Isu Terkini

Marsekal Hadi Mau Pensiun, Ini Kriteria Panglima TNI yang Mesti Dipilih Presiden

OlehRay

featured image
Foto: Puspen TNI


Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto segera memasuki masa pensiun pada tahun ini. Pada 8 November mendatang, Hadi akan memasuki usia ke-58 tahun. Itu menandakan dirinya harus mengakhiri jabatannya sebagai Panglima TNI. Lantas, siapa yang berpeluang besar menggantikannya?

Penggantian Panglima TNI Bisa Lebih Cepat

Hadi dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai Panglima TNI sejak 8 Desember 2017. Kini, ia telah memasuki tahun keempat menjabat sebagai pucuk pimpinan militer Republik Indonesia. 

Adapun batas usia prajurit TNI berdinas berdasarkan Peraturan Menteri Pertahanan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 Tentang Standarisasi Pemisahan dan Penyaluran Anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah 57 tahun.  

Desas-desus pergantian Panglima TNI kabarnya mulai ramai dibicarakan di DPR, apalagi kalau bukan soal sosok yang dianggap layak menjadi pengganti Panglima TNI. Wakil Ketua Komisi I Abdul Kharis Almasyhari menilai sah-sah saja jika isu pergantian Panglima TNI mulai jadi obrolan di kalangan anggotanya. 

Namun, ia menegaskan hal tersebut masih sekadar perbincangan ringan, belum menjadi diskusi serius. Sebab, hingga kini belum ada informasi resmi dari presiden soal siapa sosok yang bakal diajukan sebagai pengganti Hadi. 

"Ya silakan saja kalau cuma jadi obrolan mah. Cuma sampai sekarang belum ada informasi (penggantian Panglima TNI) ke DPR tuh, sampai hari ini," kata Abdul kepada Asumsi.co, melalui sambungan telepon, Selasa (15/6/21).

Ia tak mau memprediksi soal sosok yang berpeluang besar menggantikan Hadi sebagai Panglima TNI. Biasanya penggantian panglima TNI ditunjuk bergiliran berdasarkan matranya.

Hadi sebagai panglima TNI petahana, diketahui dari matra Angkatan Udara (AU). Maka, penggantinya bisa saja Kepala Staf Angkatan Laut (AL) Laksamana Yudo Margono atau Kepala Staf Angkatan Darat (AD) Jenderal TNI Andika Perkasa.

"Tergantung siapanya, ya, itu hak prerogratif presiden. Intinya, kalau surat dari presiden sudah dikirimkan kepada kami akan langsung dibahas siapa penggantinya," jelasnya.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini tak menutup kemungkinan jika penggantian panglima TNI bakal dilakukan Kepala Negara lebih cepat, satu bulan atau lebih sebelum bulan November.

"Jauh sebelum November dilakukan pergantian juga bisa-bisa saja. Kan kalau usia beliau juga saat ini 57 tahun. Tapi, intinya DPR akan bekerja setelah ada surat dari Presiden," tandasnya.

Baca juga: Di Udara, Panglima TNI Ungkapkan Skill Lain Tentara Selain Angkat Senjata | Asumsi

Jokowi Bakal Pilih Panglima TNI dari AU Lagi?

Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Kertopati angkat bicara soal kabar ini. Ia menyebut proses pergantian Panglima TNI sejak periode reformasi memang selalu menjadi topik yang menarik perhatian banyak kalangan. 

"Banyak pakar dan akademisi memberikan pandangan terkait perspektif dan ketentuan yang berlaku selama ini. Suksesi di tubuh TNI selalu menjadi diskursus yang hangat, mengingat TNI sebagai salah satu komponen penting yang banyak berperan penting dalam dinamika bangsa Indonesia," jelasnya saat dihubungi terpisah.

Mengenai figur yang menurutnya paling berpeluang menjadi pengganti Hadi memimpin militer negeri ini, menurutnya, baik Yudo, Andika, bahkan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo punya peluang yang sama. Ia menilai, Jokowi bisa saja kembali memilih panglima TNI dari matra AU. Sebab, panglima TNI merupakan jabatan politis yang keputusan finalnya berasal dari keinginan presiden.

"Menurut saya, KSAD, KSAL dan KSAU saat ini memiliki peluang yang sama untuk menjabat Panglima TNI. Meski harus bergantian, namun pada kenyataannya presiden yang menentukan siapa yang akan menjabat. Hak prerogatif presiden tersebut memang tidak dapat diintervensi oleh siapa pun," tuturnya.

Baca juga: Terungkap, Ini Dia Makanan Kesukaan Istri Panglima TNI! | Asumsi

Panglima TNI Harus Disegani Negara Lain

Wanita yang akrab disapa Nuning ini mengingatkan, ada 3 kriteria yang harus diperhatikan Presiden sebagai pertimbangan dalam pergantian pimpinan TNI.

"Pertama, usia dan prestasi kerja. Sangat penting untuk menentukan proyeksi masa jabatan Panglima TNI minimal 2 tahun ke depan untuk menjaga proses regenerasi," terangnya.

Jika hal itu tidak diperhatikan, katanya, maka berdasarkan yang terjadi sebelumnya, beberapa perwira yang cemerlang tidak sempat menjabat. Sebab, mereka terhalang seniornya yang belum pensiun. 

"Padahal untuk jabatan sestrategis Panglima TNI tidak harus menunggu usia pensiun. Apalagi jika dipertimbangkan prestasi kerja selama dinas," imbuhnya.

Ukuran prestasi kerja yang memang belum standar, lanjut dia, memang menyebabkan banyak spekulasi yang hanya berdasarkan rekam jejak pengalaman dinas.

"Kedua, pertimbangan kebutuhan organisasi TNI dalam kurun waktu ke depan sebagai bagian modernisasi Alutsista sehingga dibutuhkan kemampuan manajemen tempur dan diplomasi militer yang andal," ujarnya.

Terakhir, menurutnya, harus mempertimbangkan perkembangan lingkungan strategis pada tataran global dan regional. Ia berharap Jokowi bakal memilih figur Panglima TNI yang memiliki karakter yang disegani oleh negara lain, sehingga bisa mewakili wibawa bangsa Indonesia.

"Dibutuhkan sosok Panglima TNI yang memiliki dampak penangkalan bagi petinggi militer internasional. Penting sekali jika Panglima TNI disegani dunia internasional," kata dia.

Share: Marsekal Hadi Mau Pensiun, Ini Kriteria Panglima TNI yang Mesti Dipilih Presiden