4 Politisi Difabel Berpengaruh di Dunia

Keterbatasan fisik tidak berarti menjadi penghalang bagi seseorang untuk menjalani aktivitas sehari-hari layaknya manusia normal. Kaum difabel juga punya hak yang sama untuk beraktivitas, berperan, dan berkontribusi bagi dunia sosial, olahraga, hukum, dan politik.

Memiliki kekuarangan sehingga tidak sempurna secara fisik, sekali lagi bukanlah halangan. Seperti kita tahu bahwa hak-hak kaum difabel dijamin di dalam Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CRPD) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang merupakan perjanjian hak asasi manusia komprehensif pertama dalam abad ke-21. 

Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CRPD) diadopsi pada tanggal 13 Desember 2006 di kantor pusat PBB di New York, dan mulai berlaku pada tanggal 3 Mei 2008. CRPD tersebut berisi tentang undang-undang yang memastikan semua penyandang disabilitas dapat menikmati semua hak dasar manusia dan kebebasan yang fundamental. 

Itu artinya kaum difabel, tanpa terkecuali, bisa ikut berkontribusi dalam panggung politik di belahan bumi manapun. Bahkan jauh sebelumnya, sudah banyak politisi di dunia yang ternyata berasal dari kaum difabel. Siapa saja mereka? 

Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur merupakan sosok pemimpin yang memiliki keterbelakangan fisik. Sosok yang lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 ini menjabat sebagai orang nomor satu di Indonesia dari tahun 1999 hingga 2001. Sebagai Presiden RI ke-3, beliau menggantikan Presiden B.J. Habibie setelah dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menurut hasil Pemilu 1999. Penyelenggaraan pemerintahannya dibantu oleh Kabinet Persatuan Nasional.  Lalu, tepat pada 23 Juli 2001 silam, posisi Gus Dur di kursi kepresidenan diganti oleh Megawati Soekarnoputri setelah mandatnya dicabut oleh MPR. Semasa hidupnya, Gus Dur juga pernah menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Seperti diketahui, Gus Dur menderita banyak penyakit, bahkan jauh sebelum ia menjabat sebagai presiden. Riwayat penyakit Gus Dur dimulai dengan glaukoma berpuluh tahun silam. Kondisi inilah yang membuat Gus Dur memiliki keterbatasan fisik. Sejarah penyakit Gus Dur sendiri dimulai sejak 1985 silam. Ketika itu, Gus Dur mengalami gangguan di mata. Sejak saat itulah sosok Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tiga periode (1984-1999) merasakan berbagai keluhan seperti muntah-muntah, mual berkali-kali, dan pusing.

Karena penyakit tersebut, kemampuan penglihatan Gus Dur juga mulai menurun drastis. Ia pun sempat memeriksakan matanya ke dokter, dan dinyatakan bahwa ini efek dari glaukoma. Sejumlah tindakan medis pun dilakukan untuk menyelamatkan penglihatannya, tapi mata kirinya tidak bisa diselamatkan karena urat syarafnya sudah telanjur rusak.  Beruntung mata bagian kanan Gus Dur masih bisa diselamatkan. Hanya saja, sejak itu Gus Dur harus menjalani pemeriksaan rutin setiap enam bulan sekali. Gangguan penglihatan itu sendiri membuat aktivitasnya dalam menulis surat dan membaca buku harus dituliskan oleh orang lain. 

Tak hanya itu saja, Gus Dur juga beberapa kali mengalami serangan stroke. Ia juga menderita diabetes dan gangguan ginjal. Beliau akhirnya meninggal dunia pada hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul 18.45 WIB akibat berbagai komplikasi penyakit tersebut. Bahkan, sebelum wafat, Gus Dur harus menjalani hemodialisis (cuci darah) rutin. Menurut sang adik, Salahuddin Wahid, Gus Dur wafat akibat sumbatan pada arteri.

Semasa hidupnya, Gus Dur kerap membuat kebijakan yang akan selalu dikenang sepanjang masa. Salah satunya saat Gus Dur dijuluki ‘Bapak Tionghoa’ Indonesia, ketika ia membuat etnis Tionghoa di Indonesia lepas dari diskriminasi.

