Isu Terkini

Kalau Dua Negara Kecil ini Perang, Imbasnya Bisa Panjang

OlehRaka Ibrahim

featured image

Kecuali kamu mahasiswa Hubungan Internasional atau hobi mengulik persoalan geopolitik, perang dingin antara Armenia dan Azerbaijan mungkin tidak masuk radarmu. Dua negara di wilayah pegunungan Kaukasia tersebut sudah otot-ototan sejak Uni Soviet bubar hampir tiga dekade lalu, dan baru-baru ini mereka kembali bersiap perang. Terkesan sepele, sampai kamu tahu Rusia, Turki, dan Iran sama-sama bersiap terjun untuk “menengahi” konflik tersebut. Ups.

Per hari Senin ini (28/9), pasukan Armenia dan Azerbaijan masih berperang dengan satu sama lain. Setidaknya 15 tentara dilaporkan tewas, dan ratusan warga sipil luka berat serta terpaksa mengungsi. Lagi-lagi, kedua belah pihak saling menyalahkan. Pihak Armenia menuding Azerbaijan melakukan pengeboman terhadap sejumlah gedung sipil. Sebaliknya, Azerbaijan menuduh Armenia menyerang kamp militer mereka terlebih dahulu.

Lokasi dan penyebab pertengkaran mereka dapat disimpulkan dalam dua kata: Nagorno Karabakh. Secara resmi, wilayah itu adalah provinsi yang berada di bawah mandat pemerintah Azerbaijan. Namun pada kenyataannya, Nagorno Karabakh adalah wilayah yang sudah lama ingin pisah dari Azerbaijan dan dibiayai nyaris sepenuhnya oleh Armenia dan sekutu-sekutunya.

Semua bermula pada 1991, saat Uni Soviet bubar dan Armenia serta Azerbaijan--keduanya tadinya republik di bawah Uni Soviet--merdeka. Sepanjang era Uni Soviet, Nagorno Karabakh berada di bawah kekuasaan Azerbaijan. Masuk akal bila setelah merdeka, mereka berasumsi wilayah tersebut akan terus berada di bawah kendali mereka.

Persoalannya begini. Nagorno Karabakh adalah wilayah yang dihuni mayoritas etnis Armenia. Warga etnis Armenia di sana mempersenjatai diri dan menendang keluar pasukan Azerbaijan dalam konflik yang berdarah-darah. Karena merasa saudara sebangsa, pemerintah Armenia memberikan dukungan operasional terhadap para pemberontak Nagorno Karabakh.

Pada 1994, perang tersebut berhenti lewat gencatan senjata. Wilayah tersebut berubah jadi semacam “daerah istimewa” yang punya pemerintah sendiri dan nyaris sepenuhnya otonom, bernama Republik Artsakh. Tapi, hanya segelintir negara di dunia yang mengakui kemerdekaan Artsakh, dan Azerbaijan bersikeras wilayah tersebut tetap milik mereka.

Sejak saat itu, konflik antara Armenia dan Azerbaijan bertambah panjang. Azerbaijan menuding Armenia membiayai gerakan separatis di Nagorno Karabakh--klaim yang tidak meleset-meleset amat. Sebaliknya, Armenia menuduh Azerbaijan tidak menghormati kehendak rakyat Nagorno Karabakh untuk merdeka dan ngeri apa yang akan terjadi bila wilayah tersebut diperintah oleh pemerintah diktator Azerbaijan. Berhubung Azerbaijan berada di posisi jeblok indeks HAM dunia, kekhawatiran mereka pun tidak salah-salah amat.

Terdengar rumit? Ya memang. Semisal kurang ribet, sekutu-sekutu Armenia maupun Azerbaijan pun turun tangan. Sejak Uni Soviet bubar, Armenia mulai dekat dengan Rusia, sementara Azerbaijan jadi sekutu erat negara yang satu etnis dengannya: Turki. Maka, perang antara Armenia dan Azerbaijan berpotensi jadi perang bayangan antara Turki dan Rusia--dua negara yang berebut pengaruh di wilayah Kaukasia dan Anatolia.

Lantas, kenapa Nagorno Karabakh begitu diperebutkan? Jawabannya adalah sumber daya alam.

Sebenarnya, Nagorno Karabakh bukan daerah yang kaya akan sumber daya alam. Google “Nagorno Karabakh” sekarang, dan kamu akan mendapati panorama pegunungan, padang rumput, dan langit cerah yang gilang gemilang. Namun, Azerbaijan adalah negara yang punya banyak stok minyak bumi dan gas bumi yang berasal dari wilayah sekitar Laut Kaspia. Dan hampir semua pipa-pipa mereka yang mengantarkan sumber daya alam tersebut melewati wilayah Nagorno Karabakh.

Karena itulah Azerbaijan sangat-sangat tidak ingin Nagorno Karabakh merdeka. Kalau hal itu terjadi, suplai minyak dan gas bumi mereka--yang jadi penyokong utama ekonomi--harus lewat wilayah negara lain yang pro-Armenia. Apa yang tidak diinginkan oleh Azerbaijan tentu tak diinginkan oleh Turki, yang tidak mau Armenia serta Rusia dapat keuntungan lebih di wilayah Kaukasia.

Seolah ingin menambah runyam suasana, ada pemain ketiga yang barusan terjun: Iran. Kebetulan saja, negara tersebut bertetangga dengan Armenia, Azerbaijan, Turki, maupun Rusia. Dengan murah hati, mereka menawarkan diri jadi mediator konflik antara kedua negara tersebut. Berhubung Turki tak punya relasi baik dengan Iran, tawaran ini nampaknya bakal dibiarkan begitu saja.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, terang-terangan mendukung Azerbaijan. Setelah telponan dengan presiden Azerbaijan, ia meminta rakyat Armenia melawan pemimpin yang “menggiring mereka menuju malapetaka”, selagi menegaskan solidaritas antara Turki dengan Azerbaijan. Kamu tidak salah baca: presiden Turki terang-terangan meminta rakyat Armenia memberontak.

Vladimir Putin, presiden Rusia, masih tenang-tenang saja. Ia sekadar menyatakan bahwa Rusia “amat khawatir” dengan naiknya tensi antara Armenia dan Azerbaijan, dan menghimbau kedua pihak untuk berembug. Azerbaijan menerima tanggapan ini dengan agak netral--meski dari dulu mereka dekat dengan Turki, belakangan pemerintah Azerbaijan pun mulai dekat dengan Rusia.

Share: Kalau Dua Negara Kecil ini Perang, Imbasnya Bisa Panjang