Covid-19

Heboh Vaksin AstraZeneca, Efektif Lawan Covid-19 Tapi Dianggap Berbahaya

Desika Pemita– Asumsi.co

featured image
Freepik

Vaksin AstraZeneca telah tiba di Indonesia baru-baru ini. Vaksin ini rencananya akan diberikan ke masyarakat dalam vaksinasi nasional. Pemerintah Indonesia berencana memvaksinasi 40 juta-an pada akhir 2021.

Hal itu dilakukan sebagai cara ampuh untuk menekan angka Covid-19 di Indonesia. Akhirnya, selain Sinovac yang telah lebih dulu diberikan, kini ada AstraZeneca. Vaksin AstraZeneca disebut-sebut efektif dalam melawan virus corona dan varian baru.

Sayangnya, vaksin ini dianggap berbahaya. Salah satunya, menyebabkan pembekuan darah bagi peserta vaksin saat uji coba. Negara-negara di Eropa, seperti Inggris hingga Italia menunda penggunaan vaksin buatan Universitas Oxford. Indonesia menunda pemberian vaksin AstraZeneca. 

Penjelasan Satgas Covid-19

Indonesia akhirnya mengambil sikap dengan merebaknya kabar vaksin AstraZeneca. Dalam keterangan pers yang dilakukan Satgas Penanganan Covid-19 (Satgas Covid-19) di Gedung BNPB, Jakarta, menjelaskan terkait penundaan distribusi vaksin AstraZaneca oleh Kementerian Kesehatan.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menegaskan penundaan ini sifatnya sementara. Pemerintah mengedepankan azas kehati-hatian.

"Meski demikian agar menjadi catatan, alasan penundaan bukan semata-mata adanya temuan pembekuan darah oleh beberapa negara. Melainkan karena pemerintah ingin lebih memastikan keamanan dan ketepatan kriteria penerima vaksin AstraZaneca," ujar Wiku saat menjawab pertanyaan media dalam agenda keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Graha BNPB, Jakarta, 16 Maret 2021.

Saat ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM), Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan para ahli sedang melihat kembali, apakah kriteria penerima vaksin AsteaZaneca akan sama dengan kriteria vaksin Sinovac dan Biofarma.

Selain itu, penundaan ini juga untuk memastikan terkait quality control. Dan secara paralel, Badan POM melihat rentang waktu penyuntikan AstraZaneca, mengingat sebelumnya World Health Organization (WHO) menyatakan rentang waktu penyuntikan dosis kedua AsteaZaneca antara 9 hingga12 Minggu dari dosis pertama.

Nantinya setelah ada rekomendasi terkait vaksin AsteaZaneca, maka akan ditentukan kelompok mana yang akan diprioritaskan menerima vaksin tersebut. 

"Hasil dari evaluasi keamanan serta penentuan kriteria vaksin AsteZaneca, selanjutnya akan diinformasikan oleh Kementerian Kesehatan dan Badan POM," pungkasnya.

Penjelasan Universitas Oxford

Universitas Oxford sebagai pembuat vaksin angkat bicara. Profesor Andrew Pollard, kepala kelompok Universitas Oxford yang mengembangkan vaksin AstraZeneca, mengatakan sekitar 3.000 kasus pembekuan darah terjadi setiap bulan di Inggris karena penyebab lain.

“Jadi, ketika Anda menempatkan vaksin, terjadi penggumpalan darah. Namun Anda harus mencoba dan memisahkan apakah semuanya terkait dengan vaksin atau tidak. Itu harus diselidiki lebih lanjut,” katanya diwartakan Financial News.

Mark Toshner, dosen di University of Cambridge dan seorang dokter emboli paru, mencatat bahwa MHRA, EMA dan Organisasi Kesehatan Dunia tidak melihat tanda-tanda peningkatan risiko pembekuan darah di lebih dari 17 juta dosis yang didistribusikan di seluruh Uni Eropa. Menurutnya, isu ini terlalu dibesar-besarkab.

“Menutup program untuk beberapa kasus adalah tidak logis, memperlambat penilaian keselamatan, merusak kepercayaan dan membahayakan nyawa,” kata Toshner di Twitter. “Jika Anda menginginkan pedoman tentang cara menyebarkan kekhawatiran yang tidak perlu, cara ini sungguh berhasil. Kini, banyak orang menjadi ketakutan berlebihan.”

Jenis Vaksin Adenovirus

Vaksin AstraZaneca masuk dalam jenis adenovirus. Proses pembuatannya, mengambil virus yang biasanya mengninfeksi simpanse kemudian dimodifikasi secara genetik. Hal itu dilakukan untuk menghindari kemungkinan konsekuensi penyakit pada manusia. Bukan vaksin Covid-19 saja, jenis vaksin vektor adenovirus telah dikembangkan sejak lama dalam melawan pandemi atau penyakit. Misalnya, untuk malaria, HIV, dan Ebola.

AstraZeneca yang dimodifikasi membawa sebagian dari Covid-19 yang disebut protein spike. Saat vaksin dikirim ke sel manusia, ini memicu respons kekebalan terhadap protein spike. Kemudian, menghasilkan antibodi dan sel memori. Vaksin ini mampu mengenali virus penyebab Covid-19.

Share: Heboh Vaksin AstraZeneca, Efektif Lawan Covid-19 Tapi Dianggap Berbahaya