Isu Terkini

Richo Pramono: Saya Negatif, tapi Anak Positif

OlehPermata Adinda

featured image

Ilustrasi: Ibam/Asumsi.co

"Baru nyenyak, pintu kamar terbuka keras. 'Gimana hasil kamu? Aku positif!' kata istri. Jam baru menunjukkan pukul 3 pagi ... Istri dan ibu gabung 1 email. Ibu mertua negatif. Anak ikut email saya. Dan saya negatif tapi anak positif. Hancur betul hati saya. Kacau balau rasanya," kata Richo Pramono, Chief Business Development Officer Asumsi, dalam utasnya di Twitter.

Maka, Richo mesti berpisah dari istri dan anak perempuannya. Anak itu baru berusia dua tahun dan belum lancar bicara. Kini dia dikarantina di rumah sakit darurat Wisma Atlet.

“Kami, orang tua, kesulitan untuk mengerti apa yang anak rasakan. Perlu banyak deteksi dari gestur tubuhnya,” kata Richo yang memantau sendiri kondisi fisik anaknya.

Bagaimana rasanya menjadi seorang ayah yang putri kecilnya terjangkit virus mematikan?  Bagaimana membuat si anak memahami COVID-19 serta fakta bahwa dirinya telah tertular dan karena itu harus berpisah dari ayahnya? Bagaimana pengalaman keluarga Richo mencari tempat untuk isolasi?

Berikut percakapan kami yang telah disunting demi kejernihan:

Bagaimana kabar anak dan istri saat ini?

Sekarang sudah hari ke-3 di Wisma Atlet. Mereka sudah nggak demam. Istriku memang memang tidak pernah ada demam, tapi kalau anak sempat. Sekarang masih tersisa batuk dan pilek. Kalau dibandingkan dengan pas pertama kali dinyatakan positif, terutama untuk anak, kondisinya sudah semakin baik. Batuknya sudah mulai berkurang.

Keduanya nggak sesak napas. Anakku nggak bisa bilang sesak napas karena masih belum lancar bicaranya, jadi aku cuma memantau dari gesturnya. Aku ngelihat beberapa indikasi dari yang diajarkan dokter di Puskesmas, yaitu dari gerak hidung dan dadanya. Kembang kempisnya. Ada hitungannya, jadi dia dinyatakan sesak napas itu ketika kembang kempis berapa kali.

Apakah ada kekhawatiran pengamatan mandiri itu meleset, mengingat nggak ada petunjuk pasti dari dokter?

Ketika kutanya ke dokter Puskesmas apakah seseorang yang mengalami sesak napas otomatis saturasi oksigennya berkurang, katanya tidak. Jadi itu bukan suatu indikasi. Tapi, dengan kata lain, kan, ketika hasil tes menunjukkan kadar oksigennya baik, tidak menutup kemungkinan sebenarnya dia juga sesak napas.

Akhirnya kami menggencarkan pemantauan fisik itu di malam hari, ketika anak sedang tidak beraktivitas. Jadi secara berkala sejam sampai dua jam sekali kami melihat keadaannya gimana. Jadi hampir 24 jam memantau anak.

Pemahaman anak soal COVID-19 mungkin cukup abstrak. Bagaimana Anda dan istri memberi tahu anak tentang COVID-19?

Generasi anakku dan anak-anak lainnya yang lahir dan tumbuh kembang di era COVID-19 itu kan tidak beruntung, sebenarnya. Mereka harusnya bermain, mulai bersosialisasi dengan teman-temannya, tapi tidak bisa.

Beberapa bulan semenjak COVID-19 pertama terdeteksi di Indonesia, anak ini sudah bisa mengungkapkan kebosanan-kebosanannya. Di rumah, dia sering meratapi jendela, tanya ke orang tuanya di mana teman-temannya. Dia tanya kenapa dirinya tidak bisa main sama teman-teman.

Dari situ, kami berusaha mengajarkan bahwa di luar itu sedang ada bahaya. Ada virus. Namanya COVID-19. Jadi, dia hanya bisa mendeskripsikan situasi menggunakan tiga keyword tadi: bahwa di luar itu bahaya, ada virus, dan namanya COVID-19. Apakah dia paham apa itu COVID-19? Tentu saja nggak.

Setidaknya edukasi itu kami lakukan untuk memberikan pemahaman agar dia tidak keluar rumah, juga memberikan pemahaman lagi agar dia mau memakai masker. Tujuan kami sampai saat ini cukup berhasil.

Sebenarnya aku diuntungkan karena lingkungan. Aku juga kasihan sama teman-teman yang di depan rumahnya langsung jalan raya, atau tinggal di perumahan padat. Karena jadi agak susah kan untuk menjaga anak agar tidak masuk ke kerumunan.

Kalau cara kami, kami lihat dulu kondisi sekitar. Kalau misalnya sudah agak sepi, agak sore, baru anak kami ajak main keluar. Kami kasih mainannya yang bukan permainan tim, lebih banyak mainan individual seperti mobil-mobilan, sepeda, segala macam.

