General

Narasi Keilmuan Perguruan Tinggi di Media Sosial Kalah Dengan Isu "Receh"

OlehIrfan Muhammad

featured image
Unsplash/dole777

Narasi keilmuan dari universitas-universitas top Indonesia di media sosial dirasa masih kurang. Analisis ini berdasarkan pantauan Drone Emprit and Media Kernels Indonesia pada tiga akun Twitter universitas mentereng Indonesia, yakni ITB, UGM, dan UI sepanjang 1 Januari 2018 hingga 2 Mei 2021.

Lewat pemantauan ini, Drone Emprit ingin melihat bagaimana perguruan tinggi berinteraksi dengan civitas, alumni, industri, dan publik di media sosial.

Pendiri Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, melalui akun Twitter-nya menyebut kalau perguruan tinggi di Indonesia tak banyak terkait dengan narasi keilmuan. Ini dipantau melalui tagar yang dikaitkan dengan akun Twitter universitas-universitas yang dipantau.

Sebaliknya, banyak ditemukan tagar dari luar narasi keilmuan, khususnya terkait politik, yang memanfaatkan atau menarik ketiga perguruan tinggi tersebut.

Baca juga: Dimensi Politik Pengelolaan Riset di Indonesia Saat Ini | Asumsi

Untuk ITB di akun @itbofficial misalnya, tagar yang banyak beredar justru @TanyaFADJROEL, #HTIOrmasTerlarang, #01IndonesiaMaju, #TurunkanSuharto, dan lain-lain. Sementara untuk @UGMYogyakarta, banyak tagar protes dari mahasiswa seperti #ShameUGM, #UGMBohongLagi, #bukanPANUTanku, dan #UGMDaruratKekerasanSeksual.

Tak jauh berbeda, akun twitter UI di @univ_indonesia juga ramai dengan tagar #01IndonesiaMaju, #ILCHoaxBasmiUUTerorisme, #IndonesiaCallsObservers, #TangkapAdeArmando, dan #BasmiBuzzerRadikal.

"Sedikit sekali ditemukan tagar terkait keilmuan dari ketiga PT di Indonesia ini," kata Fahmi.

Ini berbeda dengan kondisi universitas-universitas top luar negeri, seperti di Amerika Serikat. Dari tiga universitas yang dipantau yakni Massachusetts Institute of Technology (@mit), Harvard University (@Harvard), dan Stanford University (@Standford), ditemukan kalau narasi keilmuan menjadi fokus yang juga populer.

Tagar-tagar berikut banyak kita temukan di antara tagar yang paling populer di MIT, Harvard, dan Stanford seperti #AI, #ArtificialIntelligence, #MachineLearning, #DeepLearning, #Negotiation, #STEM, #blockchain, #health, #datascience, #education, #neuroscience, #Covid19, dan lain-lain.

Peta jejaring sosial atau Social Network Analysis (SNA) di tiga perguruan tinggi di Amerika juga memperlihatkan besarnya irisan civitas, alumni, atau profesional yang aktif dan berkolaborasi di antara ketiga perguruan tinggi tersebut. Di antara mereka, banyak top influencers, khususnya dari civitas.

Ketiga perguruan tinggi tersebut membentuk klaster yang paling dominan sehingga menjadi sentral dalam diskursus, jejaring, dan sosialisasi narasi keilmuan, seperti diperlihatkan di tagar-tagar sebelumnya di media sosial.

Sedangkan untuk ketiga perguruan tinggi dari Indonesia ini, tampak ketiga akun saling berdekatan, dihubungkan oleh follower yang merupakan irisan ketiganya. Namun, selain klaster dari perguruan tinggi ini, terdapat juga dua klaster besar di luar mereka, yaitu Pro dan Kontra Pemerintah.

"Ukuran dua klaster di luar perguruan tinggi ini ternyata juga cukup besar, yang memperlihatkan cukup besarnya pengaruh mereka dalam percakapan terkait perguruan tinggi ini. Yang berarti pula, narasi topik di luar keilmuan yang jadi fokus PT juga akan besar," ucap dia.

Minimnya civitas ketiga perguruan tinggi Indonesia ini dalam jejaring media sosial, dan besarnya klaster Pro-Kontra di luar mereka menjadi jawaban kenapa tagar yang paling dominan dari ketiga perguruan tinggi bukanlah tagar terkait keilmuan yang menjadi bidang keunggulan mereka.

Baca juga: 9 Demonstran Hardiknas Jadi Tersangka, Kemunduran bagi Demokrasi? | Asumsi

Ini juga memperlihatkan kemungkinan tak terlalu banyaknya kerjasama antara perguruan tinggi dengan industri yang dirasa layak untuk diumumkan di media sosial oleh para CEOnya, seperti halnya di tiga perguruan tinggi di Amerika Serikat tadi.

BRIN vs Babi Ngepet

Fahmi juga menilai publik lebih suka membahas 'small talk' selama itu bersifat kontroversial daripada hal-hal keilmuan. Ini mengacu pada lebih ramainya isu babi ngepet diperbincangkan ketimbang isu Badan Riset dan Inovasi Nasional.

"Bagi publik, topik terkait riset dan inovasi tidak menarik bagi mereka. Meski ini sangat penting bagi kemajuan bangsa, tapi tampaknya minat dan pemikiran mereka belum sampai ke sana. Mereka lebih berminat dengan babi ngepet yang memperlihatkan kemunduran berpikir," kata dia.

Menurutnya, hal itu berbahaya karena ke depan publik akan mudah dialihkan perhatiannya dari hal-hal besar dan esensial bagi masa depan bangsa.

Sayangnya, di sisi lain, para akademisi seperti tidak berminat atau berani menyampaikan pemikirannya secara terbuka, membangun diskursus di kalangan cendikiawan dan publik tentang isu penting di media sosial. Dia menduga peneliti lebih aktif di lingkungan tertutup seperti WA group dan webinar.

"Semoga ini bukan tanda 'matinya kepakaran' di Indonesia. Kalau iya, yang rugi adalah seluruh bangsa ini," ujar Fahmi.

Share: Narasi Keilmuan Perguruan Tinggi di Media Sosial Kalah Dengan Isu "Receh"