Isu Terkini

Indonesia dalam Peta Bisnis Persaingan Layanan Pesan-Antar Makanan di Asia Tenggara

OlehRidwan Achmad

featured

Foto: Istimewa

Bisnis layanan pesan-antar makanan kini tengah populer di masyarakat, apalagi di masa pandemi seperti ini. Tak hanya di Indonesia saja, melainkan di negara-negara lain. Perlu diketahui, bisnis layanan pesan-antar makanan ini seperti GoFood dan GrabFood.

Momentum Works – perusahaan venture building asal Singapura - dalam studinya yang berjudul ‘Food Delivery Platforms in Southeast Asia’ yang dirilis pada awal 2021 mencatat bahwa Gross Merchandise Volume (GMV) pasar pesan-antar makanan di Asia Tenggara mencapai US$ 11,9 miliar.

GrabFood merupakan pemain paling unggul dengan pangsa pasar US$5,9 miliar atau setara dengan Rp 83 triliun di tahun 2020. Pangsa pasar Grab ini mencapai dua kali lipat dari kompetitor terdekatnya yakni Foodpanda yang memperoleh GMV sebesar US$2,5 miliar atau Rp 35 triliun. Kemudian disusul GoFood dengan perolehan US$ 2 miliar atau sekitar Rp 28 triliun.

“Secara total dari GMV US$11,9 miliar, ada kenaikan 183 persen dibandingkan tahun 2019 yang GMV-nya mencapai US$4,2 miliar,” ujar Jianggan Li, Chief Executive Officer, Momentum Works.

Menurut Li, peningkatan GMV yang mencapai dua kali lipat ini disebabkan pandemi Covid-19. Banyak restoran yang beralih menawarkan layanan antar-pesan makanan sebagai solusi. Li pun menyebutkan terjadi lonjakan 2 sampai 2,5 kali lipat unduhan aplikasi layanan antar-pesan makanan di Singapura dan Thailand pada Maret dan April 2020.

Selain itu, faktor penetrasi pertumbuhan smartphone yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Berdasarkan riset tersebut, dari enam negara kunci pertumbuhan di Asia Tenggara, setidaknya 60 persen dari sektor rumah tangga memiliki satu smartphone.

“Masih banyak ruang untuk layanan antar-pesan makanan untuk tumbuh di wilayah tersebut,” jelasnya.

Kondisi Pasar Indonesia

Lantas, bagaimana dengan di Indonesia? Momentum Works mencatat bisnis layanan makanan di Indonesia mencapai US$ 61 miliar pada 2019. Negara ini mencatat, terjadi pertumbuhan sebesar 7,4 kali dengan konsumsi layanan makanan mencapai US$ 230 per kapita.

“Di Asia Tenggara, Indonesia memiliki pasar layanan pesan-antar makanan terbesar,” ujar Yorlin Ng, Chief Operating Officer Momentum Works.

Menurut dia, setelah Indonesia, negara terbesar kedua adalah Thailand senilai US$ 2,8 miliar.  Disusul Singapura (US$ 2,4 miliar), Filipina (US$ 1,2 miliar), Malaysia (US$ 1,1 miliar), dan Vietnam (US$ 0,7 miliar).

Perkasanya Indonesia di sektor regional disebabkan faktor utama populasi yang mencapai 217 juta jiwa, populasi terbesar di Asia Tenggara. Meski unggul, studi Momentum Works itu juga menyebutkan, layanan pesan-antar makanan di Indonesia masih rendah, karena kontribusinya baru satu persen terhadap total pasar jasa makanan nasional yang mencapai US$ 61 miliar pada 2019 silam.

Di Indonesia, pasar ini hanya dikuasai dua platform besar, yakni Grab dan Gojek, masing-masing dengan pangsa pasar 53 persen dan 47 persen.

“Kami optimistis terhadap prospek layanan pesan-antar makanan di Indonesia, meski kemungkinan memakan waktu beberapa tahun sebelum sektor ini dapat diadopsi secara massal. Pemain layanan pesan-antar makanan harus memiliki strategi jangka panjang agar dapat memanfaatkan peluang di pasar yang sangat besar ini secara optimal,” kata Li.

Share: Indonesia dalam Peta Bisnis Persaingan Layanan Pesan-Antar Makanan di Asia Tenggara