Tapi tetap saja anak bisa bosan. Karena dia tetap terus-terusan minta main sama teman-teman. Akhirnya, paling kami mengajak anak bermain dengan sepupunya.

Bagaimana dengan bercengkrama secara online, misalnya lewat video call?

Kami akhirnya melakukan itu sejak pisah lokasi. Aktivitas pagi kami group video call dengan grup keluarga, di mana di situ ada sepupunya juga. Dia bisa melihat kakaknya dan adiknya di layar handphone. Sekarang dia udah mulai terbiasa.

Bagaimana dengan pemahaman anak setelah didiagnosis positif? Apakah dia ketakutan?

Nah, anakku itu cenderung lebih sering main sama bapaknya, sehingga menjadi sulit karena aku negatif. Untungnya, dia sudah bisa mengetahui apa itu yang namanya sakit. Berhubung dia merasakan sakit yang gejalanya bisa dia rasakan, kita pendekatannya pakai itu. Batuk dan pilek kan dia bisa ngerasain, tuh, sementara kalau menjelaskan COVID-19 kan terlalu abstrak.

Ibunya berkali-kali bilang kalau dia jangan dekat-dekat ayah dulu, karena dia sedang sakit. Nanti ayah ketularan. Nah, itu sudah cukup mengerti. Jadi pendekatannya lebih ke menggunakan simbol-simbol yang dia sudah mengerti dulu.

Boleh menceritakan apa yang Anda rasakan?

Aku bingung, ya, sebenarnya. Tapi aku justru lebih khawatir dan bingung lagi sama masyarakat yang kondisinya tidak memungkinkan untuk jaga jarak di dalam rumah. Secara protokol, mungkin sulit untuk diaplikasikan ke masyarakat. Misalnya, jaga jarak baru bisa dilaksanakan ketika rumahnya dua lantai. Atau kamarnya tersedia sesuai dengan jumlah orangnya.

Lalu yang paling sulit itu sebenarnya mengatur jam makan. Meja makannya kan harus bergantian, alat makannya harus dicuci dan disterilkan. Tapi setidaknya hal kayak gitu harus kita tempuh.

Nah, keputusan agar anak dan istri dikarantina itu juga karena pertimbangan tidak memungkinkannya kami tetap berada dalam satu rumah. Di rumah, ada ibu yang sudah lansia.

Selain itu, jujur, sebagai seorang ayah, ada ketidakkuatan emosional untuk berjauhan dari anak. Itu yang paling sulit sebenarnya. Begitu juga dengan anaknya. Ketika dia dengar suara ayahnya, pasti maunya keluar. Tapi kan nggak mungkin saya kunci dia di dalam kamar. Saya nggak tega.

Akhirnya, lebih baik pisah sekalian. Ini juga supaya nggak terlalu repot. Mesti menyiapkan obat dan vitamin, menyiapkan makanan, dan lain-lain. Makanannya kan nggak bisa asal-asalan. Yang tadinya goreng telur saja cukup, sekarang harus bikin sayur, menyediakan buah, segala macam. Harus mengatur tempo ketersediaan logistik juga di rumah, sedangkan aku sendiri juga harus karantina.

Soal isolasi, Anda bilang prosesnya lumayan sulit untuk bisa masuk ke Wisma Atlet. Bagaimana proses yang Anda alami dan apa yang Anda pelajari dari pengalaman itu?

Pertama, aku amazed soal sinkronisasi data. Aku pikir ketika kami melakukan swab test dan ada yang positif, kami skeptis datanya akan langsung disetor ke pemerintah.

Tapi, alhamdulillah, tempat tes kami ternyata langsung bikin laporan ke Satgas COVID-19. Ketika keluargaku dinyatakan positif dan aku telepon 119, ternyata betul nama istri dan anakku sudah terdaftar. Satgas pun katanya sudah menghubungi pihak Puskesmas.

Nah, di sinilah yang bikin aku sempat patah semangat dan putus asa. Satgas sudah menghubungi Puskesmas dan katanya akan ada proses pemeriksaan. Tapi, aku tunggu-tunggu, upaya itu tidak juga dilakukan oleh pihak Puskesmas.

Kami akhirnya sampai memutuskan untuk mendatangi sendiri Puskesmas setelah jam operasional pasien umum, yaitu pukul 1 siang. Ini kan jadi masalah tersendiri karena potensi penyebaran. Bahwa aku yang mengantarkan berisiko, kondisi kesehatan anak istri juga berisiko, lalu orang-orang yang ada di Puskesmas ikut berisiko.

Aku nggak bisa membayangkan bagaimana masyarakat yang tidak memiliki fasilitas kendaraan memadai melakukan ini. Pasti akan sangat pontang-panting. Apakah mereka harus naik kendaraan umum? Kan lebih berbahaya. Bagaimana dengan kondisi mereka yang parah? Itu juga sangat bahaya.

