Isu Terkini

Prof. Hamdi Muluk: Populisme ala FPI dan Rizieq Shihab Gelombang Kecil Saja

MM Ridho — Asumsi.co

featured image

Ilustrasi: Ibam/Asumsi.co

Kepulangan pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab dari Arab Saudi membuat jalan tol menuju Bandara Soekarno-Hatta macet parah dan puluhan jadwal penerbangan tertunda pada Selasa (10/11). Ratusan orang menyambut dan mengiringinya. Tak kalah banyak yang menunggu di Petamburan, Tanah Abang, wilayah kediamannya.

Hamdi Muluk, pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia, menjelaskan kepada MM Ridho dari Asumsi.co tentang popularitas Rizieq Shihab dan gerakannya–kadang disebut sebagai contoh populisme bercorak agama–di Indonesia.

Apa penyebab popularitas gerakan ini?

Dalam psikologi sosial, apa pun basis populisme, baik agama maupun nasionalisme sempit seperti yang digaungkan Donald Trump, menyasar rasa tidak pasti dan terancam di tengah masyarakat.

Uncertainty itu secara psikologis mendorong orang-orang mencari pegangan pada narasi populisme itu. Orang-orang yang pengin mencari kepastian cenderung menyukai ideologi-ideologi yang menawarkan jawaban hitam-putih.

Kalau kita lihat, sekarang gelombang populisme di seluruh dunia agak meningkat. Mungkin dunia sedang tidak stabil dalam banyak hal.

Ada ciri khas yang menjangkiti masyarakat-masyarakat populis?

Warga negara-negara yang belum makmur mudah terkena godaan populisme, baik yang berbasis agama, suku, ras, atau nasionalisme yang chauvinistik.

Biasanya kalau negara-negara tidak makmur, populismenya lebih banyak [bercorak] agama. Itu yang menjangkiti negara seperti Pakistan, juga [kelompok] Taliban di Afganistan–negara-negara yang masih jatuh-bangun dengan pemenuhan ekonominya.

Situasi politik yang tidak stabil, ekonomi yang gonjang-ganjing, memang mendorong orang untuk mencari pegangan. Namun, memang yang paling cepat daya tariknya adalah yang bungkusnya agama.

Apakah ada kesamaan kasus di Indonesia dan Amerika Serikat?

Trump seolah-olah bilang, “Pokoknya kalau mau selamat, ya, usir itu imigran, usir orang asing. Hanya orang kulit putih Amerika saja yang akan menyelamatkan negara ini. Hispanik usir, yang giginya agak aneh usir, kita cuma perlu orang-orang Amerika asli.” Gitu, kan.

Yang berbungkus agama juga sama narasinya, “Yang berpikirnya nggak kayak kita adalah orang kafir. Orang kafir ini bikin susah. Usir!”

Maka kita bisa mengerti, bahkan di negara-negara seperti AS, ketika ekonomi turun jauh dibanding standar sebelumnya, ketika banyak pengangguran, populisme Trump bisa digandrungi.

Apa ini berpotensi jadi persoalan besar?

Yang jadi persoalan nanti, misalnya, negara bisa rapuh kalau populisme agama itu menjadi sesuatu yang konfliktual. Kalau dia berkonflik, misalnya, berpotensi terjadi perang saudara di dalam [negara]. Misalnya populisme sektarian Islam itu dianut oleh hegemoni yang dominan, seperti Pakistan, dia jadi tidak toleran terhadap yang minoritas. Ini problem populisme yang ditakutkan oleh para pemerhati demokrasi, intelektual, orang-orang yang ingin dunia lebih damai, lebih cerah.

Kalau nanti populisme itu laku di kelompok-kelompok yang kecil–dalam sosiologi disebut dengan fringe group–itu berpotensi menjadi ekstremisme, yang nanti dalam aksi-aksinya akan banyak bersentuhan dengan intoleransi atau kriminalitas, sehingga terjadi kegaduhan massal, kericuhan. Ini problem yang sedikit banyak berkaitan dengan ekstremisme juga.

Bagaimana dengan fenomena berkumpulnya massa saat kepulangan HRS kemarin? Apakah ini mengindikasikan gerakan yang lebih besar di masa depan?

Gelombang populisme itu, kalau kita ambil ukurannya FPI dengan Habib Rizieq ini, kalau menurut saya, sih, kecil, ya. Bisa kelihatan spesial karena pendukung-pendukungnya fanatik saja. Jumlahnya sedikit kalau kumpul di seluruh Indonesia.

Apakah dalam jangka panjang akan menyusut? Nggak, tapi bertambah juga nggak. Jadi, ya, begitu-begitu saja.

Jumlah massa Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sudah pasti lebih banyak secara objektif. Kalau ditaksir, NU bisa 60 juta pengikutnya di seluruh Indonesia. Belum lagi Muhammadiyah. Tapi mereka nggak suka aja kayak gitu. Ketua NU pulang dari mana terus seluruh massanya menghijaukan bandara untuk menyambutnya, kan, nggak ada gunanya.

Ada penjelasan psikologis lain: kalau orang secara politis sudah stabil, sudah punya kekuatan yang riil dalam banyak hal–misalnya Muhammadiyah, yang sudah punya banyak universitas, rumah sakit, dan tokoh, jumlah umatnya juga besar–ngapain dia petantang-petenteng?

Dalam psikologi, [petantang-petenteng] itu gejala untuk memperlihatkan eksistensi saja, karena belum berkuasa secara utuh dan dominan atau belum merasa cukup dengan eksistensinya saat ini.

Apakah kita perlu cemas?

Yang mencemaskan adalah sepak terjang FPI ini berada di wilayah abu-abu. Meski katanya nggak berpolitik, tapi sering menjadi problem, menjadi duri dalam daging, karena dilematis menghadapinya. Kadang melakukan persekusi, teror kecil-kecilan, menjadi gerakan-gerakan intoleransi. Kadang ada yang bertransformasi menjadi radikalisme, ekstremisme, dan kriminal. Namun, kadang berwajah lain juga: membantu masyarakat miskin, kalau ada bencana juga ikut gerakan kemanusiaan.

Kalau direpresi, nanti dianggap tidak menghendaki kebebasan berpendapat. Misalnya FPI dibubarkan itu jadi repot. Apa dasarnya? Nanti malah banyak orang bersimpati.

Kemarin saja Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) izinnya dicabut, itu kontroversinya ramai betul. Yang membelanya banyak, karena dibilang tidak sesuai dengan prinsip kebebasan berpendapat. Tapi pemerintah tegas mengatakan, kebebasan berpendapat ada batasnya dan itu sudah merupakan ancaman yang paling nyata dalam NKRI.

Indonesia [sebagai] negara Pancasila bersifat final, kalau ingin mendirikan negara Islam, kan, sudah merupakan ancaman. Yang namanya keutuhan negara itu tidak bisa tawar menawar, jadi dengan dasar itu ya itu diputuskan HTI dibubarkan karena melanggar Pancasila, dan itu diamini oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi.

Apa yang Prof. Hamdi tawarkan untuk menghadapi dilema ini?

Sekarang pertarungan kita nggak lagi di masalah klaim-klaim ideologi. Sudah ekonomi, pendidikan, sains, dan teknologi. Perbaiki ekonomi, perbaiki penghidupan, perbaiki kesejahteraan. Nanti lama-lama juga nggak laku itu politik identitas.

Share: Prof. Hamdi Muluk: Populisme ala FPI dan Rizieq Shihab Gelombang Kecil Saja