakin Brutal

Kejahatan lain terhadap orang Asia-Amerika mungkin tidak memiliki bukti yang jelas tentang bias rasial. Namun beberapa tindak kekerasan yang terjadi disinyalir masih menggemakan stereotip anti-Asia Amerika.

Sebelum kasus Atlanta, banyak juga terjadi penyerangan yang menimpa lansia Asia-Amerika. Vicha Ratanapakdee, seorang lansia dari Thailand berusia 48 tahun misalnya, meninggal dalam satu insiden serupa pada bulan Februari di San Francisco.

Berdasarkan penelitian Dhingra, hampir semua orang Asia-Amerika, terutama pria lanjut usia, sering dipandang tidak agresif, lemah lembut, dan tidak mampu atau tidak mau melawan. Stereotip ini membuat mereka menjadi sasaran empuk.

Selain itu, ada sejarah panjang yang mencurigai orang Asia-Amerika sebagai pembawa penyakit ke Amerika. Ini menimbulkan kecurigaan utamanya saat kondisi Pandemi ini.

"Pernyataan publik berulang Presiden Donald Trump bahwa virus "Kung Flu" berasal dari China memperkuat perasaan itu," kata Dhingra.

Asumsi berbasis ras dan keliru ini telah mengakibatkan orang Asia-Amerika memiliki tingkat pengangguran tertinggi di negara Amerika, meskipun mereka termasuk yang terendah sebelum pandemi.

Data ini menunjukkan kalau sulit melepaskan kecurigaan rasial pada makin maraknya serangan terhadap warga Asia-Amerika di Amerika. Penelitian juga telah menemukan fakta bahwa kebanyakan orang Amerika menganggap orang keturunan Asia adalah kelahiran asing, kecuali ada beberapa aspek dari penampilan mereka yang dengan jelas menandai mereka sebagai orang Amerika, seperti kelebihan berat badan.

Semua jenis orang Asia-Amerika mengalami persepsi sebagai "forever foreigners". Terlepas dari yang terjadi belakangan ini, agak sulit melepaskan faktor sejarah yang menjadikan orang Asia utamanya perempuan Asia sebagai sasaran serangan. 

Share: Bagaimana Sentimen Anti-Asia Terjadi di Amerika Serikat?