Isu Terkini

Dirjen WHO: Dunia Dilanda Krisis Moral Akibat Perebutan Vaksin

OlehMM Ridho

featured image

Foto: Wikimedia Commons

WHO menyinggung bahwa dunia sedang menghadapi krisis moral pada Senin (18/1). Kekecewaan ini disampaikan terkait pendistribusian vaksin COVID-19 yang diborong negara-negara kaya dan mendesaknya beserta produsen untuk menyebarkan dosis secara lebih adil ke seluruh dunia.

Skema pendistribusian vaksin global COVAX, mengatakan pihaknya sedang bersiap untuk meluncurkan dosis pertamanya pada bulan Februari, tetapi harus bersaing dengan negara-negara yang melakukan kesepakatan sendiri dengan produsen untuk mengamankan pasokan vaksin yang terbatas.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan proyeksi pemerataan distribusi di ambang "risiko serius". Menurutnya, pendekatan “kami lebih dulu" seperti itu membuat negara-negara termiskin dan paling rentan di dunia dalam risiko.

"Ini dapat menunda pendistribusian COVAX dan menciptakan skenario yang sebenarnya dihindari COVAX, yaitu penimbunan, pasar yang kacau, sebuah respons yang tidak terkoordinasi serta gangguan sosial dan ekonomi berkelanjutan," katanya pada pembukaan pertemuan virtual Dewan Eksekutif tahunan WHO.

“Pada akhirnya tindakan ini hanya akan memperpanjang pandemi,” tegasnya.

Tedros juga mengkritik beberapa produsen karena memprioritaskan vaksin mereka dibeli negara-negara kaya, yang memungkinkan mereka dapat memperoleh keuntungan lebih besar, ketimbang mengirimkan data peraturan ke WHO untuk mempercepat proses persetujuan vaksin untuk dimasukkan ke dalam skema COVAX.

Selain itu, ia juga mendesak negara-negara untuk menghindari kesalahan yang sama yang terjadi selama pandemi H1N1 dan HIV. Ia mengungkapkan lebih dari 39 juta dosis vaksin virus corona telah diberikan kepada 49 negara berpenghasilan tinggi, sedangkan hanya 25 dosis yang diberikan untuk satu negara miskin.

Sejauh ini Israel, Bahrain, dan Uni Emirat Arab adalah negara yang telah memberikan dosis per kapita terbanyak. Di Israel misalnya, setidaknya satu dari empat orang telah menerima dosis vaksin Pfizer-BioNTech.

Seorang delegasi dari Burkina Faso, atas nama kelompok Afrika, menyatakan keprihatinan pada pertemuan tersebut bahwa beberapa negara telah mengambil sebagian besar persediaan vaksin COVID-19.

Uni Afrika pekan lalu mengumumkan telah mengamankan 270 juta dosis untuk benua itu dalam kesepakatan lain, sebuah tanda bahwa negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah sedang berupaya untuk bersaing dengan negara-negara kaya untuk mengamankan pasokan vaksin mereka sendiri.

Di tengah kekhawatiran produsen akan berusaha memprioritaskan kontrak pembelian dengan negara-negara kaya, COVAX mengatakan telah mendapatkan setidaknya 2 miliar dosis vaksin untuk tahun 2021, meskipun belum memberikan rincian kapan akan menerimanya.

Pusat Inovasi Kesehatan Global Universitas Duke memperkirakan jumlah vaksin tidak akan cukup untuk mencakup populasi dunia hingga setidaknya tahun 2023.

Share: Dirjen WHO: Dunia Dilanda Krisis Moral Akibat Perebutan Vaksin