Isu Terkini

Bikin Parno, Seberapa Bahaya Mutasi Virus Corona Bagi Penyintas?

OlehRay Muhammad

featured image

Foto: Unsplash

Pasca ditemukannya dua kasus mutasi virus SARS-CoV-2 B117 di Indonesia, sontak memicu kekhawatiran masyarakat. Pasalnya, varian baru virus ini dikabarkan lebih menular dan berbahaya daripada sebelumnya.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengungkapkan, salah satu temuan kasus varian baru Covid-19 ada di Kabupaten Karawang berdasarkan laporan tim satuan tugas di daerahnya.

Para penyintas Covid-19 pun mengaku khawatir dengan kehadiran mutasi virus Corona ini. Mereka merasa ngeri jika virus mutasi yang awalnya dikabarkan muncul di Inggris ini kembali membuat mereka terjangkit penyakit mematikan ini.

Bikin paranoid penyintas

Ana, salah satu penyintas Covid-19 merasa khawatir usai mendengar kabar soal masuknya mutasi baru virus tersebut di Indonesia pada 2 Maret lalu. Bahkan, ia mengaku langsung merasa paranoid.

Bagaimana tidak, warga asal Senen, Jakarta Pusat ini masih ingat betul betapa menderitanya saat terinveksi Covid-19 dua bulan lalu. Kala itu, ia merasakan demam luar biasa, sesak napas, pusing tak tertahankan hingga linu di sekujur tubuh.

"Semua itu saya rasakan seminggu sebelum dinyatakan positif kena Covid, tanggal 18 Januari 2021. Saya baru tahu positif itu pas tetangga dinyatakan positif tanggal 15 Januari, kemudian swab dan ternyata kena juga," katanya kepada Asumsi.co, Kamis (4/3/21).

Menurutnya, tetangga yang tinggal berdekatan dengan rumahnya itulah yang menularkan virus kepadanya. Pasalnya, ia merasa selama ini patuh pada protokol kesehatan. Namun, interksi dengan tetangganya inilah yang tak terhindari.

"Saya taat banget prokes sudah kayak orang parno. Pas tahu kena, pastinya shock dan langsung terpikir takut mati gegara Corona," ungkapnya.

Oleh sebab itu, kabar adanya mutasi virus Corona ini diakuinya cukup membuat stres. Ana tak mau lagi diisolasi jauh dari keluarga, merasakan sesak napas yang menyakitkan hingga kehilangan indera penciumannya.

"Saya kemarin ini diisolasi di Wisma Atlet selama 13 hari. Mulai tanggal 18 Januari, sampai 30 Januari 2021. Khawatir dan parno banget jadinya," kata dia.

Penyintas Covid-19 lainnya, Toto juga mengaku merasa paranoid usai mendengar kabar ini. Mutasi Corona ini membuatnya bertanya-tanya soal kemungkinan penyintas seperti dirinya justru lebih rentan terjangkit virus B117 ini.

"Kabar mutasi memang sangat mengkhawatirkan. Takut sendiri karena masih ingat betul, saya kena Covid rasanya kayak lagi pertarungan antara hidup dan mati," tuturnya.

Pria yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) ini sampai berkali-kali mengungkapkan kegelisahannya kepada teman-temannya yang berpofesi sebagai dokter, soal ketakutannya mutasi Covid-19 ini berpotensi menjadi pandemi baru.

"Saya hanya diingatkan oleh mereka untuk tetap menjaga prokes jangan sampe reinfeksi. Soalnya, teman saya ada yang mengalami reinfeksi. Jadi, sebisa mungkin tetap menjaga makanan, pola hidup sehat, taat protokol kesehatan anjuran pemerintah," jelas Toto.

Penyintas Covid-19 tak perlu cemas

Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, penyintas Covid-19 tak perlu merasa cemas berlebihan menyikapi kehadiran mutasi Corona ini.

Ia mengatakan, varian virus ini menyerang pada gen penularan dan bereaksi cepat kepada orang yang belum pernah terinveksi Corona. Sementara, bagi penyintas kecil kemungkinan untuk cepat tertular virus B117.

"Penyintas ini kan, sudah terbentuk antibodi. Menurut saya tenang saja, tidak perlu panik berlebihan," ucap Yunis kepada Asumsi.co.

Namun, para penyintas tetap harus waspada dan jangan sampai lengah. Bukan berarti potensi terinveksi serta merta tidak ada. Taat protokol kesehatan 3M, yaitu mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kerumunan harus selalu disiplin.

"Menjaga imun itu juga yang paling penting. Makanya jangan parno. Menurut saya, pemerintah juga seharusnya melakukan case investigation dengan respon cepat. Jangan sampai telat seperti awal kasus Corona di Indonesia," ujarnya.

Yunis menyarankan, pemerintah Indonesia harus belajar dari negara tetangga, yaitu Malaysia dan Singapura yang berhasil menanganinya, dengan tidak ada lagi pasien yang terjangkit varian virus serupa.

"Singapura dan Malaysia, setelah masuk varian ini, tidak ada penularan karena mereka berhasil mengisolasinya dengan baik. Malu lah, kalau kita tidak bisa," tandasnya.

Share: Bikin Parno, Seberapa Bahaya Mutasi Virus Corona Bagi Penyintas?