Isu Terkini

Krisis Myanmar, Sekolah Indonesia di Yangon Jadi Shelter WNI

OlehVidyandini Agivonia

featured image
Aungsansuukyi/Facebook

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yangon telah mengambil beberapa langkah untuk memastikan keamanan warga negara Indonesia (WNI) dari situasi krisis di Myanmar. Salah satunya adalah menempatkan WNI di Sekolah Indonesia yang terletak di Yangon sebagai shelter sementara.

“KBRI Yangon telah menyiapkan Sekolah Indonesia di Yangon sebagai lokasi shelter sementara bagi WNI," kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu, Judha Nugraha, Selasa (16/3).

Dalam hal ini, KBRI telah sampaikan imbauan agar WNI tetap tenang dan berdiam diri di kediaman masing-masing, menghindari bepergian, termasuk ke tempat kerja jika tidak ada keperluan sangat mendesak.

Sementara bagi WNI beserta keluarganya yang tidak memiliki keperluan yang esensial, dapat mempertimbangkan untuk kembali ke Indonesia dengan memanfaatkan penerbangan komersial yang saat ini tersedia. Penerbangan yang disediakan adalah Singapore Airlaines dan Myanmar Airlaines. Tercatat 50 WNI yang telah pulang menggunakan penerbangan khusus tersebut. Dari data Februari 2021 lalu, ada 441 WNI menetap Myanmar.

Namun, pihak Kemlu dan KBRI Yangon memandang saat ini belum mendesak untuk melakukan evakuasi WNI. Pihak KBRI telah menyampaikan imbauan agar WNI tetap tenang dan berdiam diri di kediaman masing-masing, menghindari bepergian, termasuk ke tempat kerja jika tidak ada keperluan sangat mendesak. Selain itu pihak Kemlu dan KBRI Yangon telah menyediakan hotline. Hotline KBRI Yangon:  +95 9 503 7055 dan Hotline Pelindungan WNI Kemlu: +62 812-9007-0027.

Untuk diketahui, konflik kudeta di Myanmar telah berlangsung sejak Februari lalu. Dilansir dari Reuters, sebanyak 183 korban telah terbunuh oleh pasukan keamanan dalam beberapa pekan. Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) menyebutkan 74 orang tewas akibat demonstrasi di sebuah kawasan pabrik, di distrik Hlaingthaya, Yangon.

Situasi dan kondisi di Myanmar saat ini sedang memanas karena terjadi aksi kudeta oleh militer. Akibatnya, banyak korban berjatuhan karena melakukan aksi protes terhadap hal tersebut. Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi pun saat ini tengah ditahan oleh pihak militer Myanmar yang menuduh Komisi Pemilihan Umum Myanmar (UEC) gagal menangani ketidakberesan besar dalam pemilu Myanmar yang digelar pada November 2020 lalu.

Share: Krisis Myanmar, Sekolah Indonesia di Yangon Jadi Shelter WNI