Isu Terkini

Kenapa Vietnam Kembali Siaga COVID-19?

OlehRaka Ibrahim

featured image

Sembilan puluh sembilan hari. Selama itulah Vietnam tidak menemukan satu pun kasus baru COVID-19 di negaranya. Setelah penanganan pandemi yang cepat tanggap, negara tersebut berangsur-angsur kembali ke keadaan normal. Namun, pekan lalu bencana terjadi. Kasus baru COVID-19 ditemukan di sebuah kota tujuan liburan. Kini, negara tersebut berancang-ancang menyambut gelombang kedua pandemi.

Pekan ini, media-media setempat mengumumkan kasus infeksi baru COVID-19 di wilayah-wilayah kunci seperti ibukota Hanoi, Ho Chi Minh City, dan daerah Central Highlands. Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc muncul di jumpa pers memperingatkan rakyatnya bahwa setiap provinsi dalam bahaya. Kasus di Vietnam memang “hanya” berjumlah 652 kasus hingga 4 Agustus 2020. Namun, satu angka mencolok: setelah berbulan-bulan nol kematian, hari ini Vietnam mengumumkan kematian kedelapan akibat pandemi.

Semua bermula pada 25 Juli, saat seorang pria berusia 57 tahun masuk RS dan dites positif COVID-19. Kasus tersebut adalah insiden penularan lokal pertama di Vietnam sejak April 2020 lalu. Ketika ditanyai oleh pekerja medis, pria tersebut mengaku tak pernah keluar dari kota tempat tinggalnya, Da Nang. Ia hanya sesekali datang ke acara genting seperti pernikahan, bahkan jarang keluar rumah untuk nongkrong dengan kawan-kawannya.

Setelah ditelusuri lebih jauh, persoalannya bertambah runyam. Da Nang adalah kota yang dikenal sebagai tujuan wisata bagi turis mancanegara maupun domestik. Hingga kini, Vietnam memang masih melarang pelancong luar negeri plesir ke negaranya, tapi wisatawan dalam negeri sudah bisa melenggang bebas tanpa masker ke Da Nang dan kota-kota lainnya.

Pelonggaran karantina ini dimanfaatkan pemerintah maupun pengusaha. Mereka berlomba-lomba menawarkan paket wisata dengan diskon tinggi guna menggenjot kembali perekonomian Vietnam. Walhasil, Da Nang ramai bukan main. Menurut hitung-hitungan pemerintah lokal, sejak 1 Juli 2020 lalu setidaknya 800 ribu turis domestik telah hilir-mudik ke Da Nang dari kota atau provinsi asal mereka masing-masing. Ketika kasus COVID-19 anyar itu diumumkan, setidaknya 80 ribu turis sedang berleha-leha di Da Nang.

Kontan, pemerintah Vietnam bertindak cepat. 80 ribu wisatawan domestik yang terdampar di Da Nang dipulangkan, dites, dan diwajibkan melakukan karantina mandiri. Protokol kesehatan karantina pun diberlakukan kembali. Semua kegiatan publik seperti olahraga dan festival kebudayaan ditunda. Setiap orang wajib memakai masker di ruang publik, dan kerumunan lebih dari 30 orang dibubarkan. Wisatawan domestik pun dilarang menuju Da Nang.

Kabar buruknya, kasus tambahan terus bermunculan. Seorang pria berusia 61 tahun dan perempuan 71 tahun di Da Nang serta pemuda usia 17 tahun di Quang Ngai ketahuan positif COVID-19. Tak lama kemudian, 11 pasien dan staff di RS Da Nang dilaporkan positif COVID-19. Ketika kasus positif dilaporkan di Hanoi dan Ho Chi Minh setelah kloter turis Da Nang dipulangkan, mimpi buruk Vietnam terwujud: mereka menghadapi gelombang kedua.

Padahal, sebelumnya Vietnam banyak dipuji karena respon pandeminya yang cepat, tegas, dan efektif. Pada 28 Januari, saat baru ada dua kasus COVID-19, pemerintah mengumumkan bahwa mereka telah bersiap untuk kemungkinan terjadinya infeksi terhadap ribuan orang.

Sepanjang bulan Februari, Vietnam memberlakukan protokol kesehatan yang bahkan lebih cepat dan tegas daripada WHO. Saat WHO masih belum menganjurkan penutupan perbatasan dan belum mewajibkan pemakaian masker, Vietnam telah melarang orang masuk negaranya dan mewajibkan masker.

Sadar bahwa kapasitas RS mereka terbatas, Vietnam bergerak dengan prinsip lebih baik mencegah daripada mengobati. Rasio jumlah tes massal mereka sempat paling gede di seluruh dunia, bahkan Vietnam sampai mengekspor test kit COVID-19 bikinan mereka sendiri ke Eropa dan AS. Penelusuran kontak pun didukung oleh penggunaan aplikasi dan pengumuman sejarah perjalanan pasien di media massa.

Hasilnya jelas. Saat kasus di negara tetangga seperti Filipina dan Indonesia menanjak hingga ratusan ribu, sebelum Juli jumlah kasus di Vietnam hanya 546 kasus dengan nol kematian. Saat Indonesia masih kelimpungan menghadapi bulan pertama PSBB, Vietnam sudah berhasil menghentikan penyebaran COVID-19 dan tak melaporkan satu pun kasus positif baru.

Rekor tersebut bertahan selama 99 hari sebelum akhirnya pecah pada 25 Juli. Kini, Vietnam sibuk berdebat soal bagaimana sebuah kasus baru bisa muncul di sana. Ada teori yang lebih sensasional: ini ulah penyelundup. Beberapa hari setelah kasus baru tersebut dilaporkan, seorang pria asal Cina kabarnya diciduk polisi di Da Nang. Ia dituding mengepalai sebuah sindikat kriminal yang menyelundupkan manusia ke Vietnam dari Cina.

Teori lain yang sedang diperbincangkan sama seriusnya. Menteri Kesehatan Nguyen Thanh Long melaporkan bahwa pasien-pasien baru ini terinfeksi jenis baru virus SARS-CoV-2 yang telah bermutasi. Sejauh ini, kelihatannya virus hasil mutasi ini lebih ganas dan lebih mudah menular ketimbang versi aslinya. Bila SARS-CoV-2 versi awal hanya menular ke 1.8-2.2 orang di Vietnam, virus anyar ini bisa menular ke 5-6 orang.

Ini tak mesti jadi pertanda kiamat. Virus memang selalu bermutasi, dan hanya karena ia bermutasi bukan berarti ia otomatis lebih berbahaya atau lebih mudah menular. Mutasi virus yang satu ini juga tidak baru-baru amat--ia sudah dilaporkan hadir di Bangladesh, Britania Raya, dan Irlandia. Persoalannya adalah, bagaimana dia bisa sampai ke Vietnam?

Kini, Vietnam kembali mengetatkan ikat pinggang dan memberlakukan karantina. Bahkan, sebanyak 1,1 juta penduduk di seantero kota Da Nang akan dites COVID-19 dan dilakukan penelusuran kontak. Situasi yang dihadapi Vietnam sekarang adalah pengingat bahwa pandemi masih berkobar dan tak ada negara yang boleh lengah.

Bila Vietnam yang sudah jagoan mengendalikan pandemi saja kini kewalahan lagi, bagaimana nasib negara-negara yang sejak awal saja sudah meremehkan COVID-19?

Share: Kenapa Vietnam Kembali Siaga COVID-19?