Isu Terkini

Jago Tanah Abang: Jawara yang Mencoba Bertahan di Kampung Sendiri

Ramadhan– Asumsi.co

featured image

Pasar Tanah Abang menjadi titik balik perkembangan kawasan yang terdapat segudang jawara. Pasar Tanah Abang punya predikat sebagai pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara. Namun, bagi orang-orang Betawi, keberadaan kawasan tersebut bertautan erat dengan keberadaan para jagoan silat alias jawara.

Bagi mereka, Pasar Tanah Abang adalah kampung halaman. Di kampung halaman, manusia merumuskan dirinya. Di kampung halaman pula, mereka ingin memelihara apa-apa yang berharga bagi mereka.

Sebagai pasar yang tak pernah sepi, para jago menilai Pasar Tanah Abang adalah lahan basah untuk mencari nafkah. Sepanjang sejarahnya, Tanah Abang memiliki segudang jagoan, salah satu yang paling legendaris adalah Sabeni.

“Jadi, jago Sabeni bukan bulanan, die suka ngasi ilmu dan pelajaran, bukan tukang bunuh atau jago bayaran, tapi terkenal die punye kesabaran.”

“Kalu ade Sayuti Jago Cengkareng. Eh... ade lagi Sabeni Jago Tenabang. Muridnya banyak, die dikenal orang. Nggak Perne die bikin sale duluan.”

Begitulah penggalan lirik lagu berjudul “Riwayat Maen Pukulan Sabeni”, yang khusus diciptakan oleh M. Ali Sabeni untuk mengenang sosok ayahnya yang penyabar, suka menolong rakyat kecil, dan tentu saja ksatria.

Lalu, apa kabar para jago Tanah Abang hari-hari ini? Di Asumsi Distrik episode Tanah Abang, kami berjumpa dengan berbagai pihak, mulai dari Haji Lulung, hingga para anggota Pecinta Seni Beladiri Silat Betawi Aliran Rahmat "Naga Ngerem" Tanah Abang. Mereka bertahan di tengah derasnya kemajuan zaman. Apa kata mereka?

Bagaimana keberadaan Jago Tanah Abang saat ini?

Kue di Tanah Abang banyak ya, Bang? Banyak. Tapi pesilat minta? Nggak pernah. Makanya, dari luar nih, Bang.

Bukan orang Tanah Abang. Lo [waktu] Tanah Abang kacau, lo di mana? Nongol juga nggak, bantuin juga kagak, boro-boro berbuat. Begitu udah aman, dia berebut kue. Kan kurang ajar.

Sementara itu, Rony Adi, Ketua Silaturahim Kumpul Bareng Anak Tanah Abang (Sikumbang), menjelaskan soal sejarah Sikumbang yang berdiri pada 9 April 2011 di Masjid Jami Al Makmur, Tanah Abang. Rony menjelaskan soal perbedaan dan betapa besarnya toleransi di Tanah Abang.

Boleh diceritakan soal kilas balik mengenai mendirikan Si Kumbang ini?

Itu didirikan pada saat itu dari 10 perguruan silat yang ada di Tanah Abang. Dari tokoh-tokoh masyarakat, sampai tokoh pemuda, sampai yang junior hadir.

Dengan misi menyatukan pandangan, persepsi dari generasi tua dan generasi muda, juga segala macam aliran yang ada di Tanah Abang, main pukulan.

Dan yang menarik itu, ketika Si Kumbang didirikan sampai sekarang, taglinenya bukan silat justru. Mengutamakan ukhuwah islamiyah. Itu yang mahal sebenernya.

Jadi bukan yang diutamakan main pukulannya. Jadi kita ke mana-mana dengan silaturahmi. Jadinya semua jadi saudara. Yang tadinya mungkin, "Wah, mau ngetes, nih." Kita masuk, silaturahmi, udah. Nggak ada hambatan komunikasi, lah.

Soal perbedaan ini menarik, apa rahasianya kok bisa memadukan perbedaan ini dalam satu wadah?

Kalau pengalaman saya sebagai ketua Si Kumbang, sih, yang pertama transparansi. Karena biasanya kalau udah urusan pengelolaan uang, atau pemasukan dan pengeluaran yang nggak transparan, jadi banyak fitnah.

Terus yang kedua, karena ini didirikan oleh perguruan silat, kan ada ketua-ketua perguruannya tuh. Nah, di situlah, pemilik hak suaranya tuh ketua perguruan silat. Saya sebagai ketua hanya mengelola dari sisi manajemennya aja sebenernya.

Berarti kalau kita liat dari segi historis, bisa dibilang masyarakat Betawi Tanah Abang ini sangat terbuka, ya?

Kalau kita bicara di Tanah Abang, sebenernya kita liat dari aliran silatnya aja deh. Mainan Tong Rahmat itu ada pengaruh Cina juga. Mainan Tong Sabeni ada pengaruh Cina juga.

Mainan Sendeng atau orang banyak bilang Tanah Abang Sinding, itu pengaruh Makassar. Di sini juga ada Tepekong, kalau kita bilang. Di deket Pasar Tanah Abang, tuh.

Itu ada juga. Kan salah satu yang ikon juga di Tanah Abang. Jadi itu sesuatu hal yang katakanlah kalau namanya pluralisme, toleransi, ya Tanah Abang ini pusatnya.

Jadi kan udah terbiasa kayak gitu, ya memang kita terima dan tampung aja. Tapi, jangan macem-macem di Tanah Abang.

Cara masyarakat Betawi Tanah Abang bertahan dari gentrifikasi tuh gimana ya? Apakah ada strategi kulturalnya?

Kalau dari masyarakat Tanah Abang sendiri, kebanyakan kan awalnya pedagang ya. Jadi banyakan yang berkecimpung di Pasar Tanah Abang.

Dan kebanyakan pesilat juga. Jago-jago pesilat. Cuma jangan mentang-mentang jago pesilat, jadi kampung security.

Pengennya ada sesuatu yang lebih berkembang lagi dari anak Tanah Abang. Sebenernya kalau kita mau bicara pembangunan berbasis local wisdom, ekonomi kreatif itu kan ada juga ekonomi kreatif berbasis budaya seni pertunjukan.

Harusnya pemerintah juga melihat ini. Contoh, misalkan Tanah Abang ini kuatnya di kuliner Betawi, olahan kambing, dan silat. Kenapa nggak dibuat Tanah Abang sebagai salah satu icon dari destinasi wisata yang berbasis seni kuliner Betawi sama silat?

Kan harusnya tiap kota ada city branding, ya. Misalnya di Rawa Belong. Dia banyakan kembang di sana.Kenapa nggak kita bikin kayak di Tomohon, tiap tahun dia bikin festival kembang internasional.Condet, di sana masih ada salak dan lain-lain.

Nah itu yang berbasis lingkungan hidup, tuh. Cuma kan melihatnya Tanah Abang tuh pasar doang, otaknya. Melek mata, pasar. Tapi, supaya ada positioning, ada perbedaan Pasar Tanah Abang dengan yang lain, kan harusnya berbasis local wisdom.

Mau tahu lebih lanjut kisah para Jato Tanah Abang warga-warga lain di Tanah Abang? Yuk langsung tonton Asumsi Distrik episode Tanah Abang di channel YouTube Asumsi, hari ini, Selasa (26/1/21).

Share: Jago Tanah Abang: Jawara yang Mencoba Bertahan di Kampung Sendiri