Seperti diketahui, orang-orang keturunan Tionghoa selalu mengalami diskriminasi di era Orde Baru. Lalu, lengsernya pemerintahan Soeharto dan hadirnya Gus Dur membawa perubahan besar bagi masyarakat Tionghoa di tanah air.  Gus Dur mampu mengubah stigma yang sudah terlanjur melekat dengan masyarakat Tionghoa. Segala bentuk diskriminasi pun perlahan lepas, terutama saat mereka boleh menggunakan nama asli, beribadah di klenteng, bahkan Imlek pun dijadikan hari libur nasional. 

Maka tak heran, sampai hari ini, masyarakat Tionghoa di Indonesia sangat menghormati Gus Dur. Bahkan Gus Dur sendiri sampai diberi julukan Bapak Tionghoa Indonesia. Tak hanya itu saja, Gus Dur juga punya peran penting dalam menyelamatkan hidup TKI dari Kematian. Misalnya saja pada tahun 1999 lalu, di saat seorang TKW di Arab Saudi bernama Siti Zaenab yang akan dihukum mati gara-gara diduga membunuh. 

Sebagai seorang presiden, Gus Dur pun pun bertindak cepat melakukan diplomasi. Tak hanya menyurati raja Arab Sudi, Gus Dur juga langsung melakukan diplomasi tingkat tinggi. Akhirnya, keluarga Siti Zaenab pun bisa bernapas lega lantaran pemerintah Arab Saudi tidak jadi melakukan eksekusi. 

Franklin D. Roosevelt

Franklin Delano Roosevelt merupakan Presiden Amerika Serikat ke-32 dan menjadi satu-satunya Presiden AS yang terpilih empat kali. Masa jabatannya diduduki dari tahun 1933 hingga 1945. Lahir dalam keadaan berkecukupan, ia ternyata melewati masa-masa sakit yang membuatnya cacat hingga lumpuh karena polio.

Penyakit lumpuh Roosevelt sendiri dimulai pada tahun 1921 saat usianya menginjak 39 tahun. Gejala utama yang ia alami adalah demam, kelumpuhan ascending, kelumpuhan wajah, disfungsi usus dan kandung kemih, mati rasa, dan hyperesthesia. Akibatnya, Roosevelt lumpuh dari pinggang ke bawah secara permanen. 

Saat itu, Roosevelt didiagnosis mengidap poliomielitis, tetapi gejalanya lebih konsisten dengan sindrom Guillain-Barré (GBS), neuropati autoimun. Pada tahun 1926, ia akhirnya menemukan pusat rehabilitasi di Warm Springs, Georgia, untuk menjalani hidroterapi. Sejak saat itu, Roosevelt menghindari menggunakan kursi rodanya di depan umum, namun kelumpuhan yang ia alami akhirnya muncul ke permukaan dan ramai dibicarakan. Tapi pada akhirnya, di tahun 1938 ia mendirikan National Foundation for Infantile Paralysis, yang mengarah pada pengembangan vaksin polio, dan dibangun demi kepentingan masyarakat luas.

Salah satu pencapaian Roosevelt yang terkenal adalah saat kepemimpinannya berhasil membantu AS memulihkan diri dari masa Great Depression (Depresi Hebat). Dalam perencanaan terhadap Perang Dunia II, ia mempersiapkan AS untuk menjadi "Gudang Senjata Demokrasi" melawan kekuatan Jerman Nazi dan Kekaisaran Jepang. Aspek-aspek kepemimpinannya, terutama sikapnya terhadap Joseph Stalin yang dipandang naif, sempat jadi sasaran kritik sejumlah sejarawan. Meski begitu, visinya tentang organisasi internasional yang efektif untuk menjaga perdamaian akhirnya tercapai dengan dibentuknya PBB.

John McCain

John McCain merupakan politisi AS yang menjabat sebagai senator AS senior dari Arizona. Ia terpilih mewakili Arizona pada tahun 1986 dan pernah maju sebagai calon Presiden AS dari Partai Republik dalam pemilihan presiden 2008 dan dikalahkan oleh Barack Obama. McCain sendiri merupakan lulusan Akademi Angkatan Laut AS tahun 1958 dan mengikuti jejak ayahnya dan kakeknya, yang mana keduanya merupakan Laksamana bintang empat. Ia menjadi penerbang AL dan menerbangkan pesawat penyerang darat dari kapal induk. 

