Luar Jawa

Mencekik Calon Mempelai Pria, Ini Alasan Uang Panai Harus Besar dan Mewah

Desika Pemita– Asumsi.co

featured image
Instagram/@frameline

Budaya pernikahan pada tiap-tiap daerah selalu menjadi hal yang sangat menarik untuk dibahas. Baik dari segi latar belakang budaya pernikahan tersebut, maupun dari segi kompleksitas pernikahan itu sendiri, karena dalam pernikahan yang terjadi bukan hanya sekedar menyatukan dua orang yang saling mencintai.

Di Indonesia jadi lebih rumit, ada nilai-nilai yang tak lepas untuk dipertimbangkan dalam pernikahan seperti status sosial, ekonomi, dan nilai-nilai budaya dari masing-masing keluarga pria dan wanita. Dalam jurnal ilmiah yang dibuat Uang Panai Dan Status Sosial Perempuan Dalam Perspektif Budaya Pada Perkawinan Suku Bugis Makassar Sulawesi Selatan.

Uang panai selalu menjadi perbincangan. Terkadang pemberian uang panai ini juga ramai di media sosial. Saat calon pengantin memamerkan kemewahan uang panai. Bahkan, sampai ada yang mendapatkan uang panai mewah hingga Rp3 miliar, lengkap dengan mobil Alphard.

Uang panai ini adalah sejumlah uang yang diberikan oleh calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita yang akan digunakan untuk keperluan mengadakan pesta pernikahan dan belanja pernikahan lainnya. Uang panai ini tidak terhitung sebagai mahar penikahan melainkan sebagai uang adat namun terbilang wajib dengan jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak atau keluarga. Uang panai untuk menikahi wanita Bugis-Makassar terkenal tidak sedikit jumlahnya.

Tingkat strata sosial wanita serta tingkat pendidikannya biasanya menjadi standar dalam penentuan jumlah uang naik. Jadi, jika calon mempelai wanita adalah keturunan darah biru (keluarga kerajaan Gorontalo, Gowa atau Bone), maka uang naiknya akan berpuluh-puluh juta hingga miliaran. Begitupun jika tingkat pendidikan calon mempelai wanita adalah S1, S2, atau kedokteran, maka berlaku hal yang sama.

Ini Alasan Uang Panai Jadi Mahal

Dalam masyarakat BugisMakassar, salah satu nilai tradisi yang masih tetap menjadi pegangan sampai sekarang yang mencerminkan identititas (Soekanto. 2010. 38) serta watak orang Bugis-Makassar, yaitu siri na pacce berarti: Rasa Malu (harga diri), dipergunakan untuk membela kehormatan terhadap orang-orang yang mau menginjakinjak harga dirinya.

Sedangkan Pacce atau dalam bahasa Bugis disebut pesse yang berarti: pedih/pedas (keras, kokoh pendirian). Jadi Pacce berarti semacam kecerdasan emosional untuk turut merasakan kepedihan atau kesusahan individu lain dalam komunitas (solidaritas dan empati).

Pengambilan keputusan akan besarnya uang panai’ terkadang dipengaruhi oleh keputusan keluarga perempuan (saudara ayah ataupun saudara ibu), karena besarnya uang panai’ yang terkdang tidak mampu diberikan oleh calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai wanita membuat calon mempelai laki-laki melakukan tindakan diluar dari tradisi Bugis-Makasar yaitu silariang (kawin lari).

Ada pendapat yang mengatakan bahwa uang panai’ bukan lagi menjadi mahar melainkan candu dalam sebuah pernikahan. Uang panai’ kerap mencekik calon mempelai pria. Uang panai’ bukanlah mahar, kedudukannya sebagi uang adat yang terbilang wajib dengan jumlah yang disepakati oleh kedua pihak keluarga mempelai. Uang panai’ juga akan semakin berat ketika pihak mempelai wanita meminta Sompa/Sunrang (harta tidak bergerak seperti sawah atau kebun), erang- erang (aksesoris resepsi pernikahan). Dan belum lagi ketika meminta beras, sapi/kerbau, gula, terigu, dan kelengkapan lainnya.

Sejarah Uang Panai

Sejarah uang panai yang bermula dari seorang putri bangsawan Bugis yang begitu menarik sehingga pria asal Belanda jatuh hati kepada putri raja tersebut dan ingin menikahinya. Namun sang raja yang tidak ingin putrinya disentuh oleh laki-laki manapun, akhirnya memberikan syarat yang saat ini dikenal dengan uang panai.

Uang panai merupakan budaya yang telah berlangsung hingga saat ini, sehingga masyarakat menyakini bahwa uang panai merupakan budaya. Dari segi asal-usul uang panai sangat berbeda dan sangat jauh perbandingannya dari asalnya, yaitu bentuk penghargaan kepada perempuan.

Kini, berubah menjadi sebuah uang belanja, persiapan pernikahan yang disepakati sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan perlengkapan pernikahan.Sebagai seorang lelaki yang memandang hal ini sangatlah memberatkan jika lelaki tersebut dari keluarga kalangan menengah kebawah akan sangat sulit. Bahkan merasa terbebani dengan adanya uang panai.

Makna Asli Uang Panai

Uang panai merupakan bentuk penghargaan dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan yang begitu ia cintai dan rela melakukan segalanya termasuk syarat yang tidak menjadi berat bahkan menjadi beban.

Sebab laki-laki ikhlas berusaha keras dalam memenuhi peryaratan keluarga perempuan yang ia cintai. Jadi makna yang sebenarnya terkandung dalam uang panai sangat berharga, bahkan dapat dijadikan sebagai motivasi dalam mewujudkan keinginan dalam memperoleh apa yang diinginkan, apalagi hal ini berkaitan dengan calon pendamping hidup.

Seharusnya, uang bukan lagi sebagai beban yang menyebabkan berbagai permasalahan sosial, apalagi pernikahan. Makna sebenarnya yang terkandung dalam uang panai adalah bentuk penghargaan dan kerja keras seorang laki-laki. Memberikan pemahaman arti kerja keras dan bentuk penghormatan atau penghargaan jika ditinjau dari sudut pandang budaya.


Share: Mencekik Calon Mempelai Pria, Ini Alasan Uang Panai Harus Besar dan Mewah