Dari tahap itu sebenarnya aku sangat menyesalkan bahwa sistemnya belum seapik itu. Padahal aku tinggal di kota penyangga Jakarta, nggak jauh juga dari pusat pemerintahan kan.

Lanjut ke tahap berikutnya, ini yang sebenarnya aku juga nggak tahu: bagaimana prosedur untuk menindaklanjuti kasus ke fasilitas kesehatan berikutnya—rumah sakit atau rumah karantina? Aku nggak tahu apakah setiap kota punya rumah karantina, tapi kebetulan di Tangerang Selatan ada, namanya Rumah Lawan COVID-19 atau RLC.

Tadinya aku meminta supaya anak dan istri bisa dikarantina di sana. Di bayangan kami rumah karantinanya itu seperti Wisma Atlet, ternyata nggak. Ternyata hanya satu aula besar, lalu disekat-sekat pakai papan-papan partisi. Itu juga tidak berbentuk ruangan.

Di situlah rasa iba seorang ayah muncul. Nggak tega kalau sampai anak-istri dikarantina di sana. Akhirnya, ini juga yang membuat aku mencoba menggunakan jalur-jalur khusus. Mulai cari-cari kontak dan segala macam.

Jadi, sebenarnya kemungkinan orang yang positif dan bergejala itu dirujuk ke fasilitas kesehatan selanjutnya sangat kecil. Baik itu rumah sakit rujukan pemerintah, rumah karantina, atau Wisma Atlet. Hampir tidak mungkin.

Andai kata mungkin, yang kami dengar dari teman yang dirawat juga di Wisma Atlet, tahapannya benar-benar memprihatinkan. Mereka harus menunggu hingga dapat clearance kalau ada tempat di Wisma Atlet. Lalu, harus datang ke Puskesmas, harus menunggu dengan pasien lainnya yang positif, lalu dijemput menggunakan bus sekolah.

Agak miris ya, untuk ke Wisma Atlet saja mesti pakai jalur khusus dulu.

Betul. Sebenarnya, kan, harusnya mereka sudah punya skala prioritas. Misal, yang bergejala berat, lansia, dan ibu-anak. Bahkan prioritas itu juga ada di transportasi umum. Tapi kenapa prioritas itu tidak berlaku di fasilitas kesehatan dan di kasus pandemi kayak gini?

Balik lagi ketika sedang di Puskesmas. Apakah Anda melihat ada upaya dari Puskesmas untuk melakukan tracing ke orang-orang terdekat?

Ini juga menarik. Sampat saat ini, upaya yang dilakukan Puskesmas hanya melakukan penyemprotan. Itu sekali di hari yang sama ketika anak dan istriku dikirim ke Wisma Atlet. Jadi, proses tracing itu tidak pernah dilakukan. Proses interview dan segala macam itu tidak dilakukan. Ketika datanya saja tidak dikumpulkan, bagaimana datanya akan ditindaklanjuti?

Sebenarnya aku melihat kesadaran masyarakat Indonesia, terutama yang cukup melek soal informasi, bagus banget. Ketika ada yang positif dan mereka mau mengumumkan, itu keren banget. Mereka melakukan tracing sendiri. Kita beruntung aja karena masyarakat kita mau melakukan itu.

Tapi bagaimana mereka yang tidak mau? Itu kan akan merugikan yang lain.

Ada yang mau Anda tambahkan lagi?

Aku sebenarnya juga punya concern soal biaya. Aku nggak habis pikir kalau kejadian ini menimpa saudara kita yang nggak mampu. Meskipun penanganan di Puskesmas itu gratis, bahkan di Wisma Atlet gratis, tapi penanganan itu seperti dilakukan menggunakan standar serendah-rendahnya.

Aku sempat tanya ke Puskesmas, "Dokter, kok vitamin C-nya tidak berdosis tinggi?” Misalnya 500 atau 1000 mg gitu. Mereka bilang mereka nggak ada karena itu bukan standar mereka. Standar mereka itu hanya vitamin C dosis 100 mg.

Ini kan sebenarnya apa, ya, kayak mau melakukan upaya penyembuhan dan penguatan tapi masih setengah-setengah.

Akhirnya, kami harus beli sendiri. Obat pun cari yang lebih paten, yang biasa kami konsumsi untuk menanggulangi gejala sakit yang diderita sekarang, seperti batuk dan pilek. Kalau dihitung-hitung, biayanya sangat besar.

Pertanyaannya lagi, apakah pemerintah mau menanggung? Kan, nggak. Apakah perusahaan mau menanggung? Belum tentu juga. Karena kita beli bukan pakai kartu asuransi. Apalagi kalau perusahaan nggak ada asuransinya, otomatis kan pakai uang sendiri.

Jadi sebenarnya ada tiga hal yang aku garisbawahi. Pertama, penyebaran COVID-19 ini diperburuk oleh soal biaya. Kedua, aksesibilitas dan kecepatan penanganan. Ketiga, fasilitas yang tidak memadai.

Share: Richo Pramono: Saya Negatif, tapi Anak Positif