Nasib tragis sempat menghampiri McCain di masa Perang Vietnam. Ia hampir gugur dalam kebakaran USS Forrestal 1967 saat dirinya sedang menjalankan misi pengeboman dalam Operasi Rolling Thunder di Hanoi bulan Oktober 1967. Kala itu, ia ditembak jatuh, luka parah dan ditangkap oleh pasukan Vietnam Utara.  McCain pun jadi tawanan perang sampai 1973 dan berkali-kali dirinya disiksa dan menolak tawaran pemulangan awal. Akibatnya, McCain menderita luka yang didapatnya saat perang dan itu berdampak buruk terhadap kemampuan fisiknya. 

Kemudian ia pensiun dari AL dengan pangkat kapten tahun 1981 dan pindah ke Arizona, lalu merambah dunia politik. Pada tahun 1982, McCain memutuskan untuk terjun ke dunia politik. Ia berhasil terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS selama dua periode. Di tahun 1987, ia pun menjadi Senat AS sebanyak lima kali (terakhir di 2016). Pada masa jabatannya, ia meloloskan Undang-Undang McCain–Feingold pada tahun 2002. 

Selain itu, McCain juga dikenal atas kinerjanya pada tahun 1990-an untuk memulihkan hubungan diplomatik dengan Vietnam serta keyakinannya bahwa Perang Irak seharusnya dilaksanakan sampai tujuan utamanya tercapai. Ketika itu, McCain memimpin Komite Perdagangan Senat dan menolak anggaran pork barrel (alokasi proyek daerah). Prestasi lain yang ia raih adalah dengan menjadi anggota McCain juga merupakan anggota grup dwipartai bernama Gang of 14 yang berperan penting untuk meredam krisis dalam pencalonan hakim. Ia mencalonkan diri sebagai Presiden dari Partai Republik tahun 2000, tetapi dikalahkan pada putaran pendahuluan oleh Gubernur George W. Bush dari Texas. 

Tak berhenti sampai di situ, McCain maju lagi di Pilpres 2008, namun dikalahkan oleh Barack Obama dari Partai Demokrat dalam pemilihan umum dengan perolehan suara perkumpulan pemilih sebanyak 365–173. Ia kemudian mengambil sikap konservatif yang lebih ortodoks dan lebih banyak menentang keputusan pemerintahan Obama, khususnya dalam hal kebijakan luar negeri. 

Jean-Marie Le Pen

Jean-Marie Le Pen, anggota Parlemen Eropa dan calon presiden tiga kali mengalami kebutaan di mata kirinya. Jean-Marie Le Pen merupakan pimpinan partai Front Nasional (FN) dan calon Presiden Perancis pada tahun 2002.  Sosok yang lahir pada 20 Juni 1928 di Kota La Trinite-sur-Mer (Brittany) ini sudah empat kali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden dan baru pada pemilu presiden tahun 2002 ia lolos ke babak penentuan. Karier politiknya dimulai tahun 1956, ketika ia menjadi wakil ketua partai pada pedagang kecil.

Lalu pada tahun 1965, ayah dari Marine Le Pen ini membantu kampanye dari kandidat ekstrem kanan bernama Jean-Louis Tixier-Vignancour. Beberapa tahun kemudian atau tepatnya pada 1972, ia membentuk Front Nasional (FN).  Namun, kampanyenya tentang bahaya serbuan kaum imigran Afrika Utara ke Perancis secara berkelanjutan, telah menaikkan dukungan baginya, dari 0,74% pada tahun 1974 menjadi 14% pada tahun 1988 dan 15% pada tahun 1995. Le Pen sempat dicap sebagai tokoh yang rasis, anti-imigran, dan xenophobic (memiliki rasa benci terhadap orang asing), lantaran berbagai pernyataannya yang kontroversial.

Dalam kampanye pemilu presiden tahun 2002, ia masih terus melontarkan gagasan lamanya tentang penghapusan pajak warisan sehingga perusahaan bisa berpindah tangan dari ayah ke anak, dan perlunya negosiasi ulang terhadap sejumlah kesepakatan antar-negara Eropa. Khusus tentang masalah imigran, pendapatnya tak pernah berubah.  Kemudian, lolosnya Le Pen juga menjadi kekhawatiran sejumlah negara tetangga Perancis. Menteri Luar Negeri Belgia Louis Michel mengaku kecewa. Juru bicara Pemerintah Yunani Christos Protopappas mengatakan, bahaya bagi demokrasi dengan naiknya ekstrem kanan dan xenophobia.

Related Article