Isu Terkini

Upah CEO 320 Kali Lipat Lebih Tinggi dari Pekerjanya, Wajarkah?

OlehPermata Adinda

featured image

Dari tahun ke tahun, upah CEO selalu melesat tinggi, hingga Economic Policy Institute (EPI) menilai kenaikan itu sudah dalam taraf tidak wajar.

Berdasarkan laporan yang dirilis pada 18 Agustus lalu, EPI menemukan bahwa CEO di Amerika Serikat mendapatkan upah 320 kali lipat lebih banyak dibandingkan pekerjanya pada 2019. Rasio ini telah naik pesat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yaitu sebesar 293 kali lipat pada 2018, 61 kali lipat pada 1989, dan 21 kali lipat pada 1965.

Sejak 1978 sampai 2019, upah CEO telah meningkat sebesar 1.167%--jauh di atas pertumbuhan upah pekerja yang hanya meningkat 13,7%. Bahkan, kenaikan ini mengalahkan kenaikan pasar saham yang sebesar 741% dan kenaikan upah 0,1% pekerja di posisi atas yang sebesar 337%.

Totalnya, rata-rata upah CEO di 350 perusahaan di Amerika Serikat adalah US$21,3 juta atau naik 14% dari 2018.

Dengan mengalahkan kenaikan upah 0,1% pekerja di posisi atas, EPI pun menilai kenaikan ini bukan disebabkan oleh meningkatnya performa dan produktivitas orang yang menempati jabatan tersebut, melainkan meningkatnya kuasa CEO untuk menaikkan upahnya sendiri.

“Di satu sisi, upah pekerja hanya meningkat sedikit selama 40 tahun terlepas dari meningkatnya produktivitas ekonomi sebesar 70%. Sementara itu, kenaikan upah CEO hinggga 1.167% jauh lebih besar dari pertumbuhan produktivitas, laba, dan nilai pasar saham di periode tersebut.”

EPI berargumen bahwa upah CEO yang naik karena posisi mereka—dan bukan kontribusi mereka—telah memperlebar kesenjangan ekonomi antara CEO dan pekerja. Sebab, selama ini, kesenjangan ekonomi disebabkan oleh upah 90% kelas pekerja yang diredistribusikan kepada 1% kelas teratas. Jika kesenjangan dapat dihindarkan, EPI pun memproyeksi bahwa upah pekerja seharusnya meningkat dua kali lipat sepanjang 1979-2018.

Selama pandemi COVID-19, CEO yang secara sukarela memotong upahnya untuk mendukung pekerja-pekerjanya juga dikatakan tidak cukup membantu. Upah CEO yang berasal paling banyak dari penghargaan saham justru diproyeksikan akan semakin meningkat pada 2020—dengan adanya penyesuaian pertumbuhan pasar terhadap inflasi.

Sejumlah kebijakan dapat membantu menghentikan kesenjangan ini, seperti secara khusus menetapkan pajak dengan rate yang tinggi bagi orang-orang dengan pemasukan tinggi—sehingga membuat CEO enggan untuk meningkatkan pemasukannya. Opsi lainnya adalah memberlakukan pajak lebih tinggi bagi perusahaan dengan rasio upah CEO:pekerja yang tinggi.

“CEO yang diteliti dalam laporan ini berasal dari perusahaan besar. Perusahaan-perusahaan besar ini menikmati kekuatan pasar yang tumbuh dalam beberapa dekade terakhir, dan tampaknya CEO jadi penerima manfaat utamanya,” tulis EPI dalam laporannya.

“Oleh karena itu, direkomendasikan sejumlah instrumen hukum dan fungsi pengawasan yang dapat menahan kekuatan pasar ini. Hal ini tidak hanya akan mendorong persaingan dan efisiensi ekonomi, tetapi juga membantu menghambat kenaikan upah eksekutif dan memperlebar kesenjangan ekonomi.”

Share: Upah CEO 320 Kali Lipat Lebih Tinggi dari Pekerjanya, Wajarkah?