Isu Terkini

Awas Ancaman Superbug, Bakteri Pembunuh Massal

OlehRaka Ibrahim

featured image

Bakteri yang kebal terhadap antibiotik akan menjadi ancaman lebih besar bagi umat manusia ketimbang COVID-19, ucap sejumlah ilmuwan di Australia. Kemunculan dan penyebaran bakteri tersebut niscaya dapat mengirim ilmu kedokteran dunia “kembali ke Zaman Kegelapan”, dan memusnahkan ratusan juta manusia dalam belasan tahun ke depan.

Prediksi suram ini diutarakan oleh Dr. Paul de Barro, kepala riset biosekuriti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Australia, CSIRO. “Saya pikir tidak berlebihan untuk bilang bahwa kemunculan bakteri yang tak mempan terhadap antibiotik, atau disingkat AMR, adalah ancaman terbesar terhadap kesehatan manusia,” ucap Dr. de Barro. “Bahkan wabah COVID-19 tak ada apa-apanya dengan dampak potensial AMR. Bakteri ini bisa mengirim dunia kedokteran kembali ke zaman kegelapan.”

Dr. de Barro adalah bagian dari tim peneliti asal Australia yang akan berangkat ke negara-negara kepulauan Pasifik selama tiga tahun ke depan. Misi mereka? Menelusuri kenaikan tajam infeksi bakteri serta kemungkinan merebaknya bakteri yang resistan terhadap antibiotik.

Kemunculan bakteri super ini telah diprediksi sejak lama, tetapi kian kuat setelah munculnya laporan BMJ Global Health Journal tahun ini. Penelitian tersebut menyebut bahwa negara-negara kepulauan Pasifik, yang umumnya mungil dan tak punya infrastruktur kesehatan memadai, kewalahan menghadapi munculnya bakteri yang tak mempan terhadap antibiotik. Namun, kenapa wilayah tersebut secara khusus yang jadi pusat kemunculan bakteri super tersebut?

Penyebabnya ternyata sederhana: wilayah tersebut adalah salah satu wilayah yang paling sering menggunakan antibiotik untuk menghajar penyakit. Ambil contoh kepulauan Fiji, negara dengan penduduk kurang dari sejuta orang. Mereka punya persentase penyakit tuberkulosis yang amat tinggi di populasi manusia dan hewan, dan setidaknya dua amputasi dilakukan di RS mereka setiap hari. Walhasil, sistem kesehatan mereka sangat royal memerintahkan penggunaan antibiotik.

Selayaknya makhluk hidup manapun, lambat laun bakteri di sana berkembang dan bertambah kuat, sebab mereka beradaptasi dengan eksposur terus menerus kepada antibiotik. Walhasil, CSIRO bersama lembaga-lembaga penelitian serupa di Fiji menduga kuat bahwa negara tersebut--serta tetangganya di wilayah Pasifik--bisa jadi kawah candradimuka untuk perkembangan bakteri super.

Semakin parah lagi, daerah kepulauan Pasifik umumnya diisi negara yang bergantung secara ekonomi pada pariwisata. Sehingga, wilayah tersebut akan menerima jutaan wisatawan mancanegara setiap tahunnya dan penyakit apapun jadi makin gampang tersebar. Selain itu, infrastruktur kesehatan mereka kerempeng bukan main. Kemunculan bakteri super sedikit saja bisa mengguncang sistem kesehatan mereka.

Dr. Donald Wilson, kepala Fiji National University College of Medicine, menyatakan bahwa dalam waktu dekat, krisis ini dapat membuat “orang yang sakit tak mampu ditangani dengan obat-obatan yang sudah ada.” Bahkan Dr. de Barro memperingatkan bahwa bila bakteri super ini berkembang biak dan bertambah luas, maka antibiotik yang ada saat ini tak akan efektif lagi.

“Hampir setiap prosedur medis saat ini menggunakan antibiotik,” ucap Dr. de Barro. “Bila antibiotik yang sudah ada tak lagi efektif, maka prosedur sederhana seperti luka ringan, operasi, diabetes, perawatan kanker, dan persalinan dapat membunuhmu.”

Selain itu, ada satu kabar buruk yang mencengangkan: penjarakkan sosial macam apapun juga tak akan mencegah penyebaran bakteri ini. Bakteri ada di makanan, air, udara, dan permukaan setiap benda yang ada di sekitar kita.

Salah satu faktor tak terduga yang dapat mempercepat krisis bakteri super adalah penanganan yang serampangan terhadap pandemi COVID-19. Dirjen World Health Organization (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan bahwa infeksi bakteri dapat semakin tahan banting karena banyak negara di dunia berlebihan menggunakan antibiotik untuk menangani pasien COVID-19.

Menurut panduan medis mereka, penggunaan terapi antibiotik atau prophylaxis tidak disarankan untuk pasien yang hanya menunjukkan gejala ringan COVID-19. Antibiotik hanya perlu diberikan bila COVID-19 kemudian berujung infeksi bakterial. Sebab bila digunakan secara berlebihan, kasus serupa dengan Fiji dapat berulang: bakteri beradaptasi, bertambah kuat, dan memperparah situasi.

Saat ini, setidaknya 700 ribu orang meninggal setiap tahun karena bakteri yang resistan terhadap antibiotik. WHO memprediksi bahwa bila kita berpangku tangan, pada tahun 2050 setidaknya 350 juta orang akan meninggal setiap tahun karena bakteri super.

Share: Awas Ancaman Superbug, Bakteri Pembunuh Massal